Waktu ke Baduy pertama kali bulan November 2014 saya ga melihat penampakan sampah, baik di sepanjang jalan dari Ciboleger sampai Kampung Cibeo, maupun di dalam kampung-kampung suku Baduy sendiri. Malah bisa dibilang, dari pengalaman 2 malam menginap di kampung Baduy Luar dan Dalam itu, saya menyimpulkan mereka adalah orang-orang yang memang sangat menjaga kebersihan lingkungan.

Di setiap rumah suku Baduy pasti ada sebuah keranjang dari ayaman bambu yang yang diikat di tiang penyangga teras. Keranjang itu berfungsi sebagai tempat sampah. Sampah-sampah organik seperti sisa sayuran hijau yang mereka masak, akan langsung diberikan ke ayam peliharaan. Yang tidak bisa dimakan ayam, akan mereka buang ke ladang, dibiarkan membusuk hingga menjadi pupuk organik.

Suasana Kampung Baduy Dalam

Di setiap rumah di Kampung Cibeo, pasti ada tempat sampah di terasnya – Foto dari screencapture IG @nazketch

Untuk sisa makanan, selain sepertinya mereka jarang membuang sisa makanan karena selalu memasak hanya sesuai kebutuhan, kalaupun ada sisa makanan mereka akan kumpulkan dan diberikan ke ayam peliharaan ketika mencuci perkakas dapur di sungai.

Sebelum berangkat ke Baduy untuk kedua kalinya akhir pekan lalu (22 Januari 2017), saya menghubungi Mbak Dini, salah seorang teman pejalan yang sudah beberapa kali ke Baduy untuk nanya-nanya tentang kampung Baduy Dalam lain selain Kampung Cibeo. Di akhir percakapan kami via whatsapp, Mbak Dini titip satu pesan “Ti, nanti kalau ke Baduy, tolong kalau bisa sampah yang kamu buat, bawa kembali ke luar ya. Gw mulai khawatir nih dengan sampah di sana.”




Kampung Cibeo - Baduy Dalam

Semoga kampung Cibeo akan tetap bersih seperti ini.

Dari satu pesan itu, kami urung mengakhiri perbincangan. Obrolan berlanjut ke beberapa masalah seperti munculnya pedagang yang menetap di Kampung Cibeo, pergeseran perilaku jajan bocah-bocah Baduy Dalam, dan yang terakhir masalah tadi. Akhirnya, Mbak Dini bikin tulisan ini untuk menumpahkan unek-uneknya mengenai sampah di Baduy.

Pergi ke Baduy ini saya bertekad satu hal: sebisa mungkin semua sampah yang saya hasilkan akan saya bawa kembali, minimal sampai ke Cijahe atau lebih bagus lagi sampai ke Rangkasbitung. Kenapa? Untuk alasan yang mungkin sangat sederhana secara logika; di Cijahe atau di Rangkasbitung penanganan sampah akan lebih mudah.

Meskipun sudah bertekad seperti itu, dalam hati saya masih berharap apa yang di tulis Mbak Dini di blog-nya hanyalah kejadian sesaat pas dia kesana. Baduy ternyata masih bersih, sampah sudah ditangani dengan baik.

Sayangnya, kali ini saya harapan saya kandas.

Sampah di baduy

Ceceran sampah seperti ini, sering kali saya temui sepanjang Ciboleger – Kampung Cibeo

Di perjalanan dari Ciboleger menuju Kampung Cibeo beberapa kali saya melihat bungkus biskuit, permen, kue bolu berserakan di jalan setapak. Dan yang paling membuat hati saya patah, setelah melewati jembatan Kampung Gajebo, di pinggir sungai tempat biasa wisatawan berhenti untuk istirahat dan berfoto di jembatan itu, ada sebuah lobang di tanah, penuh berisi sampah plastik bekas kemasan makanan.

Sampah di Baduy Luar

Ini di Kampung Gajebo, Baduy Luar. Sedih ya lihatnya?

Mungkin saya judgmental sekali kalau bilang semua sampah ini karena wisatawan atau pengunjung. Namun sulit percaya sampah plastik sebanyak itu dihasilkan warga Baduy. Saya mengukur diri sendiri, untuk perjalanan ke Kampung Cibeo ini saya membawa bekal 1 botol Aqua ukuran 1.5 liter, 1 botol Aqua ukuran 600 ml, 2 botol Pocari Sweat ukuran 300 ml, 1 buah Teh Kotak, 1 susu cair kotak Diabetasol, dan 6 bungkus biskuit Malkist kemasan tunggal.

Bayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan jika ada 100 pengunjung di Kampung Cibeo yang membawa perbekalan seperti saya.

Cara paling gampang untuk menangani sampah di Baduy menurut saya adalah setiap pengunjung diwajibkan membawa kembali sampah yang mereka hasilkan minimal sampai di pintu-pintu masuk kawasan Baduy. Atau lebih baik lagi sampai Rangkasbitung, kan kalo udah sampai kota, Dinas Kebersihan akan lebih gampang menangani.

Saya sudah memulai dengan membawa semua sampah kemasan makanan yang saya bawa, sebagian saya buang di Cijahe, sebagian lagi saya buang di stasiun kereta api Rangkasbitung. Saya mengajak kamu untuk melakukan hal yang sama jika berkunjung ke Baduy.

Share: