Day 7: Favorite Food

Saya tak pernah ingat sejak kapan saya tergila-gila pada semangkuk soto ayam. Mungkin semua berawal dari saat saya balita. Mama terbiasa menyuapi anak-anaknya dengan nasi yang dicampur masakan sayur berkuah, semata-mata agar ia tak perlu memasak nasi tim atau bubur untuk kami anak-anaknya.

Salah satu kenangan makan soto ayam sewaktu saya kecil yang masih saya ingat sampai sekarang adalah saat saya liburan ke rumah Mama In, budhe saya, di Sragen. Waktu itu saya berusia sekitar 5 tahun. Saya dibawa liburan ke Sragen sendirian, tanpa ditemani orangtua ataupun saudara saya yang lain. Sore itu saya tiba di rumah Mama In dalam keadaan sangat lemas karena saya mabuk darat sepanjang perjalanan Klaten sampai Sragen.

Ya, waktu kecil penyakit mabuk darat saya sangat parah. Walaupun sudah diminumi obat anti mabuk sebelum berangkat, tetap saja saya akan pusing, mual, dan akhirnya memuntahkan seluruh isi perut setelah bebarapa waktu berada di dalam kendaraan yang bergerak.

Mama In, setelah mengganti baju yang beraroma campur aduk yang saya kenakan dan mengelap badan saya dengan air hangat, membawa saya ke sebuah warung soto yang ada di samping rumahnya. Warung itu berukuran kecil saja, berdinding anyaman bambu dengan terasnya juga terbuat dari susunan bambu panjang yang melintang di atas selokan kecil.

Soto Ayam Pak Man

Soto Ayam Pak Man




Ibu pemilik warung menyambut kami dengan ramah. Setelah berbasa-basi sedikit dengan Mama In, ia lalu meracik semangkuk nasi dengan soto ayam untuk saya. Ibu pemilik warung itu lalu menyuapi saya dengan semangkok nasi soto ayam. Kok bukan Mama In yang nyuapin? Karena mama saya yang satu itu jagonya nyetir mobil dan benerin mesin mobil yang rusak. Yes, she’s that awesome!

Bersendok-sendok nasi bercampur kuah hangat soto berwarna kuning dengan topping suwiran daging ayam kampung, irisan halus kol dan toge perlahan mengisi dan menghangatkan perut saya. Saya bisa merasakan pipi saya mulai bersemu merah jambu, pandangan mata tak lagi berkunang-kunang seperti saat turun dari mobil tadi, dan boneka beruang yang tadi dipinjamkan Mbak Kunti, kakak sepupu saya, terasa semakin halus ketika saya peluk.

Sejak itu, setiap kali mabuk darat ketika bepergian dengan orang tua saya, saya selalu merindukan warung soto kecil di samping rumah Mama In.

***

Beruntungnya saya, soto ayam adalah salah satu makanan yang dapat dengan mudah dijumpai di Indonesia. Hampir setiap daerah punya soto dengan ciri khasnya masing-masing. Dari semua soto yang ada di Indonesia, favorit saya adalah soto lamongan. Soto ayam berkuah kuning tanpa santan, dengan irisan daging ayam kampung nan gurih dan taburan bubuk koya yang berlimpah. Tambahkan dua sendok sambal cabai rawit, beuuuuh.. jangan harap saya mau mengangkat pandangan dari mangkok di depan mata.

soto lamongan

Soto favorit saya; soto lamongan pakai koya yang berlimpah

Tahun baru kemarin ketika liburan di Jogja, saya sampai bela-belain mencari sebuah warung soto yang terkenal banget di daerah Kotagede; Soto Kemasan. Dengan dibantu driver ojek online, saya mencari warung soto yang katanya ada di daerah Wirokerten, Banguntapan itu. Pas udah ketemu warungnya, ternyata tutup!

*nangis di bahu Kang Ojek*

Sepanjang jalan kembali dari Soto Kemasan ke penginapan, saya terlibat pembicaraan soto yang sangat seru dengan Pak Ratno, pengemudi ojek online yang menemani saya berkeliling Jogja demi semangkuk Soto Kemasan yang bikin penasaran itu. Pak Ratno menanyakan kepada saya yang menobatkan diri sebagai penggemar soto nomor satu se-Indonesia ini.

“Mbak tahu kan di Jogja ini buanyaaak buangeet warung soto. Hampir setiap ada perempatan ada warung sotonya, tapi kenapa nggak ada makanan bernama soto jogja, Mbak? Ada soto lamongan, ada soto medan, ada soto madura, ada soto bandung, ada soto betawi. Tapi belum pernah denger ada soto jogja, ‘kan?”

Saya terdiam. Iya, juga ya… seumur hidup sering banget makan soto di Jogja, saya belum pernah denger ada orang nyebut menu soto jogja. Motor kami berhenti di sebuah lampu merah. Saya menyerah dengan pertanyaan dari Pak Ratno. Ia lalu menjawab sendiri pertanyaan itu,

“Karena, Mbak… Jogja itu ibaratnya mangkok bagi soto-soto di seluruh Indonesia. Kami rela nggak punya soto sendiri, asalkan soto-soto di Indonesia itu rukun semua. Rakyat Indonesia ga berantem sendiri-sendiri. Gitu, Mbak…”

Lampu lalu lintas berubah hijau dan kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan. Ternyata soto tidak hanya enak dimakan, tapi penuh filosofi di mata Pak Ratno.

[Seorang teman menantang saya untuk melakukan 28-Days Writing Challenge di blog ini. Aturannya sederhana; setiap hari dia akan memberikan sebuah tema dan saya harus menulis sebuah tulisan pendek (tidak lebih dari 500 kata) dari tema tersebut.]

Share: