Kaki kanan saya mulai memanjat “tangga besi” pertama di dinding tebing itu. Pada langkah kedua saya menyadari, panjat tebing kali ini tak akan lebih mudah dari kali pertama dulu. Pertama kali ikutan manjat Tebing Parang bareng Skywalker Via Ferrata, saya manjat tanpa membawa beban apapun. Sekarang, tas ransel berisi 2.7 liter air minum (seberat 2.7 kilogram), satu pasang baju ganti dan beberapa cemilan memberati punggung.

Kedua, kali ini saya harus memanjat setinggi 300 meter, dua kali lipat tingginya dari yang pertama kali. Pengalaman sudah pernah via ferrata-an sebelumnya sungguh tidak banyak membantu kalau kamu ga pernah malas olahraga sebelumnya. Ditambah lagi kalau kamu mirip saya; hobinya ngemil sambil mainan socmed.

Bhay.

manjat via ferrata

Baru beberapa meter meninggalkan permukaan tanah. Kami belum tahu apa yang akan kami hadapi 300 meter ke atas.

Dee, teman yang duluan manjat sudah jauh meninggalkan saya. Ayiek, Tiya, Mercy, dan Anggie hanya berjarak beberapa anak tangga di bawah kaki saya. Kinan, teman kuliah yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertemu, dan begitu ketemu langsung saya ‘jebak’ ikutan panjat tebing 300 meter, berada di paling belakang. Napas saya semakin ngos-ngosan, sementara 1/3 perjalanan saja belum sampai sepertinya. Tidak ingin memperlambat Ayiek, saya mempersilakannya untuk mendahului saya. Tak lama kemudian, saya kembali mempersilakan Mercy, Anggie dan Tiya untuk duluan.




Kinan masih jauh di belakang, saya kembali perlahan-lahan menapaki anak tangga besi. Sendirian, sambil terus berharap cat di tangga besi segera berubah dari hijau tua menjadi putih; tanda perjalanan naik sudah di tengah-tengah. Tapi saya tahu, perjalanan sampai titik tengah pun masih jauh. Setelah 2 bongkah kecil cokelat dan beberapa teguk air, mengangkat beban tubuh sedikit terasa lebih enteng. Sayup-sayup terdengar Dee, Ayiek, Tiya, Mercy dan Anggie tertawa cekikikan di atas. I think they’re taking dozens of selfies up there.

Ketika akhirnya saya sampai di titik setengah perjalanan, saya memutuskan berhenti sejenak. Di titik ini jalur pemanjatan bercabang 2, satu ke puncak Tower 3 Gunung Parang, dan satu lagi menuju titik turun. Saya putuskan untuk menunggu Kinan dan naik bersama-sama.

jalur via ferrata

40 lebih anak tangga dan saya tidak punya pilihan lain selain naik.

Seratus lima puluh meter yang kedua, saya pikir jalur pemanjatan akan lebih mudah. Ternyata tidak. Selain fisik yang semakin lelah, di beberapa titik, kesabaran semakin diuji dengan jalur yang semakin menantang. Ada satu dinding vertikal dengan yang memaksa kita memanjat kurang lebih 40 anak tangga non stop, ada jalur yang kawat bajanya terus-menerus ada di sebelah kiri badan (percayalah, ini masalah besar bagi orang yang tidak kidal), ada jalur dengan tangga besi yang ukurannya tiba-tiba menyusut jadi 1/3 ukuran normal.

Di sini, punya teman yang bisa membuat keadaan susah jadi lelucon, itu penting banget. Daripada menggerutu tentang susahnya napak di tangga kecil, kami malah berkomentar;

“Gw rasa pas udah sampai sini, ternyata besinya kurang, jadi dibikin kecil-kecil….”

“Iyaaa, toko besi jauh soalnya kan!”

“Atau mereka emang pengen hidup kita susah aja sih…”

Nggak sih, saya sih yakin pasti Skywalker Via Ferrata punya alasan untuk memasang besi pijakan sekecil itu. Mungkin alasannya biar yang main panjat-panjatan agak ngerasain sedikit susah. *teuteup* Beberapa kali saya memastikan Kinan yang berada di bawah saya masih baik-baik saja. Tinggal kami berdua yang tersisa dari rombongan awal. Sisa rombongan lainnya berjarak lumayan jauh di bawah.

via ferrata 150 meter

Kinan di sekitar ketinggian 170 meter

“Kinan, semangaaaat! Kayanya sih kita tinggal 100an meter lagi nih sampai puncak.”

“Ayo, Naaan… 75 meter nih!”

“Gw yakin ini kurang dari 50 meter lagiiii…”

Saya terus menyemangati Kinan, tapi dalam hati saya sendiri ragu, entah siapa yang lebih membutuhkan dorongan semangat; Kinan atau diri sendiri.

Ketika akhirnya saya mencapai anak tangga besi terakhir, perasaan saya campur aduk; ada lega, ada capek, ada bangga, ada terharu. Setelah mengikat tali kuning yang terikat di sebuah pohon ke pergelangan tangan kiri, saya melepaskan kaitan lanyard dari tambang baja di tebing. Jam 16.35, tepat 2 jam waktu yang saya butuhkan untuk mencapai puncak Tower 3 Gunung Parang.

I can’t believe i just climb a 300 meters high cliff!

Kalau ada yang nanya, ngapain sih sampai via ferrata-an sampai 2 kali dalam jangka waktu sebulan? Jawabannya, saya penasaran. Setelah nyobain yang 150 meter dan ternyata baik-baik saja, saya penasaran gimana rasanya manjat vertikal 300 meter dan pemandangan seperti apa yang terlihat dari salah satu puncak Gunung Parang.

Sayangnya, kemarin pas saya camping itu kan lagi awal musim hujan. Sekitar pukul 20.00 turun hujan rintik-rintik. Kelelahan dan kekenyangan, saya dan Kinan masuk tenda duluan dan langsung tidur. Sekitar tengah malam saya terbangun oleh suara hujan yang makin deras dan air hujan yang masuk ke dalam tenda. Rupanya, kami tertidur dan lupa menutup resleting pintu tenda. Entah siapa berbaik hati menutupkan resleting pintu, tapi cuma bagian yang vertikal saja. Jadilah air hujan masuk dari resleting horizontal yang ada di bagian bawah mulut tenda.

camping ground skywalker

Camping ground Skywalker Via Ferrata di Tower 3 Gunung Parang

Alhasil, saya tengah malem ngepel pojokan tenda yang tergenang air hujan.

*cubit-cubit Dee yang ga bangun waktu dibilang air hujan masuk tenda*

Keesokan harinya, setelah sarapan dan bengong-bengong lihat pemandangan matahari terbit, kami bersiap turun. Awalnya saya optimis perjalanan akan lebih mudah dari pada naik. Come on, naik kan butuh tenaga banyak untuk ngangkat tubuh di setiap pijakan anak tangga, belum lagi musti bawa beban air minum dan lain-lain.

Puncak Gunung Parang Purwakarta

Pemandangan dari puncak Tower 3 Gunung Parang

Tapi ternyata, Saudara-saudara… saya salah besar!

Manjat tebing memang butuh tenaga besar, tapi turun dari tebing dengan cara mundur dan menapaki tangga besi satu persatu itu butuh lebih banyak hal; keberanian, kesabaran, dan kehati-hatian. Apalagi karena semalem hujan, tangga besinya lumayan licin, belum lagi tanah liat yang menempel di sepatu membuat setiap langkah turun terasa makin menguji keberanian.

Setiap sepatu bergeser dari pijakan besi itu, ga ada yang ngalahin sensasi deg-degannya!

Kalau pas majat saya punya mantra yang saya ucapkan terus menerus dalam hati “musti sampai ke bendera itu…” (ke bendera yang ada di puncak), pas turun saya nggak sabar untuk segera sampai di gua tempat proses rappelling di mulai. Dikerek dari ketinggian 150 meter jauh lebih tidak menyeramkan dibanding turun tangga satu persatu sambil mundur. Serius!

via ferrata 300 meter

On my way down from Tower 3 Gunung Parang.

Baru aja mikir nanti rappelling bakalan lebih gampang, hujan turun. Pertama cuma gerimis-gerimis lucu pas kami istirahat di gua sambil nunggu tali rappelling-nya disiapin. Lalu gerimisnya jadi lumayan gede. Dee turun duluan, disusul Tiya. Pas giliran Ayiek, hujan mulai turun. Saya dan Kinan nunggu di gua terakhir sambil pasrah melihat hujan yang makin deras.

Saya begitu takut dan khawatir melihat derasnya hujan, dan saya musti melewatinya dengan bergelantungan di seutas tali, diketinggian 120-an meter. Waktu dikerek turun pertama kali dulu, meski takut tapi saya menikmati excitement yang muncul selama proses rappelling. Kali ini saya benar-benar takut.

Selain hujan yang mengguyur badan, sepanjang jalur turun itu bisa dikatakan berubah menjadi air terjun mini. Sia-sia saya berusaha menjejakkan kaki dengan mantap ke dinding batu. Terpeleset, kaki menekuk, badan terus menerus menempel ke dinding.

“Kakinya tegakiiiiiinnn, bahu tarik ke belakaaaaang” entah berapa kali perintah seperti itu diteriakkan oleh Sky.

Saya mau coba jawab “nggak bisaaaaaa” tapi saya bahkan sudah nggak punya tenaga untuk membuka mulut. So i just try my best to do what he said, but failed, and failed again. Waktu akhirnya menginjak tanah kembali, saya lega luar biasa. Kapok nggak via ferrata-an karena pengalaman ini? Nggak, sama sekali nggak. Kalau ada yang ngajakin lagi, saya mau lagi.

Because the most memorable days usually end with the dirtiest clothes

Denger-denger dari Kak Rere yang kemarin via ferrata-an, Skywalker lagi nyiapin jalur rappelling dari ketinggian 300 meter alias dari puncak Tower 3 Gunung Parang. Aaaaakk… pasti menyenangkan menegangkan banget dikerek-kerek dari ketinggian 300 meter itu. Jalurnya bakalan siap Februari 2017. Saya sih langsung mendaftarkan diri untuk nyobain (lagi) naik sampai puncak. Kamu mau ikutan?

Share: