Ada sebuah meme mangatakan, kita yang terlahir di era 1980an dan tumbuh menjadi anak-anak atau remaja tahun 1990an adalah genarasi yang paling berbahagia. Kenapa? Karena kita masih mengalami asyiknya bermain, berlarian di tanah lapang, memainkan dolanan yang benar-benar nyata, bisa kita pegang wujudnya di tangan, tidak hanya berupa gambar virtual yang kita elus di permukaan ponsel atau gawai lainnya.

Ayo coba periksa kaki masing-masing! Saya yakin kita (dengan mengatakan kita, saya mengacu pada pembaca berumur blog ini yang lahir sebelum tahun 1995 ya. Sorry, Millenials!) pasti punya satu-dua bekas luka di kaki akibat terjatuh saat main gobak sodor alias galasin, ataupun dampu alias engklek. Kalaupun tidak ada bekas luka, kita pasti pernah punya kenangan lucu saat bermain dulu, entah itu benjut kena lemparan bola kasti, baju kesangkut kawat pagar saat main petak umpet, tangan terkilir akibat terlalu kencang main adu biji karet, sampai paha kanan robek karena jatuh di selokan.

Ups, yang terakhir itu kebandelan pengalaman saya sendiri. Meskipun luka-luka, jatuh bangun, berantem sama temen (trus 10 menit kemudian baikan lagi), permainan masa kecil jaman dulu itu menyenangkan banget. Dan tanpa terasa, permainan itu membawa kegembiraan bagi kita, sehingga kita bisa tumbuh jadi pribadi seperti sekarang ini.

Lomba Perahu Naga

Lomba Perahu Naga (Pics: Tracy Chong)




Saya tidak ingin mengatakan bahwa permainan digital itu ga bagus, ya! Terkadang saya sering terkagum-kagum dengan kemampuan ‘anak sekarang’ dalam menguasai teknologi. Sepertinya, mereka ini dikasih satu teknologi baru, bakalan mereka buat 10 teknologi yang jauh lebih canggih.

Siapa sangka, mengusai sebuah permainan, bisa menjadi awal prestasi kita, lho! Tidak harus permainan olahraga yang dipertandingkan di event olahraga besar, semisal bulutangkis, sepakbola, angkat berat, renang, loncat indah, dan lain-lain.

Pernah dengar tentang TAFISA Games?

Sama saya juga baru tahu tentang acara ini beberapa hari yang lalu, sebelum dapat undangan untuk lihat acara ini di Ancol, Jakarta Utara. TAFISA adalah kependekan dari The Association For International Sport for All, sebuah organisasi dunia yang salah satu kegiatannya mengadakan pertandingan untuk olahraga tradisional dan permainan rakyat.

Kalau menurut saya, tidak semua cabang olahraga yang dipertandingkan bersifat tradisional, sih. Mungkin biar gampangnya, TAFISA Games itu olimpiade untuk olahraga yang tidak umum dipertandingkan di event olahraga semacam SEA Games, Asian Games ataupun Olimpiade.

Volly Pantai

Ini Volly pantai atau Sepakbola Pantai? Apa ajalah, yang penting fun! (Pics: Tracy Chong)

Cabang olahraga yang dipertandingkan di TAFISA Games ini ‘lucu-lucu’, deh. Ada lomba barongsai, line dance, cheerleaders, skate boarding, BMX, parkour, air-soft gun, ice skating, street soccer, physical fitness, e-sport (lomba main games di komputer) sampai arm wrestling alias adu panco. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan venue satu lomba ke lomba lain lumayan jauh, saya cuma sempat lihat lomba physical fitness, skate boarding, dan arm wrestling yang cuma sekilas saja.

Ada satu hal yang menurut saya seru banget di TAFISA Games; Traditional Sport & Games Exhibition. Mengambil tempat di Ecopark Ancol, di sana kita bisa melihat aneka jenis permainan dan olahraga tradisional dari berbagai negara di dunia.

Komunitas Hong

Rame-rame main catur tradisional

Dari pameran ini kita bisa tahu, ternyata yang namanya permainan tradisional itu ya hampir-hampir mirip. Kaya di Jawa Tengah ada permainan yang namanya benthik (sepotong kayu kecil yang ditaruh di atas tanah berlubang, lalu dicukil dengan stik kayu yang lebih panjang, lalu saat si kayu melayang di udara kayu itu dipukul keras-keras dengan stik kayu hingga melayang di udara). Permainan semacam itu ternyata juga ada di Slovenia.

Siapa anak Indonesia yang belum pernah main kasti? Di Romania, ada permainan yang hampir mirip dengan permainan kasti, namanya Uena. Sama-sama pakai tongkat, sama sama mukul bola karet, sama-sama lari ke base. Cuma bedanya, anak-anak Romania nggak setega anak Indonesia yang main gebok lawan dengan bola karet sekuat tenaga ke badan kita. Hehehehe… Belum lagi kalau kita main ke pamerannya Komunitas Hong di TSG Exhibition ini. Kita bakal menemukan permainan-permainan catur dan engklek (dampu) dari berbagai penjuru dunia.

Gasing Malaysia

Gasing juga ada di Malaysia, lho!

Yuk, mulai sekarang kita seimbangkan porsi bermain gadget kita dengan bergerak di alam bebas. Ga perlu olah raga yang ribet-ribet atau mahal, main engklek selama sejam dengan anak atau keponakan dijamin sudah keringetan dan makin bahagia.

Mari bergerak, olahraga itu menyenangkan!

Share: