Kami sudah bersama sejak tahun 1998. Saat kami masih memakai seragam putih abu-abu, di sebuah sekolah negeri di sebuah kota kecil bernama Klaten. Yang belum tahu di mana Klaten itu berada, cobalah sesekali ketika melintas dari kota Jogjakarta ke Solo, atau sebaliknya, jangan menutup mata. Niscaya Klaten akan terasa.

Sebelum terlanjur jauh, bukan, tulisan ini bukan tentang kisah cinta.

Ini tentang persahabatan saya dengan tiga orang teman SMA; Deta, Kenot dan Santi. Tak terasa, dua tahun lagi persahabatan di antara kami akan berusia 2 dasawarsa. Memang, ada masa kami tidak bersama; saat kami kuliah. Saya di Bandung, Deta di Jogjakarta, Santi di Tangerang dan Kenot di Surabaya lalu pindah ke Bogor.

glamor camping

We’ve been together since 1998

Ibukota menyatukan kami. Menjadi perempuan di tanah rantau membuat kami dekat kembali satu sama lain. Kami berbagi cerita, tawa, tangis, terkadang juga saling menertawakan kebodohan kisah cinta masing-masing. Jika penat melanda, kami pergi jalan-jalan. Yang dekat-dekat saja di seputaran Jakarta, seperti Sukabumi dan Garut.

Akhir bulan lalu, Kenot membawa sebuah berita yang mengejutkan; sebuah pilihan pekerjaan akan membawanya pindah ke Pulau Kalimantan untuk satu tahun. Kami sedih harus berpisah dengannya, tapi di satu sisi kami bahagia untuk pekerjaan barunya.

“Ayo kita bikin piknik perpisahan buat Kenot!” Deta mengusulkan sebuah ide.

Awalnya kami mau nginep di Cibodas, tapi kami urung demi mengingat lalu lintas menuju Cibodas yang bisa sangat kejam di akhir pekan. Dengan pertimbangan transportasi yang lebih mudah, maka glamping (glamour camping) di Pondok Rasamala, Gunung Bunder pun kami sepakati sebagai tempat piknik perpisahan kami dengan Kenot.

Glamping di Pondok Rasamala

Glamping di Pondok Rasamala

Sayangnya, pagi hari sebelum berangkat ke Pondok Rasamala, Deta mengabarkan tidak bisa ikut karena sakit. But the show must go on, kami bertiga tetap berangkat. Dengan menggunakan transportasi umum, kami menuju Pondok Rasamala. Meskipun perjalanan yang kami tempuh cukup jauh (dan lama), secara umum Pondok Rasamala cukup mudah dijangkau.

Saya yang sebelumnya sudah pernah merasakan glamping di tempat yang berbeda, cukup terkesan dengan glamping di Pondok Rasamala. Glamping yang ini bener-bener glamour; sebuah tenda terpal didirikan di atas panggung berukuran 4×5 meter. Tak tanggung-tangung, tiang tendanya pun terbuat dari bambu utuh. Tenda terpal itu diikat di tiang bambu dengan tambang besar, membuat tenda tak akan mungkin terbang terbawa angin.

tempat tidur di glamping

Tempat Tidur di Glamping Pondok Rasamala

Di dalam tenda ada satu buah ranjang untuk 2 orang, dua buah kasur single, dan satu buah tenda kecil yang bisa untuk leyeh-leyeh. Di teras tenda tersedia satu dipan bambu yang bisa dipakai juga untuk bermalas-malasan. Air minum (panas dan dingin) tersedia dari sebuah dispenser yang ada di teras tenda.

Kamar mandinya gimana? OK dong! Ada satu pondok terpisah di samping tenda yang difungsikan sebagai kamar mandi. Ada 2 bilik, satu untuk mandi, dan satunya untuk toilet. Ada wastafel di kamar mandi dan pancuran di samping tenda. Oh, jangan takut kedinginan, ada air panas tersedia 24 jam untuk mandi.

kamar mandi glamping

Kamar mandi di Glamping Pondok Rasamala

Mau makan? Tinggal jalan ke depan Pondok Rasamala, banyak warung makan tersedia. Males jalan? Tinggal hubungi Mbak Vera (pengelola Pondok Rasamala), minta tolong dibelikan makanan.

Ada satu kekurangan glamping di Pondok Rasamala ini; karena lokasinya yang terletak di tikungan, sebelum sebuah tanjakan tinggi, membuat tempat ini agak kurang sound-proof. Motor-motor yang melintas pasti akan menggeber kencang-kencang mesinnya, dan tahu sendiri, gimana anak muda dengan knalpot modifikasi-nya.

Yang lebih lucu, pas saya lagi asik leyeh-leyeh di teras tenda sambil baca buku, tiba-tiba terdengar suara dari sebuah speaker …

“Tahu bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, gurih-gurih enyooooyy…”

Glamour Camping Rasamala

Numpang mejeng di balkon tenda tetangga

Sontak saya dan Santi terbahak-bahak. Sudah jauh-jauh ke Gunung Bunder, masih juga denger tukang tahu.

“Kesialan” kami yang lain, malam itu sepertinya ada sebuah keluarga terpandang di kampung sebelah yang punya hajat. Sampai lewat jam 21.00, suara speaker pengajian tidak berhenti berbunyi. Gagal deh kami bertiga curhat-curhatan di dalam tenda sebelum Kenot pindah ke Samarinda. Yang ada kami malah tertawa terbahak-bahak setiap kali ustadz yang meminpin shalawatan nada suaranya fals.

View dari depan tenda

View dari depan tenda

Selain ketidak-kedap suara-an Pondok Rasamala, glamping di tempat ini cukup memuaskan. Kami bertiga puas bisa perpisahan di tempat ini. Good luck, Kenot! Semoga betah di kota baru mu!

Kapan-kapan kami tengokin ke Samarinda, ya….

Share: