Pantai Karina di Kepulauan Togian

Day 13: Destination

Selesai berenang bersama ubur-ubur di Danau Mariona, tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Karina yang terletak kurang lebih hanya 10 menit naik kapal kecil. Begitu kapal yang naiki merepat di pasir Pantai Karina, kami bersepuluh segera melompat turun dan berlarian di atas pasir pantai yang begitu halus.

Beberapa dari kami segera berlari dan menyeburkan diri ke air laut yang bening, mencoba mencari spot snorkeling yang tidak begitu jauh dari pantai. Beberapa memilih untuk perfoto-foto di sudut yang lebih sepi. Saya memilih untuk menggelar kain pantai di bawah sebatang pohon kelapa, mengoles ulang tanning oil lalu tiduran sambi membaca buku.

Pasir pantai Karina ini lembut banget!

Pasir pantai Karina ini lembut banget!

Ditemani angin yang berhembus pelan, saya membuka novel Burung-Burung Manyar yang baru saya baca kembali setelah lebih dari 15 tahun yang lalu saya baca untuk pertama kali. Saya baru sampai di bagian Teto (tokoh utama laki-laki di novel itu) mengunjungi rumah Larasati di daerah Kramat, namun harus mendapati kenyataan bahwa perempuan yang diam-diam ia cintai itu ternyata sudah berpindah rumah.

“Berendam yuk!” Vindhya yang sedari tadi hanya duduk diantara saya dan Vidi membangunkan saya dari kantuk.




Saya menutup novel yang sepertinya tidak berubah halaman semenjak sepuluh menit yang lalu dan meletakkannya di atas tas, dan menyusul Vindhya dan Vidi berlari kecil ke arah laut.

Berendam sampai puas di pantai

Mau seharian main air kaya gini?

Bersantai di Pantai Karina ini sungguh menyenangkan. Tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami, pantainya berpasir putih lembut, ada beberapa bagian yang rindang ditutupi pohon kelapa. Air lautnya begitu jernih dan terasa segar, tanpa endapan lumpur seperti beberapa pantai di Pulau Jawa. Tak bosan-bosannya kami bermain di sana; berendam di air, mencoba mengambang menggunakan floaties, snorkeling, berfoto dengan gaya yang aneh-aneh, bercanda dan tertawa sampai perut rasanya kaku.

makan siang di pantai

Best lunch ever!

Sampai akhirnya tiba waktu makan siang, kami membuka bekal kami bawa dari Pulau Wakai. Ikan kakap merah bakar, sambal dabu-dabu, mie goreng dan nasi putih menu kami siang itu. Ikan kakap merah yang dimasak istri pemilik kapal yang kami sewa begitu segar, dan sambal dabu-dabunya… Beuh! ini sambal dabu-dabu terenak yang pernah saya makan! Perpaduan antara cabe rawit merah, tomat segar, irisan bawang merah, air jeruk nipis, dan sedikit gurih dari minyak kelapa asli, membuat kami berkali-kali menyendokkan nasi ke piring. Saat makan siang di pantai secantik Pantai Karina dengan menu selezat itu, diet bisa menunggu sampai liburan usai!

Kalau tidak ingat harus kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan, ingin rasanya kami berlama-lama di Pantai Karina. Selesai makan siang, kami segera mengemasi barang-barang bawaan dan kembali naik ke kapal, siap untuk melanjutkan perjalanan di Kepualauan Togean.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan memberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.]

Share: