Ada satu hal yang membuat saya begitu penasaran dengan kota Gorontalo; sate tuna. Tahun lalu, Vindhya pernah ngasih saya sebungkus sate tuna pas dia pulang dari sana, dan seumur hidup kayanya itu kali pertama saya makan olahan ikan yang sumpaaah, enak banget!

Sate tuna Gorontalo bentuknya ya hampir mirip sate ayam biasa, hanya saja yang ditusukin bukan daging ayam melainkan irisan daging ikan tuna segar. Kalau sate ayam di Pulau Jawa biasanya dikasih bumbu kacang dan kecap manis, sate tuna ini bumbunya minimalis; cuma sambel cabe rawit berwarna oranye menantang.

Gorontalo memang terkenal sebagai penghasil ikan tuna dengan kualitas premium. Jadi ga heran meskipun sate tuna di sana termasuk makanan yang lumrah (bukan termasuk makanan mewah, maksud saya), harganya pun cuma IDR 4.000 per tusuk, tapi kualitas daging tuna yang digunakan ga main-main. Segar, manis, padet dan kenyalnya pas.

Makanya begitu masuk mobil jemputan dan ditanya mau kemana, jawaban saya langsung “Makan siang di Rumah Makan Ratu, Pak!”. Mobil yang dikemudikan Pak Wayan pun ngebut meninggalkan Bandara Jalaluddin.

“Pelan-pelan saja, Pak Wayan. Kami baru pertama kali ke Gorontalo, sekalian ingin lihat-lihat pemandangan” kata Bulan.




Pak Wayan melambatkan laju mobilnya dan mulai bercerita tentang beberapa sejarah Gorontalo. Tentang ada apa saja di kota ini. Tentang pemilihan gubernur yang sebentar lagi akan dilakukan; siapa calon terkuat dan siapa yang menurutnya paling pantas dipilih. Juga tentang bagaiaman ia yang asli Gorontalo tapi bisa memiliki nama panggilan “Wayan”.

Kota Gorontalo dari atas "Menara Eiffel"

Kota Gorontalo dari atas “Menara Eiffel”

Tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah perempatan jalan. Di atas kami berdiri sebuah menara yang bentuknya mirip Menara Eiffel. Yaaah, dalam ukuran yang jauh lebih mini tentu saja. Kami penasaran pengen naik ke atas menara itu, tapi kok sepertinya menaranya tidak dibuka untuk umum.

“Bisa naik, tapi kasih saja dua puluh ribu untuk penjaganya..” kata Pak Wayan yang tiba-tiba saja sudah keluar dari ruang penjaga. Yang lebih ok, ternyata dengan IDR 20.000 kami diijinkan naik lift, ga harus naik tangga. Dari atas menara kami bisa melihat ke seluruh penjuru kota Gorontalo. Kesan saya mengenai kota ini, meskipun panas khas kota pesisir pantai, tapi panasnya ga sakit di kulit seperti di Jakarta. Mungkin karena di Gorontalo lapisan ozon-nya masih bagus. Mungkin.

Karena cacing-cacing di dalam perut sudah makin berontak, kami segera melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Ratu. Rumah makan ini terletak tidak jauh dari pelabuhan yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke Kepulauan Togian malam harinya. Terletak di tepi laut, membuat suasana makan siang kami semakin menyenangkan.

Sate Tuna Gorontalo

Sate tuna nan menggugah selera di Rumah Makan Ratu

Nikmatnya sate tuna berpadu dengan nasi putih pulen dan sambal rawit yang menggoda selera, ditingkahi suara debur ombak di bawah restoran dan angin laut nan sepoi-sepoi.

Beuuuhh.. tanpa terasa satu bakul nasi dan 20 tusuk sate tuna kami habiskan bertiga.

Kenyang menyantap sate tuna, kami segera bergegas menuju spot berikutnya; Benteng Otanaha. Tempatnya tidak terlalu jauh dari RM Ratu, hanya perlu sekitar 30 menit naik mobil. Hanya saja, mengingat RM adanya di pinggir pantai sementara Benteng Otanaha ada di atas bukit, bisa ditebak agak kurang nyaman naik mobilnya.

Saya dan Bulan memilih tidur saja sampai kami tiba di kaki bukit tempat Benteng Otanaha berada. Setelah membayar tiket masuk sebesar IDR 10.000, saya sudah khawatir harus naik anak tangga yang lumayan tinggi. Namun ternyata sudah ada akses jalan yang bisa dilalui mobil sampai ke bagian atas benteng.

Benteng Otanaha

Salah satu sudut Benteng Otanaha

Yes! Princess & Queen seneng banget deh bisa liburan model begini, hihi!

Benteng Otanaha dibangun pada tahun 1522 oleh Raja Ilato dari Kerajaan Gorontalo, dengan bantuan pelaut-pelaut Portugis. Tujuannya tak lain untuk semakin memudahkan pengawasan dan pertahanan maritim Kerajaan Gorontalo dan kepentingan perdagangan Portugis.

Di dalam benteng otahana

Di dalam benteng otahana

Masyarakat Gorontalo meyakini Benteng Otanaha dibangun tidak menggunakan semen, melainkan hanya menggunakan campuran antara batu, pasir dan putih telur burung Maleo. Entah benar, entah tidak kepercayaan tersebut. Untuk membuktikannya ya mungkin harus dites di laboratorium. Namun yang pasti, pemandangan dari puncak Benteng Otanaha tak perlu diragukan lagi. Bagus banget!

Ilabulo Khas Gorontalo

Ilabulo sedang dipanggang.

Kalau ga inget masih musti mampir untuk beli Ilabulo (makanan khas Gorontalo, nanti akan saya ceritakan di postingan terpisah) lalu naik kapal menuju Kepulauan Togean, rasanya saya tak akan keberatan menunggu matahari terbenam di Benteng Otanaha. Meskipun singkat, namun perjumpaan saya dengan kota Gorontalo rasanya sangat berkesan.

Ferry Gorontalo Togian

Ferry yang akan membawa kami ke Kepulauan Togian

Share: