Ninik Ichsan; Pelestari Batik Cirebonan

Ninik Ichsan; Pelestari Batik Cirebonan

“Whaaaa…. saudara mu Ibu Ninik Ichsan yang itu, Kak Chicko?!?!” tanya saya setengah tak percaya ketika mobil kami memasuki sebuah rumah berhalaman luas di daerah Trusmi Barat.

“Kamu tahu Bu Ninik Ichsan?” Chicko balik bertanya.

“Tau dooong!” jawab saya dengan excited sambil melompat turun dari kursi penumpang.

Saya ‘mengenal’ nama Ibu Ninik Ichsan pertama kali lewat sebuah tulisan di sebuah buku perjalanan. Di tulisan tersebut si penulis menggambarkan sosok Ibu Ninik Ichsan sebagai perempuan keibuan lemah lembut namun memiliki semangat membara untuk melestarikan batik tulis Cirebonan. Ibu Ninik Ichsan konsisten hanya memproduksi kain batik tulis halus, yang pembuatannya melibatkan lilin, canting, dan proses pewarnaan alami. Ia menolak memproduksi kain batik printing.

gallery batik ninik ichsan
Ada tiga dinding penuh koleksi batik sperti ini di Gallery Batik Ibu Ninik Ichsan

Chicko membuka pintu ruangan berukuran kurang lebih 10×5 meter itu, menghampiri lalu mencium tangan seorang perempuan paruh baya yang duduk di sudut ruangan. Ia lalu memperkenalkan kami bertiga; saya, Tami, dan Bernard kepada perempuan itu yang ternyata adalah Ibu Ninik Ichsan.

“Teman-teman mau lihat workshop di belakang, masih ada yang kerja ga ya, Bu?”

“Masih, tapi kalian harus buru-buru, jam empat mereka bubar…”

workshop batik Ibu Ninik Ichsan
Suasana workshop batik Ibu Ninik Ichsan

Di workshop yang terletak di bagian belakang gallery Ibu Ninik Ichsan, tiga kelompok perempuan duduk mengelilingi sebuah kompor dengan wajan berisi ‘malam’ atau lilin cair yang mengepul. Dua kelompok terdiri dari 3 orang perempuan berusia rata-rata 40 tahun. Satu kelompok yang berjumlah lebih besar, 6 orang, dan berusia lebih muda duduk mengelilingi 2 buah kompor. Tangan mereka tak henti-hentinya mengambil “malam’ atau lilin cair dari atas wajan dengan canting yang ada di tangan mereka, meniup ujung canting itu, lalu menggoreskannya di atas selembar kain putih yang sudah digambari motif dengan pensil.

Para pengrajin batik tulis
Salah satu pengrajin batik tulis sedang mengerjakan batik setengah jadi

Setiap kelompok memiliki ‘tugas’ masing-masing. Ada yang menggambar outline dengan malam, ada yang mengisi bagian dalam outline atau yang sering disebut dengan isen-isen, ada bagian yang menggambar latar belakang gambar motif.

Cara mengoleskan lilin ke kain adalah salah satu aktifitas yang membedakan sebuah batik bisa disebut sebagai batik tulis, batik cap, atau sekedar kain bermotif batik (batik printing). Namun sesungguhnya proses ini hanyalah satu bagian dari sebuah proses panjang yang disebut membatik. Sebelum dilukis dengan lilin, ada proses menyalin gambar/pola atau yang biasa disebut ‘molani’. Dan setelahnya ada proses pencelupan warna, lalu ‘nglorot’ atau meluruhkan sisa zat pewarna dan lilin dari kain batik. Semakin banyak warna yang terdapat dalam satu pola kain batik, maka proses melukis dengan malam, nyelup, dan nglorot akan semakin banyak diulang.

canting batik
Goresan canting di atas kain.

Itulah sebabnya sehelai kain batik tulis bisa dikerjakan antara 1 hingga 6 bulan per lembarnya. Dibutuhkan ketelitian dan kerja keras yang luar biasa untuk membuat sehelai kain batik tulis. Makanya menurut saya sangat wajar jika selembar kain batik tulis berukuran 1.15 x 2 meter bisa dihargai jutaan rupiah.

Di gallery batik Ibu Ninik Ichsan kita bisa mendapati aneka jenis batik tulis, baik dari jenis kain yang digunakan, teknik pewarnaan, motif, juga harga. Mahal dan murahnya suatu kain batik tulis sangat tergantung dengan jenis kain yang digunakan dan kerumitan proses pembuatannya. Contohnya, untuk batik tulis motif mega mendung khas Cirebon, ada selembar kain batik ini dengan harga IDr 4.750.000 karena gradasi awannya sampai 9 warna; dari warna oranye yang paling tua, sampai warna oranye muda yang hampir ke arah putih.

Batik Ninik Ichsan
Koleksi batik Ibu Ninik Ichsan, yang kiri Rp 3.5 juta yang kanan Rp 4.75 juta

Saya tidak bisa membayangkan berapa kali proses pewarnaan yang harus dilalui untuk selembar kain dengan 9 gradasi warna seperti itu.

Kudos untuk Ibu Ninik Ichsan dan para pengrajin batik tulis binaannya. Kerja keras mereka untuk tetap menjaga salah satu warisan budaya bangsa sungguh layak untuk dihargai.

canting batik tulis
Ssssstt… Ini cuma “acting” mainin canting kosong di atas kain. Ibu Pengrajin Batik ga mau mahakaryanya saya rsak, hihi..

 

 

2 Comment

  1. Wah batikNya bagus-bagus ya,, proses pengerjaanya juga Ibu-ibu cekatan banget….

  2. melihat proses pebuatan batik ini saya menjadi ingin blajar membuat batik sendiri

Leave a Reply