Angkot Jurusan Terminal Baranangsiang - Cianjur

Day 12: Public Transportation

Saya punya love-hate relationship dengan salah satu moda transportasi umum di Indonesia yang bernama angkot.

Love, karena saya banyak terbantu oleh keberadaannya. Mau keluar kost jam berapa aja, di depan kost saya kebetulan ada rute angkot yang lewat 24 jam. Pulang jalan-jalan, sampai di bandara sudah hampir tengah malam pun ga masalah. Selama masih ada Damri dari bandara, ga perlu khawatir susah menuju rumah setelah sampai di Terminal Pasar Minggu. Rekor termalam, eh terpagi saya naik angkot adalah jam 02.00, saat nggak ada taksi yang lewat malah ada angkot yang menyelamatkan.

Hate, karena entah kenapa angkot itu susah banget patuh sama aturan, semaunya sendiri. Ngetem, ngebut, jalan pelan-pelan, balapan sama sesama angkot, rebutan penumpang, tiba-tiba nurunin kita di tengah jalan karena sopirnya mendadak dapet wangsit untuk puter balik, seenaknya nyuruh kita pindah ke angkot yang lain, dan lain-lain.

Waktu kuliah di Bandung, hampir setiap hari saya naik angkot. Dari rumah ke kampus saya harus dua kali naik angkot; angkot Gunung Batu – Stasiun Hall, turun di Jalan Wastukencana, disambung angkot Ciroyom – Ciburial. Pertanyaannya, saya kuliah di mana, hayo? Hehehe…

Yang unik dari angkot di Bandung, mobilnya kan kebanyakaan jenis Suzuki Carry, tapi sopir di sana selalu keukeuh bangku panjang yang di belakang sopir itu muat 7 (tujuh) orang, bangku yang sisi kiri untuk 5 (lima) orang, dan yang di dekat pintu hadap belakang, itu untuk 2 (dua) orang. Dan entah kenapa selalu muat. Apa karena orang Bandung langsing-langsing? Di Jakarta, untuk jenis angkot yang sama, paling banter yang di belakang sopir itu isinya 4 sampai 5 orang. Yang di kiri 3 hingga 4 orang, dan yang hadap belakang cuma 1 orang.

Kalau soal ngetem, saya menobatkan angkot (elf) jurusan Terminal Baranangsiang – Cianjur sebagai angkot dengan masa ngetem yang luarbiasa lama. Saya pernah pergi ke camping di Taman Mandalawangi, Cibodas naik angkot itu, dan butuh 9 (sembilan) jam saja dari Bogor ke Cibodas. Hampir 4.5 jam dihabiskan untuk ngetem, dan 4.5 untuk macet-macetan dari Ciawi ke Cibodas. Habis itu kapok ga mau lagi ke Cibodas naik angkot.

Tapi nggak semua angkot itu nyebelin, lho. Saya pernah dapat pengalaman naik angkot yang humanis banget waktu pulang dari Museum Angkut di Batu ke kota Malang. Pernah juga dimarahin sama kernet minibus di Klaten karena saya dia anggap membahayakan diri sendiri.

Ceritanya begini, sebagai perempuan yang udah biasa bergelantungan di atas Kopaja/Metromini di ibukota, sudah bukan hal yang aneh lagi kalau dua moda transportasi publik itu, hampir ga pernah benar-benar berhenti untuk nurunin penumpang. Palingan jalan pelan-pelan dan kernetnya akan teriak “kaki kiri dulu, kaaaaak!”

Suatu hari pas saya liburan ke rumah nenek di Klaten, saya jalan-jalan naik semacam minibus mirip Kopaja gitu. Pas udah deket rumah nenek, saya berdiri dari tempat duduk dan bilang ke kernet saya mau turun di perempatan RS Cakra. Kernet meminta saya duduk lagi, tapi saya diam saja dan tetap berdiri di dekat pintu depan. Kernet ada di pintu belakang.

Begitu minibus mendekati perempatan dan sudah pelan-pelan banget jalannya, tapi belum berhenti, saya melompat turun. Kaki kiri duluan tentu saja, dan saya santai aja kaya lagi turun dari Kopaja di Jakarta. Sedetik kemudian, minibus ngerem dan kernet meloncat turun lalu menghampiri saya dengan sedikit marah,

“Nek ameh golek cilaka, ra sah numpak bus ku, Mbak! Bus durung mandek kok wis mlumpat, nek sampeyan tibo, sapa sing ameh nambakke?”

(Kalau mau cari celaka, ga usah naik bus saya, Mbak! Bus belum sepenuhnya berhenti kok sudah lompat duluan, memangnya kalau kamu celaka siapa yang mau ngobatin?)

Saya berdiri diam, bengong. Antara kaget karena dimarahin, tapi juga senang karena tahu ternyata masih ada kernet bus yang sangat memperhatikan keselamatan penumpang.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan memberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.]

Share: