Pagi itu sepertinya saya tamu Bhumi Hostel yang pertama bangun. Entah ini kebiasaan baik atau buruk, jam berapa pun saya pergi tidur pasti keesokan hari saya selalu terbangun pukul 6 pagi. Kalau di hari kerja saya masih bisa bermalas-malasan di tempat tidur hingga alarm pukul 7  berbunyi, tanda saya harus bangun dan bersiap-siap pergi kerja, justru pada saat liburan saya tidak butuh waktu lama untuk segera bangkit dari tempat tidur.

Kamar dormitory yang saya tempati berisi 3 tempat tidur tingkat, namun hanya ada tiga penghuni malam itu. Saya, seorang gadis asal Belanda yang saya tidak sempat berkenalan sebelumnya, dan Ima perempuan asal Jakarta yang liburan seorang diri juga. Saya berjingkat turun dari tempat tidur, tak ingin membuat suara ribut karena nampaknya mereka berdua masih tertidur lelap.

Bhumi Hostel Kotagede

Bhumi Hostel Kotagede

“Good morning!” saya menyapa Jack, salah satu orang yang menjalankan Bhumi Hostel. Jack tersenyum dan menjawab sapaan itu. Saya berlalu ke dapur untuk mengambil air putih. Bhumi Hostel ini menempati sebuah rumah lama yang dibangun tahun 1976, dari sanalah kesan ‘homey’ hostel ini sangat terasa. Menurut saya, menginap di sini tak terasa seperti sedang menginap di hostel, lebih terasa seperti menginap di rumah saudara.

Coffee and tea at Bhumi Hostel

Coffee and tea at Bhumi Hostel




Selesai minum segelas air putih saya membuat segelas teh manis hangat. Sambil menunggu sari teh larut di dalam air panas, yang membutuhkan waktu beberapa karena teh yang Bhumi Hostel sediakan adalah teh tabur bukan teh celup, saya duduk di ujung meja makan panjang. Sambil mengamati koleksi buku di perpustakaan mini di sudut ruangan. Ada banyak buku berbahasa Inggris, beberapa ada yang berbahasa Perancis, Belanda, dan beberapa dalam bahasa yang saya tak tahu bahasa apa. Mungkin kebanyakan dari buku ini adalah hasil swap dari tamu-tamu yang menginap di Bhumi Hostel.

buku hasil swap

Mau baca apa hari ini?

Dengan teh manis hangat di tangan saya beranjak ke teras depan. Saya menurunkan satu kursi dari atas meja dan duduk menghadap ke taman di samping hostel. Luas taman itu sendiri sepertinya hampir sepertiga dari luas tanah Bhumi Hostel, ditanami berbagai macam sayuran dan bumbu-bumbu organik yang terkadang diolah menjadi sarapan pagi di Bhumi Hostel.

Perlahan saya menyesap teh manis hangat yang tadi saya buat. Hmmm… teh melati khas Jawa Tengah, favorit saya.

Teras Bhumi Hostel

Dari teras ini kita bisa menyesap secangkir teh sambil lihat kebun hijau.

Jaani, anjing betina yang ada di Bhumi Hostel tidur di bawah meja yang saya tempati. Ia nampak tak peduli dengan kehadiran saya di atas tempat tidur kesukaannya.

“Jaani… Jaaniii…” saya berbisik ke bawah meja. Jaani hanya mengangkat kepalanya sebentar, memandang muka saya selama tiga detik, lalu kembali menyandarkan mukanya di kaki depannya yang terjulur.

Sebuah kepala anjing berwarna hitam putih mengintip malu-malu dari balik rimbun tanaman pandan di sudut kebun. Scotty, anjing jantan berusia sekitar 5 tahun yang cenderung takut dengan manusia. Baik Jaani maupun Scotty keduanya diambil dari sebuah shelter hewan dan menjadi salah satu penghuni tetap Bhumi Hostel. Selain kedua anjing itu, ada juga 2 ekor kucing di Bhumi Hostel, yang karena saya bukan pecinta kucing, jadi maafkan jika saya lupa nama kedua kucing tersebut.

Dining room bhumi hostel

Entah berapa cerita dari berbagai belahan dunia telah dibagi di ruang ini.

Bagi saya, menginap di Bhumi Hostel ini sungguh menyenangkan. Selain kamar yang bersih dan nyaman, seluruh bagian hostel ini juga terjaga kebersihannya. Kamar mandi dengan air hangat, teh, kopi dan air putih selalu tersedia, ada dapur dan ruang makan yang nyaman. Mau jalan kaki ke tempat-tempat menarik di seputar Kotagede pun bisa. Mau menuju pusat kota Jogkarta? Ada halte Trans Jogja tidak jauh dari sana.

Namun di atas segalanya, yang paling membuat nyaman tinggal di Bhumi Hostel adalah keramahan orang-orang di sana. They’ll make you feel ‘tinggal di Bhumi’.

Share: