Kepulauan Riau

Kapal cepat “Marina” yang saya tumpangi melaju cepat di perairan Kepulauan Riau. Beberapa kali lambung kapal menghantam ombak yang cukup tinggi. Semenjak meninggalkan Pelabuhan Punggur di Batam, awan kelabu memang menggantung di langit. Sambil memandang ke luar jendela kapal, saya berdoa semoga sisa hari di Tanjung Pinang nanti cerah.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Ketika merencanakan jalan-jalan ini, saya bahkan tidak berniat untuk ke kota ini. Rencana awalnya; saya punya tiket pesawat PP Jakarta – Batam, mau nyobain ke Singapur naik ferry, week end-an di sana, terus pulang lagi ke Jakarta.

Informasi dari Kak Danan bahwa di tanggal yang sama dengan tiket yang saya miliki ada event Festival Bahari Kepri menggoda saya untuk membelokkan tujuan. Yang awalnya mau week-end an di Singapur, jadi gabung dengan rombongan Blogger Kepri ke acara yang juga merupakan rangkaian Sail Karimata 2016.

Parade Kostum

Parade Kostum

Kesan pertama saya saat merapat di Pelabuhan Sri Bintan Pura, saya melihat kota Tanjung Pinang ini bersih banget. Meskipun Tanjung Pinang adalah ibukota Propinsi Kepulauan Riau, ternyata kotanya tidak terlalu besar. Saya menangkap kesan, penduduk kota ini sepertinya saling mengenal satu sama lain. Akrab dan menyenangkan, gitu.




Dari Pelabuhan Sri Bintan, saya dan Teh Lina W Sasmita naik angkot menuju Hotel Comfort. Lucunya, sepertinya tak ada rute tertentu angkot di kota ini. Kami hanya dipesan untuk bilang “Batu 10” ke angkot yang kami temui, untuk menunjukkan alamat yang kami tuju. Rupanya “Batu 10” itu maksudnya daerah Batu kilometer 10.

Di Hotel Comfort, kami bergabung dengan rombongan Blogger Kepri lainnya yang sudah duluan tiba di Tanjung Pinang. Ada Bang Fadli, Bang Mua, Uni Ana, Soleh, dan Mbak Dee. Sebagai orang yang baru pertama kali main ke Kepulauan Riau, saya seneng banget bisa dapat banyak informasi tentang kepulauan ini. Dari mulai pulau-pulau cantik yang ada di sana seperti Pulau Anambas, Natuna, Lingga, Penyengat yang selama ini namanya hanya pernah saya dengar sekilas, sampai ke makan-makanan khas di Kepulauan Riau.

Kalau kalian main ke Tanjung Pinang selain wajib nyobain gonggong, jangan lupa cicipi otak-otak dan Mie Tarempa, ya! You can thanks me later.

Gedung Gonggong di Malam Hari

Gedung Gonggong di Malam Hari

Dalam rangka Festival Bahari Kepri yang juga satu rangkaian dengan penutupan Sail Karimata 2016, kota Tanjung Pinang banyak berbenah diri. Salah satunya dengan diresmikannya gedung Tourism Information Center yang baru yang lebih terkenal dengan nama Gedung Gonggong. Kenapa disebut Gedung Gonggong? Ya karena bentuknya mirip gonggong. Hihihi…

Nantinya, Gedung Gonggong ini akan berfungsi sebagai pusat informasi pariwisata Kepulauan Riau. Sayangnya, karena belum dibuka untuk umum, saya ga bisa masuk ke dalam Gedung Gonggong dan melihat ada apa aja di dalamnya.

Tidak bisa masuk ke dalam Gedung Gonggong bukan berarti keseruan Festival Bahari Kepri berkurang. Hari itu masih banyak hal lain yang bisa dilihat. Sekitar pukul 16.00 sore, kami dikejutkan dengan penampilan sekelompok orang ber-paramotor. Ini pertama kalinya juga saya melihat atraksi paramotor. Seru banget lihat belasan orang terbang berputar-putar di atas perairan Pelabuhan Sri Bintan. Warga Tanjung Pinang pun antusias melihat sepanjang tepi laut.

Tarian Melayu di Festival Budaya Kepri

Tarian Melayu di Festival Budaya Kepri (Foto: Indonesia.Travel)

Tak lama kemudian acara dilanjutkan dengan Orkestra Senja dan Musikalisasi Puisi di Gedung Daerah Tanjung Pinang. Acara ini dibuka dengan atraksi terjun payung oleh 25 prajurit TNI yang mendarat di sebuah titik di tengah laut. Disambung dengan Samudra Ensamble membawakan beberapa lagu daerah Kepulauan Riau dengan musik dan lirik lagu yang sangat khas Melayu. Harus saya bilang, musik melayu ini asik banget untuk dibawa joget, sih. Saya beberapa kali harus menahan untuk tidak menggoyang-goyangkan bahu mengikuti irama. Bukannya apa-apa, malu aja lagi duduk gelesotan di rumput trus tiba-tiba goyang-goyang sendiri, ye kan?

Setelah itu tampil ratusan anak-anak dan remaja Kepulauan Riau membawakan tarian kolosal. Kostum yang dipakai para penari sungguh unik dan koreografi tariannya pun lumayan rumit, lho. Salut banget dengan penari-penari ini yang tetap bisa menguasai panggung dan menyelesaikan tarian dengan baik, meskipun beberapa tenpat di dekat panggung ada yang dipenuhi penonton.

Tarian Persembahan Pelajar Kepri

Tarian Persembahan Pelajar Kepri

Puncak dari perayaan Festival Bahari Kepri ini tentu saja adalah peresmian Gedung Gonggong. Gedung yang bentuk bangunannya sendiri sudah unik itu, makin cantik bermandikan cahaya dari lampu laser yang menyala berganti-ganti; merah-kuning-hijau-ungu-biru. Beberapa perkumpulan atau organisasi di Kepulauan Riau silih berganti tampil memeriahkan acara; dari mulai ibu-ibu dengan permainan angklung, hingga remaja dengan tari-tarian. Tak lama, giliran langit dan laut Tanjung Pinang yang bermandikan cahaya. Ada pesta kembang api dan juga parade kapal hias.

Parade Kapal Hias di Festival Bahari Kepri

Parade Kapal Hias di Festival Bahari Kepri

Sudah lewat jam 10.00 malam ketika acara puncak Festival Bahari Kepri berakhir. Saya yang memulai perjalanan dari pukul 07.00 pagi sudah lelah luar biasa. Tapi saya senang, perkenalan saya dengan Kepulauan Riau sungguh meriah. Semoga suatu hari nanti bisa kembali berkunjung ke Kepulauan Riau, dan tak hanya mengunjungi Tanjung Pinang atau Bintan saja, tapi ke pulau-pulau lainnya yang tak kalah menawan.

Share: