“Kalian mau ga manjat tebing di Purwakarta? Bukan panjat tebing yang pegangan ke batu gitu, ada pijakan besinya. Ga serem, kok!”

Kalimat ajakan itu saya sampaikan ke Onal dan Bulan di dalam angkot yang membawa kami pulang dari Taman Hutan Raya, suatu sore saat kami main ke Bandung. Setelah pagi harinya mereka termakan bujuk rayu saya untuk membatalkan agenda ke Curug Cimahi, sore harinya mereka terbujuk sekali lagi untuk ikutan ajakan sesat saya.

Keinginan untuk nyobain panjat tebing di Gunung Parang sebenernya udah dari awal tahun 2016 gara-gara lihat postingan orang di Instagram. Sayangnya, nyari temen yang mau diajakin nyobain agak susah. Rata-rata yang saya tawarin beralasan takut. Jadi begitu nemu 2 anak yang dengan sukarela mau diajak manjat-manjat, yo wis, langsung dijadiin aja.

Basecamp Skywalker Via Ferrata

Basecamp Skywalker Via Ferrata

Akhirnya berangkatlah kami berlima; saya, Bulan, Onal, ditambah Dee dan Elsa ke Gunung Parang. Persiapan outfit dan logistik yang sepertinya lebih matang daripada persiapan mental sempat bikin agak jiper sih. Apalagi pas udah masuk ke Kampung Cihuni dan Gunung Parang mulai kelihatan dengan gagahnya di sebelah kiri jalan.

“Kita nggak mau puter balik dan ke Bandung aja nih, Gaes?” kami berlima saling bergantian mengucapkan kalimat itu sepanjang perjalanan sampai ke Gunung Parang. Meski grogi-grogi takut, tapi tak ada satupun di antara kami yang mundur beneran. Setelah persiapan memakai peralatan lengkap, kami pun menuju lokasi pemanjatan.

Besta, salah seorang pemandu dari Skywalker Via Ferrata, memberikan briefing singkat sebelum kami mulai memanjat. Dari mulai peralatan yang digunakan, cara manjat dan cara menggunakan peralatannya, apa yang harus dilakukan jika mendapati ada jatuhan batu atau benda lainnya.

Dari briefing itu, pelan-pelan rasa takut untuk nyobain panjat tebing di Gunung Parang mulai hilang.  Pokoknya musti percaya sama peralatan yang dipakai, selama cara makainya bener. Untuk panjat tebing di Gunung Parang ini, kita wajib memakai safety equipment berupa; harness duduk, lanyard, dengan 2 buah carabiner.

Awal manjat Via Ferrata

The first step is the hardest

Kenapa carabiner-nya musti 2? Karena, carabiner ini wajib disangkutin di tambang baja yang ada di sepanjang rute panjat. Sementara si tambang baja itu setiap 3 hingga 5 meter sekali diikat ke patok. Artinya, kita harus melepaskan si carabiner dari tambang baja untuk terus dapat naik. Kalau cuma ada 1 carabiner, akan ada saat dimana kita ga terikat di tambang baja. Dengan 2 carabiner, bisa dipastikan kita akan selalu terikat di tambang baja, sekalipun yang satu kita lepas.

Manjat cagak besinya susah ga? Menurut saya, yang susah hanya 5 meter pertama aja, karena jarak cagak besinya agak berjauhan satu sama lain di awal pemanjatan. Butuh sedikit tenaga ekstra untuk ngangkat tubuh sendiri. Selepas itu sih, saya lancar-lancar aja manjatnya.

Lancar lho ya, bukan gampang, hehehe…

Puncak Gunung Parang

Yeay, KPJA berhasil panjat tebing Gunung Parang!

Namanya manjat tebing setinggi 125 meter (dengan lintasan sejauh 150 meter), pasti ada susahnya. Saya paling ngeri justru kalau harus bergerak horizontal. Kalau paling susah, saya lupa di ketinggian berapa, ada tebing vertikal yang agak miring ke arah tubuh kita, jadi untuk ngelewatinnya musti usaha banget ngangkat badan. Saking udah desperate ga bisa-bisa naik, saya sampai minta Dee untuk mendahului saya dan narik saya dari atas, plus Onal untuk dorong saya dari bawah.

Tapi rupanya, selama saya nunggu Dee naik melewati Onal dan saya, itu adalah waktu yang cukup untuk beristirahat. Pas Dee ngulurin tangan ke bawah, saya merasa kuat naik sendiri, dan ternyata memang bisa.

Sampai di akhir jalur pendakian 125 meter di atas permukaan tanah, ada 2 buah gua yang bisa dipakai untuk istirahat sambil nikmatin pemandangan Waduk Jatiluhur. Kalau berani, kita juga bisa nyobain portaledge; semacam kanopi yang dipasang di pinggir tebing.

portaledge

Ini di ketinggian 125 meter dari permukaan tanah lho, gaes!

Saya nyobain sama Bulan. Sensasi cagak kanopi bergesekan dengan tebing saat salah satu dari kami bergerak, sumpah itu ngeri-ngeri sedap! Saking takutnya, saya sampai disorientasi arah.

Mas Operator: “Mbak yang baju kuning geser sedikit ke tengah!”

Saya: “Ke tengah itu ke mana?”

Mas Operator: “Terserah mbak aja, bebassssss……”

Naiknya lancar, turunnya gimana? Turunnya lebih lancar lagi, dong! Soalnya kita ‘dikerek’ turun alias rappelling.

rappelling skywalker via ferrata

Sebelum jerit-jerit di ‘kerekan’ 125 meter.

Biasanya orang turun dari tebing dengan rappelling itu paling untuk ketinggian 20 hingga 30 meter aja. Ini dari ketinggian 125 meter. Gila seru banget! Kayanya sih ga sampai 2 menit sampai kaki saya menapak batu datar, dan saya pikir saya sudah selamat sampai di bawah.

“Belum, Mbak. Ini baru setengah perjalanan. Soalnya kalo satu kali jalan, talinya nggak cukup.” kata Mas Operator.

Jadi, teriakan doa-doa yang saya keluarkan tadi musti diulang lagi?

Dan entah kenapa, rappelling di etape kedua ini jauh lebih cepat dibanding etape 1. Di satu titik saya tersandung sebuah tonjolan batu, kepleset sedikit, dan sepatu kanan saya lepas. Terbang bebaslah itu sepatu. Dalam keadaan membelakangi jalur rappelling, saya nggak tahu apakah tempat pendaratan masih jauh atau sudah dekat.

turun dari via ferrata

Jalur rappelling Skywalker Via Ferrata

Akhirnya ya cuma bisa pasrah. Saya menyelesaikan rappelling dengan hanya sepatu sebelah. Sambil berdoa semoga kaki kanan saya nggak kenapa-kenapa. Puji Tuhan, saya selamat sampai bawah dan sepatu saya yang mental jatuh entah di mana itu udah diambilin sama Mas Operator.  Langsung berasa kaya Cinderella gitu.

Setelah nyobain panjat tebing Gunung Parang bareng Skywalker Via Ferrata, saya cuma bisa bilang 1 hal: Kamu musti coba!

Skywalker Via Ferrata

Yakin ga mau punya begini?

Saya punya beberapa tips, kalau kamu mau nyobain aktifitas cliff climbing ini:

  1. Pakai pakaian yang aman dan nyaman; kaos lengan panjang, celana olah raga, sepatu outdoor/sport, topi, kaca mata hitam, dan fingerless gloves (sarung tangan yang ujung jarinya bolong) kalau ada.
  2. Bawa tas ransel kecil untuk bawa bekal air minum dan cokelat atau biskuit selama manjat.
  3. Nggak perlu manjat buru-buru, istirahat sebentar kalau memang cape. Kadang kalau kamu merasa nggak kuat lanjut, bukan bantuan orang lain yang kamu butuhkan, tapi cuma istirahat dan atur napas aja.
  4. Lemesin aja, Shaaay! Takut dan stress cuma akan nambahin beban dan kekakuan tubuh. Coba ngobrol sama temen manjat buat ngalihin rasa takut, tapi tetep perhatiin jalur ya!

Psssst… Tips 1-3 sih kayanya saya tamat, tapi nomer 4? *ambil cermin *ngaca

 

Share: