Menari bersama di acara Mandi-Mandi

Day 14: A Celebration/Festival

Beberapa orang gadis kecil berbaris rapi di sebuah jembatan kecil dengan kebaya putih dan rambut di kepang dua menyambut kedatangan kami di Kampung Tugu. Mereka tersenyum ramah menyambut seluruh rombongan yang akan mengikuti perayaan Mandi-Mandi di Kampung Tugu.

Kampung Tugu adalah sebuah nama kampung di daerah Semper, Jakarta Utara yang menjadi tempat tinggal keturunan para Portugis Hitam di Jakarta. Kaum Portugis Hitam atau Mardijkers adalah bekas tawanan perang atau prajurit Portugis, budak-budak dari bekas negara jajahan Portugis dan keturunannya yang dibawa oleh Belanda ke Batavia sekitar tahun 1660-an.

Kaum Portugis Hitam ini meskipun tidak murni berdarah Portugis, karena leluhur mereka sudah menikah dengan penduduk asli daerah jajahan Portugis, namun dalam kehidupan sehari-hari budaya Portugis masih sangat melekat. Termasuk pada keturunan yang hingga saat ini masih tersisa di Kampung Tugu ini.

Mengoleskan bedak dingin tanda memberi restu

Mengoleskan bedak dingin tanda memberi restu

Salah satu budaya Portugis yang masih tersisa di Kampung Tugu, selain keroncong Tugu yang sangat terkenal itu, adalah perayaan Mandi-Mandi; sebuah upacara perayaan tahun baru khas masyarakat Kampung Tugu. Perayaan Mandi-Mandi diadakan pada hari Minggu pertama setelah tahun baru. Tahun ini, upacara Mandi-Mandi jatuh pada tanggal 8 Januari 2017.




Rombongan kami menyusuri gang menuju rumah warga yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival Mandi-Mandi. Saat kami tiba, seorang pendeta sedang memimpin doa bersama, tak lama kemudian perwakilan dari keluarga tuan rumah memberikan kata sambutan, rangkaian acara terus berlanjut dengan sambutan-sambutan dari perwakilan tamu kehormatan, tahun ini kebetulan perayaan Mandi-Mandi dihadiri oleh mantan presiden pertama Timor Leste, Xanana Gusmao, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia, dan perwakilan masyarakat keturunan Portugis di Malaka.

Puncak acara perayaan Mandi-Mandi ditandai dengan seluruh tamu yang hadir berdiri dan saling mengoleskan bedak dingin ke muka tamu yang lain, diiringi sebuah lagu yang kata-kata awalnya adalah “Mande-mande….”. Olesan bedak dingin di muka ini menandai orang yang mengoleskan bedak sudah memaafkan orang yang diolesi, semacam memberikan ‘blessing‘ atau restu untuk menyambut tahun yang baru.

Saya bersama Xanana Gusmao

Bisa foto bareng sama mantan presiden Timor Leste

Sungguh suatu cara yang seru untuk menyambut tahun baru. Ini kali pertama saya ikut perayaan Mandi-Mandi, dan saya begitu berkesan dengan keramahan dan keseruan yang ditularkan para keturunan Portugis Hitam di Jakarta. Bersama lagu-lagu dari kelompok musik Keroncong Toegoe yang terus mengalir dari panggung sederhana di sebuah rumah di Kampung Tugu, kami terus menari dan mengoleskan bedak dingin ke muka satu sama lain.

Selamat Tahun Baru!

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan memberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.]

Share: