“Yaahh, masa kita udah sampai sini tapi ga masuk ke [ruang] bawah [tanah]……”

Saya menatap mata yang memohon penuh harap itu. Saya benci berada dalam situasi seperti ini; penasaran dengan sesuatu tapi takut mencoba.

“Ya udah, lo masuk aja sendiri gimana? Gue tunggu di luar.”

“Terus ngapain lo tadi ikut ke sini kalau nggak mau masuk? Lagian ini kan siang-siang, mana ada sih hantu keluar siang hari gini!” mukanya mulai terlihat kesal.

The Majestic Lawang Sewu

The Majestic Lawang Sewu

I was 19 year-old, and peer-pressure was a big issue at that time. Saya ini penakut banget; ga suka film horor, ga suka lihat segala macam acara tentang uji nyali lihat hantu, langsung ganti channel TV kalau ada berita orang kesurupan massal, mending nahan pipis daripada musti masuk ke toilet yang serem. Meskipun takut hantu, rupanya waktu remaja saya lebih takut temen ngambek karena saya takut masuk ruang bawah tanah Lawang Sewu.

Akhirnya saya menutuskan ikut masuk ke ruang bawah tanah Gedung Lawang Sewu. Masuk ke sebuah ruangan dengan udara terberat yang pernah saya hirup. Lima belas menit terlama yang pernah saya alami. Selama guide menerangkan isi dari ruang bawah tanah itu, saya hanya bisa diam menggandeng erat tangan teman saya.

“Ini dulu ruang penjara, jangan bayangkan penjara seperti jaman sekarang. Tahanan di ruangan ini bisa dapat ruang untuk duduk saja sudah beruntung.”

“Lubang-lubang kecil di dinding itu, selain berfungsi untuk ventilasi, juga sebagai lubang senapan…”

“Diujung sana, itu ruang penggal. Di jaman penjajahan Jepang, tahanan dieksekusi tidak dengan senapan tapi ditebas lehernya. Jika hari pemenggalan datang, saluran pembuangan air di belakang yang mengarah ke Kali Semarang akan mengucurkan air berwarna merah.”

Tampak Muka Lawang Sewu dari Halaman Tengah

Tampak Muka Lawang Sewu dari Halaman Tengah

Hanya itu sebagian penjelasan guide yang bisa saya tangkap.

Saya ga lihat hantu apapun di ruang bawah tanah Lawang Sewu, tapi keluar dari sana entah kenapa mood saya jadi jelek banget. Saya merasakan kesedihan yang teramat sangat tanpa alasan jelas. Sebulan kemudian ketika mood saya bisa kembali normal, saya berjanji nggak akan pernah mau lagi ke Lawang Sewu.

***

Tiga belas tahun kemudian, setelah beberapa kali ke Kota Semarang dan selalu membuang Lawang Sewu dari daftar kunjungan, mau tak mau saya harus masuk ke Lawang Sewu lagi karena panitia FamTrip Kota Semarang sudah memasukkan Lawang Sewu Night Tour ke dalam jadwal acara.

Menghindar dari tur malam ini? But I ain’t a dramatic 19 year-old girl anymore.

Tampak Muka Gedung Lawang Sewu

Tampak Muka Gedung Lawang Sewu

Begitu turun dari mobil dan melihat gedung Lawang Sewu dari dekat untuk kedua kalinya dari dekat, ketakutan saya sedikit luntur. Gedung ini sudah bermetamorfosis, dari gedung tua yang menyeramkan menjadi gedung tua cantik dengan lampu-lampu yang memancar indah dari balik kaca-kaca patrinya. Dari gedung yang mirip penyihir jahat menjadi gedung bak ratu dari zaman Renaisans.

Dua orang pria menyambut rombongan kami di pintu masuk. Seorang pria bertubuh besar berusia awal 20-an dan seorang pria bertubuh ramping dengan rambut panjang yang disanggul cepol kecil di puncak kepalanya. Pria bertubuh besar itu memperkenalkan dirinya sebagai “Kombun”, guide kami malam ini. Pria yang bertubuh tetap diam tidak memperkenalkan diri. Saya menebak ia adalah “penjaga” kami malam ini.

Mas Kombun, guide kami di Lawang Sewu

Mas Kombun, guide kami di Lawang Sewu

Mas Kombun membawa kami melihat sumur pompa yang dibangun bersamaan dengan pembangunan Gedung Lawang Sewu dan masih berfungsi hingga saat ini. Lalu ke toilet, lagi-lagi kami dibuat terpesona oleh interior bangunan ini. Dari keramik lantai, dinding, wastafel hingga pipa-pipa airnya masih asli semua. Hanya keran air dan lampu saja yang sudah diganti.

Baru sampai kamar mandinya saja sebagian kesan seram yang saya dapat 13 tahun lalu hilang.

Di halaman tengah saya semakin dibuat terpukau oleh kecantikan Lawang Sewu. Di tengah gelapnya halaman, berdiri megah Lawang Sewu dengan lampu-lampu kuning memancar cantik dari balik kaca-kaca patri terbaik buatan Delft.

Kalau dilihat di siang hari, kaca-kaca patri ini cantik sekali

Kalau dilihat di siang hari, kaca-kaca patri ini cantik sekali

“Kami sering berharap, suatu saat lampu di sekitar daerah Simpang Lima ini mati total, hanya menyisakan lampu di Lawang Sewu saja yang menyala.” kata Pak Didik, salah satu panitia FamTrip.

“Pasti cantik sekali ya, Pak.”

Night tour dilanjutkan dengan memasuki gedung utama. Bohong jika saya bilang sudah tidak ada aura angker di gedung ini hilang sama sekali. Masih ada aura angker, tapi sepadan dengan kecantikan yang dipancarkannya.

Kami masuk ke pintu utama, lalu naik ke lantai dua. Mas Kombun membawa kami memasuki ruang yang konon dulu digunakan sebagai kantor Gubernur perusahaan kereta api jaman Belanda. Ia lalu membuka satu pintu yang ternyata membawa kami ke balkon yang menghadap ke bundaran Simpang Lima.

“Semua tur bisa sampai ke bagian ini, Mas?” tanya saya.

“Nggak, Mbak. Hanya yang sudah mendapat ijin dari kantor [PT KAI] saja”

Bunderan Simpang Lima dari Balkon Lawang Sewu

Bunderan Simpang Lima dari Balkon Lawang Sewu

Pengunjung biasa hanya bisa masuk ke lantai dasar dan ruangan-ruangan yang digunakan sebagai mueseum. Lantai atas dan ruangan bawah tanah kini tertutup untuk umum. Mendadak saya merasa sedikit jadi orang penting. Apalagi pas melihat ke bawah balkon beberapa orang yang sedang berdiri di trotoar depan Lawang Sewu memandang keheranan ke arah kami.

Ruangan di lantai dasar yang diubah jadi Museum Kereta Api

Ruangan di lantai dasar yang diubah jadi Museum Kereta Api

Siapa yang masih ngalamin naik kereta api tiketnya kaya gini? *tutup muka sendiri*

Siapa yang masih ngalamin naik kereta api tiketnya kaya gini? *tutup muka sendiri*

Tangga Putar Tanpa Penyangga

Tangga Putar Tanpa Penyangga

Kami masuk kembali ke dalam gedung, menyusuri lorong penuh dengan pintu-pintu. Mas Kombun menerangkan gedung ini pernah dipakai untuk kantor apa saja. Bagaimana hampir semua pintu di gedung ini saling terhubung satu sama lain. Bagaimana sebuah tangga putar besi bisa dipasang tanpa besi penyangga. Bagaimana air dari sumur pompa di bagian depan gedung bisa disimpan di ruang tandon air yang berada di atas genteng. Bagaimana rangkaian baja di ruang attic menyangga seluruh bangunan.

Baja rangka Lawang Sewu di Attic Room

Baja rangka Lawang Sewu di Attic Room

Bagaimana Mas Kombun bisa tahu semua itu? Karena ia bisa dibilang tumbuh besar di Lawang Sewu. Ia lahir di daerah sekitar Lawang Sewu. Beranjak dewasa, ia dan beberapa temannya dibimbing oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang untuk menjadi tour guide resmi bersertifikat. Jadi kalau main ke Lawang Sewu, jangan ragu untuk memakai jasa mereka ya. Kita akan diterangkan banyak mengenai bangunan ini, yang sama sekali nggak ada di brosur maupun tulisan lainnya manapun.

Salah Satu Lorong di Lawang Sewu

Salah Satu Lorong di Lawang Sewu

Tur berlanjut ke bangunan yang 13 tahun lalu saya masuki ruang bawah tanahnya. Karena saya sudah capai dan masih belum berani masuk ke tempat itu lagi, saya memutuskan untuk beristirahat di halaman tengah bersama beberapa teman.

Saya menyesal 13 tahun yang lalu pernah berkata tidak akan pernah mau lagi ke Lawang Sewu.

Mau baca cerita-cerita tentang #SemarangHebat lainnya? Silakan klik link di bawah ini ya!

Share: