“Haaaaaa? Naik ferry 12 jam dari Gorontalo?! Lo ga salah milih tempat liburan?”

Begitulah reaksi sebagian besar teman kantor waktu saya bilang saya mau liburan ke Kepulauan Togian, dan mereka bingung di mana Kepulauan Togian itu berada.

Well, mungkin saya salah memulai penjelasan letak geografis Kepulauan Togian dengan frasa “12 jam naik ferry dari Gorontalo”. Karena sesungguhnya kepulauan ini secara administratif masuk wilayah kabupaten Tojo Una Una, Propinsi Sulawesi Tengah. Kepulauan ini bisa diakses dari Palu (ibukota propinsi Sulawesi Tengah) dan kota Gorontalo (ibukota propinsi Gorontalo). Rombongan kami memilih masuk lewat Gorontalo dengan pertimbangan rute perjalanan yang lebih efisien.

“Kakatete, kamu udah beli tiket berangkat buat ke Togian?” tanya Bulan suatu waktu.

“Aku udah dapat tiket pesawat murah untuk ke Gorontalo dari tiket2.com, cuuuzz kamu buruan pesen yaaa…”




Perjalanan kami mulai dengan 3.5 jam terbang dari Jakarta ke Gorontalo (transit sebentar di Makassar). Buat yang nggak percaya kalau Indonesia itu luas banget, sesekali musti nyobain terbang dari ujung ke ujung Nusantara, deh. Ini saya udah mati gaya 3.5 jam di dalam pesawat aja belum sampai ke ujung utara Indonesia.

Bandara Sultan Hasanuddin

Transit sebentar di Makassar

*ambil teropong nyobain lihat Pulau Miangas*

Sampai di Gorontalo, perjalanan kami lanjutkan dengan kapal ferry yang bikin teman-teman kantor saya ternganga-nganga.

Actually, the ferry ride is not that bad. Ferry ini mengingatkan saya akan perjalanan ke Kepulauan Karimunjawa 7 tahun yang lalu, ketika belum ada kapal cepat. Kapalnya tidak sebesar kapal ferry yang menghubungkan pelabuhan Merak – Bakauheni, tapi juga ga sekecil kapal nelayan.

Yang membuat saya yakin mau menempuh perjalanan laut 12 jam adalah karena waktu perjalanan adalah malam hari, jadi minimal 8 jam akan kami habiskan dengan tidur. Nggak bakalan terasa lama tuh 12 jam. Kedua, kami bisa mendapatkan kamar Anak Buah Kapal (ABK) untuk kami tiduri. Lumayanlah, daripada tidur beralaskan matras tipis atau duduk di bangku di kelas ekonomi.

Kamar ABK yang kami sewa

Kamar ABK yang kami sewa

Ferry meninggalkan Pelabuhan Gorontalo sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Kami bersepuluh ngumpul di kamar saya dan Bulan untuk makan sate tuna dan ilabulo. Gaduh bercanda sambil sibuk mengunyah makanan membuat kami tidak terlalu merasakan benturan ombak yang cukup kencang. Namun sekitar 30 menit kemudian ombak makin terasa memusingkan. Saya segera minta obat anti mabuk dan memilih untuk tidur. Rombongan kami pun bubar ke kamar masing-masing.

Sekitar pukul 01.00, saya sempat terbangun. Sambil masih berbaring saya mencoba merasakan pukulan ombak di lambung kapal. Nihil. Rupanya laut sudah tenang. Saya pun kembali tertidur hingga terbangun lagi sekitar pukul 05.30 ketika ferry membunyikan ‘klakson’, tanda akan berlabuh.

Tepat pukul 06.00 ferry mendarat di Pelabuhan Wakai, Kepulauan Togian. Yeaaayy! Sampai di tujuan kami kah?

Perkampungan Nelayan di Wakai

Perkampungan Nelayan di Wakai

Belum ternyata.

Jadi, Kepulauan Togian itu terdiri atas tiga pulau besar; Pulau Wakai (tempat ferry kami bersandar), Pulau Kadidiri, dan Pulau Bomba. Nah, pulau tujuan kami adalah yang paling akhir. Jarak normalnya sekitar 2.5 jam perjalanan dari Pulau Wakai.

Rombongan kami yang berjumlah 10 orang terbagi menjadi 2 buah kapal nelayan kecil. Kapal pertama yang berisi saya dan 4 orang teman, kapal kedua berisi Vindhya, dkk berangkat belakangan menuju Stingless Jellyfish Lake. Saya sudah merasa aneh ketika kapal kami yang berangkat selisih hampir 15 menitan tiba hampir berbarengan di danau itu.

Ternyata oh ternyata, kapal saya mesinnya mati sebelah. Perjalanan yang normalnya 2.5 jam dari Wakai ke Bomba, jadi hampir 4 jam. Dari kami berlima yang excited lihat laut biru sejauh mata memandang, sampai ngantuk bosen, kebangun karena kepanasan, dadah-dadah ke anak-anak di perkampungan suku Bajo, sampai kehabisan cemilan, sampai bosen, sampai cemas karena kok ga nyampe-nyampe, setengah nahan pipis, sampai akhirnya bahagia tak terkira demi melihat Vindhya melambai-lambai di dermaga Poya Lisa Inn.

Perkampungan Suku Bajo

Perkampungan Suku Bajo

Perjalanan sepanjang itu, semua terbanyar lunas begitu sampai di tempat tujuan. Apalagi setelah menghabiskan 2 hari 3 malam di Kepulauan Togian. Rasanya bener-bener ga pengen pulang.

Poya Lisa Inn

Poya Lisa Inn

Bagian paling males dari jalan-jalan buat saya adalah kalau harus ngulang rute yang sama lagi. Meski banyak yang bilang perjalanan pulang biasanya akan terasa lebih cepat, buat saya akan lebih seru kalau perjalanan pulangnya ambil rute yang berbeda.

Nah, begitulah perjalanan panjang ke Kepulauan Togian ini.

Pulangnya kami mengambil rute lewat Ampana. Dari Poya Lisa Inn, kami menyewa kapal nelayan yang agak besar untuk menuju kota Ampana. Kota ini adalah ibukota Kabupaten Tojo Una Una. Lamanya perjalanan diperkirakan sekitar 2.5 hingga 3 jam, tergantung kapal dan kondisi laut.

If we can survive 12 hours ferry ride, sure we can survive this 2.5 hours one, rite?

Togian ke Ampana

Dalam perjalanan ke Ampana

Kenyataannya baru 30 menit duduk di geladak depan kapal, saya sudah nggak kuat nahan kantuk dan bobok. baru kebangun saat teman-teman saya heboh teriak “dolphin! dolphin! lumba-lumbaaa…. ada lumba-lumba”

Seru banget! Udah mah perjalanan ke Ampana jauh lebih pendek daripada waktu berangkat, kami dibonusin dengan ‘show lumba-lumba’ di habitatnya.

Puji Tuhan.

Ngobrol di perjalanan Poya Lisa Inn - Ampana sebelum heboh ada lumb-lumba

Ngobrol di perjalanan Poya Lisa Inn – Ampana sebelum heboh ada lumb-lumba

Setiap perjalanan ada plus-minus-nya sih. Kalau lewat Gorontalo musti naik kapal 12 jam, maka kalau lewat Ampana yang agak nggak enak adalah musti road-trip selama 7 hingga 8 jam menuju kota Poso. Jangan banyangkan 7-8 jam itu dengan jalanan kaya Jalur Pantura yang lurus aja tanpa tantangan itu. Ini jalurnya lewat Jalan Trans Sulawesi yang sempit, berkelok-kelok sepanjang jalan, naik turun perbukitan, di kiri tebing di kanan jurang.

Dan penyakit saya kalau disetirin orang baru; ga bisa tidur. Jadilah sepanjang jalan saya dan Bulan karaoke-an lagu yang diputer Pak Sopir. Dari Endang S. Taurina – Ratih Purwasih sampai Michael Learns To Rock, kami libas abis.

*puk puk kuping Eddy, Fajar, dan Irwin*

Tujuh jam perjalanan itu ngelewatin berapa kabupaten? Cuma 1. Jadi cuma dari kota Ampana, menuju Tentena, sebuah kecamatan di Kabupaten Poso. Begitulah luasnya kabupaten-kabupaten di Sulawesi. Keesokan harinya kami naik mobil lagi dari Tentena ke kota Poso-nya. It’s another 2 hours road trip.

Resort di Ampana

Resort di Ampana

Kami menginap satu malam lagi di kota Poso, lalu besok paginya naik pesawat dari Bandara Kasiguncu menuju Makassar. Kali ini saya dan Bulan transit agak lama, sekitar 8 jam, jadi masih sempat jalan-jalan ke Taman Nasional Bantimurung dan belanja oleh-oleh segala.

Ada cerita menarik waktu beli tiket pulang dari Poso ke Jakarta. Bulan sudah berkali-kali ngingetin saya untuk beli, tapi saya selalu jawab ‘ntar, besok, ntar, besok’ terus. Sampai akhirnya mungkin Bulan gemes dan ‘maksa’ saya untuk segera beli.

Tiket Poso – Makassar dibeli Bulan sambil dandan siap-siap mau pergi karena saya lagi di tengah meeting. Giliran tiket Makassar – Jakarta, Bulan udah ga sempet beli karena harus segera berangkat. Giliran saya yang iseng-iseng cek harga tiket di tengah meeting.

“Tapi, Buuuy… ini ada tiket pesawat promo nih buat maskapai G” kata saya.

“Ya udah, Kak! Kamu yang beli, nanti pakai CC-ku dulu” jawab Bulan.

Jadilah kami dua perempuan saling dikte-diktean kode booking dan OTP ditengah nyetir dan meeting. Ini agak bahaya sih, jangan ditiru ya.

Begini amat yak mau liburan!

But believe me, all those effort and hustle will be paid once you see Togian Islands.

Share: