Gado-gado Direksi

Tidak banyak usaha makanan yang bisa bertahan melewati berbagai jaman dan gerusan waktu. Beberapa hanya bertahan sekali putaran bumi mengelilingi matahari, beberapa sanggup bertahan mendekati bilangan satu dekade. Tak sedikit yang harus berguguran meski belum berusia satu tahun. Yang bertahan hingga puluhan tahun bisa jadi bukan usaha yang berlokasi di tempat mewah.

Dua dari sedikit tempat kuliner yang bisa bertahan hingga puluhan tahun antara lain adalah warung Kopi Es Tak Kie dan Gado-gado Direksi. Kedua warung ini terletak di bilangan Gang Gloria, Glodok, Jakarta Pusat. Keduanya tidak dalam posisi yang bersebelahan, namun masih bisa dikunjungi dalam satu kali jalan.

Untuk mengunjungi Gang Gloria, akan lebih nyaman jika mengunakan transportasi umum seperti bus Trans Jakarta, kereta commuter line, atau aneka sarana transportasi daring. Jika naik bus Trans Jakarta atau commuter line, kita bisa turun di halte atau stasiun Jakarta Kota, kemudian berjalan berbalik arah ke arah Glodok sekitar 10 menit, langsung belok kanan masuk ke Gang Gloria. Datanglah sebelum jam makan siang, agar masih kebagian makanan dan minuman yang diinginkan.

Warung Kopi Es Tak Kie

Pagi itu saya tiba di warung Kopi Es meja Tak Kie sekitar pukul 09.00, waktu semua orang menginginkan sarapan di hari Minggu, oleh karena itu warung terlihat penuh sesak. Hanya tersisa meja nomor 3, meja di sisi kiri warung. Beberapa detik setelah saya duduk seorang pelayan perempuan menghampiri dan menanyakan pesanan. Dengan cekatan ia mencatat pesanan saya dan tak lama segelas es kopi susu ia hidangkan di meja.




Warung kopi es tak kie

Minggu pagi di Tak Kie

Saya menghampiri meja kasir karena tertarik dengan tumpukan roti Japanese Cotton Bread yang berjajar di sana. Seorang lelaki tua yang menjaga meja kasir menyarankan saya untuk mencoba yang rasa keju. Belakangan saya ketahui ternyata kakek yang memperkenalkan diri sebagai Engkong Latief itu adalah penerus sekaligus pemilik dari Warung Kopi Es Tak Kie.

Sambil terus mengatur dan melayani pembayaran, Engkong Latief bercerita warung es ini dia warisi dari kakeknya yang memulai usaha sejak tahun 1927. Artinya tahun ini warung Kopi Es Tak Kie menginjak usia 90 tahun! Jauh lebih tua usia warung ini dibanding usia Republik Indonesia.

Es kopi susu

Es kopi susu di Kedai Tak Kie

Kali ini adalah kunjungan saya yang kelima kalinya ke Warung Kopi Es Tak Kie. Pada keempat kunjungan sebelumnya saya kurang beruntung; dua kali datang pada sore hari selewat pukul 14.00 saat warung memang sudah tutup, sekali datang pada saat memang warung tidak beroperasi, dan sekali saya datang pas warung penuh sekali dan teman jalan saya keberatan menunggu.

Ketika saya singgung tentang jam buka yang pendek, Engkong Latief menjawab sambil menatap lembut ke mata saya,

“Tidak baik hidup berlebihan, Nak. Carilah rejeki secukupnya; cukup untuk kamu hidup, cukup untuk menghidupi orang-orang yang membantumu…”

Nasi Campur di Warung Kopi Es Tak Kie

Ada yang mau nasi campur?

Mungkin filosofi itu pulalah yang mendasari Engkong Latief membolehkan makanan apapun dari pedagang di luar warung disantap di kedai kopinya yang selalu ramai itu. Sangat berbeda sekali dengan kedai kopi modern yang terkadang buka hingga 24 jam dan tentu saja, melarang membawa makanan dan minuman dari luar bagi pelanggannya.

Sesuai dengan namanya (Tak berarti orang sederhana, Kie berarti tempat yang akan selalu diingat) warung kopi es ini telah membuktikan kesederhanaan bisa melawan gerusan jaman.

Warung Kopi Es Tak Kie

Jl. Pintu Besar Selatan, Gg Gloria

Glodok – Jakarta Pusat

Harga minuman: IDR 15.000 – IDR 20.000

Harga makanan: IDR 12.000 – IDR 35.000

 

Gado-gado Direksi

Saya melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan dari papan tripleks berwarna biru yang menempel di sebuah tembok bangunan. Sekitar dua tahun lalu saya pernah makan di warung yang tidak saya sangka-sangka meskipun warungnya sederhana, menyajikan gado-gado terlezat se Jakarta.

Ketika mendekat ke pintu masuk betapa terkejutnya saya mendapati di dalam bangunan itu tidak ada lagi etalase berisi tumpukan sayur rebus, cobek besar dan keranjang plastik berisi cabe, terasi, asam jawa dan bawang putih. Etalase yang terpajang saat ini bertuliskan “WARTEG SINAR JAYA” dengan barisan masakan siap saji dalam deretan piring putih dan panci stainless steel.

Baru beberapa langkah saya mundur dari warung biru itu dengan kekecewaan batal merasakan kembali kelezatan Gado-gado direksi, sebuah suara sedikit cempreng menyapa dari belakang,

“Gado-gadonya pindah ke sana, Neng!”

Saya membalikkan badan dan mendapati wajah seorang ibu yang dua tahun lalu pernah saya jumpai, Ibu Atik. Saya tersenyum dan seperti terhipnotis mengikuti langkah kakinya menuju tempat baru Gado-gado Direksi yang terkenal itu.

“Jangan terlalu pedas, Bu Atik” pinta saya saat Bu Atik mulai meramu bumbu di atas cobek.

“Kalau gitu cabenya tiga aja, ya?” jawab Bu Atik sambil mengambil kembali 2 butir cabe rawit merah dari cobeknya.

Dengan cekatan ia kemudian mengulek bumbu gado-gado hingga halus, menambahkan rebusan kangkung, toge, kacang panjang dan labu siam ke dalam bumbu. Terakhir ia menambahkan potongan tahu kuning yang sudah digoreng ke dalam campuran gado-gado dan memindahkan seluruh isi cobek ke sebuah piring. Tangannya kemudian menaburkan bawang goreng, emping dan kerupuk udang sebelum menyerahkan piring itu kepada saya.

Gado-gado direksi Glodok

Bu Atik, menyajikan gado-gado sejak tahun 1980, sementara warungnya sudah sejah tahun 1967

Sepiring gado-gado yang saya nikmati pagi ini masih sama rasanya dengan sepiring gado-gado yang saya makan dua tahun yang lalu di warung bercat biru yang ada di sebelah. Ya, pastilah konsistensi rasa inilah yang membuat Warung Gado-gado Direksi masih tetap bertahan hingga saat ini.

Bu Atik mulai bekerja di warung gado-gado ini tahun 1980, sekitar 37 tahun yang lalu, saat seporsi gado-gado masih dihargai senilai dua puluh lima rupiah saja. Namun ternyata sejarah Warung Gado-gado direksi sudah dimulai jauh sebelum itu; pada tahun 1967 atau sekitar 50 yang lalu. Selama lima puluh tahun itu, warung pernah beberapa kali berpindah lokasi, meskipun masih di seputaran Gang Gloria. Namun demikian pelanggan tidak pernah berpaling, mereka tetap setia pada konsistensi rasa yang disajikan warung ini.

Gado-gado direksi

Sepiring hidangan praktis yang lezat!

Gado-Gado Direksi

Foodcourt Gang Gloria

Jl. Pintu Besar Selatan – Gg Gloria

Glodok, Jakarta Pusat

Harga gado-gado: IDR 32.000

Harga Lumpia goreng: IDR 5.000

Tulisan ini dibuat di Kelas Linkers Academy Batch 1 yang diadakan Majalah Linkers (in flight magazine maskapai Citilink) sebagai salah satu tugas.

Share: