Entah sudah berapa kali saya merengek ke mama untuk mengajak papa main ke Candi Gedong Songo kalau pas lagi mudik ke Klaten. Ada saja alasan mama; Bandungan itu jauh dari Klaten lah, candi-nya biasa aja lah, cape keliling-nya nanjak-nanjak gitu lah, sampai alasan mendingan kita ke Tawangmangu lagi aja, pulangnya bisa belanja sayur seger-seger.

Padahal ya, dari Klaten ke Tawangmangu dibanding Klaten ke Bandungan, palingan juga selisihnya ga sampai 2 jam.

Kalau saya keluarin alasan “Tapi aku belum pernah ke Candi Gedong Songo, Maaaa….”

Mama akan dengan ketus menjawab “Eh, udah pernah yaaa! Waktu kamu belum umur setahun, mama udah gendong-gendong kamu keliling Candi Gedong Songo sambil gandeng Mbak Nunik. Candi-nya luas banget, misah-misah, lewat hutan-hutan, capek banget gendong kamu di sana, tau…”

Candi Nomor 5

Candi Nomor 5




Yaaah, kalau mama udah merepet kaya gitu kan saya cuma bisa diem. Daripada dijawabin nanti jadi anak durhaka kan ya? Jadi, setiap kali ada yang nanya apakah saya udah pernah ke Candi Gedong Songo, saya hanya bisaย  menjawab dengan lirih “Sudah, waktu bayi….”

Makanya waktu minggu lalu saya diundang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah untuk ikutan Famtrip Jateng, saya excited banget waktu lihat di itinerary ada nama Candi Gedong Songo! Wohoooo.. akhirnya, setelah sekian puluh tahun, saya bakalan ke Candi Gedong Songo (lagi).

Agenda ke Candi Gedong Songo dilaksanakan di hari terakhir Famtrip. Setelah dua hari sebelumnya stamina kami telah terkuras karena agenda yang lumayan padat dari famtrip ini; berenang di Umbul Ponggok, main ke Candi Plaosan, nonton wayang orang eksekutif, bangun subuh untuk trekking ke Punthuk Setumbu dan Bukit Rhema, lalu rafting 9 kilometer di Kali Progo, dan puncaknya berdiri hampir 3 jam nonton acara puncak ulang tahun Propinsi Jawa Tengah ke 66, yaitu Parade Seni dan Budaya Jawa Tengah di alun-alun kota Magelang.

naik kuda di candi gedong songo

Muka saya ga tegang-tegang amat ‘kan?

Untungnya (sebagai orang Jawa, entah kenapa dalam situasi apapun, kami selalu bisa bilang “untungnya”) ada opsi naik kuda untuk berkeliling Candi Gedong Songo. Sebagai anak yang sering diajak ke Tawangmangu, naik kuda bukanlah hal yang baru buat saya. Ah, palingan juga gitu-gitu aja, pikir saya saat itu.

Ternyata, saudara-saudara… jalur berkuda di Candi Gedong Songo bukanlah rute yang biasa-biasa saja. Lupakan pengalaman naik kuda di Tawangmangu yang meskipun jalannya naik turun, tapi paling nggak jalurnya berupa jalan aspal lebar. Apalagi pengalaman berkuda di depan kampus ITB! Lupakan, semua pengalaman itu, ga guna di Candi Gedong Songo!

Rute keliling Candi Gedong Songo

Rute keliling Candi Gedong Songo

Rute trek berkuda di Candi Gedong Songo sudah dibuatkan jalur khusus, sih. Berupa jalur ber-paving-block kira-kira selebar 1 meter. Jalurnya pun terpisah dengan jalur pejalan kaki. Namun, lebih dari 50% jalur berkuda ini kalau ga menikung, menurun, menanjak, menikung sambi menurun, menanjak drastis, atau licin bekas hujan.

Bhay! Saya setreeezz sepanjang jalan. Saya tahu kuda itu hewan yang sangat peka, hampir sama dengan anjing, mereka bisa merasakan kalau orang yang ada di sekitar mereka ketakutan atau ga nyaman. Dan sepertinya, Anggun, kuda berumur 3 tahun yang saya naiki itu tahu banget saya deg-degan ketakutan sepanjang menaiki dia.

Pemandangan Candi Gedong Songo

Bagus ‘kan pemandangan di Candi Gedong Songo?

Saat berhenti di candi nomor 5 (kalau naik kuda, urutan candi-nya dibalik, dari nomor 5 ke nomor 1) saya sempat ngajak ngobrol sebentar si Anggun. Saya pengen Anggun ngerti kalau saya takut bukan karena saya nggak percaya akan kemampuan dia membawa penumpang, tapi karena emang rutenya serem abis dan….

… saya salah bawa tas.

Tas untuk berkuda

Tas pembawa kerepotan!

Jadi gini, karena saya cuma bawa backpack kecil (banget) untuk trip ini, saya bawa tas jinjing yang agak gede untuk menampung beberapa printilan cewe lah. Tas-nya model tote-bag, yang ga ada tali panjangnya, mau ga mau musti di cangklong di salah satu pundak. Pas mau naik kuda, saya tahu ini bakalan ribet banget. Tapi ya gimana, ga mungkin banget tas-nya saya tinggal di kandang kuda. Mau balikin ke bus, kok ya males jalannya.

Ya udah, baw aja. Eh lha kok ternyata treknya horor.

Akhirnya, selepas pemberhentian kawah belerang, saya menyerah; minta tolong ke Mas Nur (pemilik kuda) untuk bawain tas saya. Seumur-umur, belum pernah saya minta tolong orang untuk bawain tas tangan saya, lho.

Terlepas dari drama saya, kuda, dan tas jinjing itu, saya sangat menikmati berada di Candi Gedong Songo. Saya suka udara sejuknya, saya suka hutan pinusnya, saya suka candinya, dan saya penasaran dengan kisah dibalik candi ini.

Banyak candi di Jawa Tengah yang cerita dibalik berdirinya candi tersebut sudah terkenal. Baik yang hanya berupa legenda, hingga yang yang sudah didasari oleh fakta atau penelitian. Namun rasanya, kok saya belum pernah mendengar tentang kisah Candi Gedong Songo.

Meskipun bernama Candi Gedong Songo, yang secara harfiah berarti “Candi Gedung Sembilan”, saat ini kita hanya bisa melihat fisik dari lima candi saja. Dua candi lainnya yaitu Candi Nomor 6 dan Candi Nomor 7, saat ini hanya tersisa reruntuhan pondasinya. Sedangkan Candi Nomor 8 dan Candi Nomor 9, memang tidak pernah diketemukan bangunan fisiknya secara nyata.

Dua candi yang terakhir itu, konon hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan ‘lebih’ dibanding orang kebanyakan.

Dari papan informasi yang dipasang di gerbang masuk candi, saya hanya tahu candi ini dibangun sekitar abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra. Hampir seperti candi-candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Candi Gedong Songo juga berfungsi sebagai candi peribadatan bagi umat Hindu. Hingga saat ini, patung yang masih bisa dilihat di sana antara lain patung Dewi Durga (istri Dewa Siwa), Ganesha (anak Dewa Siwa) dan Agastya (seorang resi/pendeta yang memiliki kemampuan setara dengan dewa).

Restorasi terhadap candi ini sudah dilakukan dari sejak jaman Raffles hingga yang terakhir sekitar tahun 1983. Dari yang awalnya hanya ditemukan 5 buah candi, lalu ditemukan lagi 2 buah pondasi candi, hingga kompek ini dinamakan Candi Gedong Pitu (Candi Gedung Tujuh). Hingga akhirnya dari penelitian diyakini bahwa sesungguhnya ada 9 buah candi di komplek ini.

Sepulang dari famtrip, saya dengan bangga cerita ke mama kalau akhirnya saya sudah mengunjungi Candi Gedong Songo (lagi), plus keliling komplek candinya dengan naik kuda (nan epik ceritanya). Dengan (tetap) semangat saya ngajak mama untuk ke sana lagi kapan-kapan. Saya bilang; kalau cape keliling kita bisa naik kuda, Ma!

Bagus 'kan pemandangan di Candi Gedong Songo?

Kudanya makan rumput dulu.

Mau tahu jawaban mama?

“Mama mau naik kuda kalau pakai dokar atau andong.”

Yaaaah, emak gw (sok) ratu abis, deh!

PS: dalam kegiatan naik kuda ini, baik kuda maupun pemiliknya tidak mengalami kekerasan dalam bentuk apapun. Penumpang sudah memberikan tambahan kompensasi untuk tambahan aktifitas pembawaan tas tangan tersebut.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Share: