“Bu, upami abdi bade lungsur di Pasar Wanaraja, tebih keneh, Bu?” saya membuka percakapan dengan seorang ibu paruh baya di dalam angkot bernomor 07 yang membawa kami dari Terminal Guntur ke Wanaraja.

Sebenarnya saya agak ragu membuka percakapan dengan bahasa Sunda. Empat setengah tahun tinggal di Bandung, saya hanya menguasai bahasa Sunda secara pasif. Ngerti kalau diajak ngomong, tapi kadang suka nggak pede mau jawab pakai bahasa Sunda.

Tebih, Neng… ini mungkin baru separonya”

Ah, beruntung si ibu menjawab dengan bahasa Sunda campur Indonesia.

“Ibu turun di mana?”

“Ibu mah cakeut. Sakedap deui lungsur. Bade kamana, Neng? Talaga Bodas nya?”

“Muhun, Ibu”

“Ka Talaga Bodas mah jangan turun di pasar, Neng! Di parapatan aja, setelah pasar…” sahut seorang bapak yang duduk di pojok depan angkot.

“Bukan di pasar Wanaraja ya, Pak?”

“Di pasar oge tiasa, mun hese’ neangan ojek na, Neng”

“Oh, gitu, Pak.. Biasanya berapa ongkos ojek ke Talaga Bodas?” Kenot, salah seorang sahabat saya ikut bertanya.

“Wah, kurang tahu juga, Neng… tapi palingan juga lima belas ribuan”

***

Talaga Bodas di Ujung Jalan

Talaga Bodas di Ujung Jalan

Tak lama angkot kami berhenti di sebuah pertigaan, setelah melewati Pasar Wanaraja. Sejak lebih dari 10 tahun yang lalu ketika saya tinggal di Bandung, masih menjadi misteri bagi saya kenapa orang Sunda sering menyebut pertigaan dengan parapatan (perempatan). Ataukah memang bahasa Sundanya pertigaan itu parapatan?

Begitu turun dari angkot beberapa sopir ojek mengerubungi kami, menawarkan dan menanyakan kemana tujuan kami.

Ka Talaga Bodas sabaraha, Pak?”

“Pulang pergi? Ditungguin?”

“Iya”

“Seratus ribu, Neng…”

Kami terdiam mendengar harga yang ditawarkan. Harga yang sangat jauh dari yang disebutkan bapak di angkot tadi.

Ah, sepertinya strategi saya [sok-sokan] berbahasa Sunda tidak berhasil, batin saya. Ini kami pasti mau di-getok!

“Masa seratus ribu, Pak?” Deta, sahabat saya yang pintar menawar pun akhirnya turun tangan. Saya dan Santi, dua orang yang paling ga bisa nawar akhirnya melipir, memberikan ruang bagi Kenot dan Deta untuk tawar-menawar dengan para tukang ojek.

Santi, tidak bisa menawar karena di antara kami, dia yang paling nggak tegaan. Sementara saya ada di kutub satunya; kadang hanya bisa menerima jawaban “ya’ atau “tidak”, tawar menawar hanya akan membuat sumbu pendek saya tersulut. Selain itu saya adalah pemegang prinsip; butuh barang atau jasa yang ditawarkan, saya punya uangnya, ya sudah bayar saja. Ngapain capek-capek nawar.

Masalahnya, ini kan bukan hanya perjalanan dan budget saya sendiri. Ada 3 pemikiran sahabat saya yang harus saya hargai.

Indahnya Talaga Bodas

Indahnya Talaga Bodas

“… jauh, Neng! Lima belas kilo, jalannya begini…” kata seorang tukang ojek yang sepertinya paling senior pada Deta dan Kenot, sambil membuat sudut 45 derajat dengan lengan bawahnya.

Saya membuka aplikasi peta di ponsel, untungnya masih ada sinyal. Saya ketik “Talaga Bodas” di kolom search, beberapa detik kemudian aplikasi menunjukkan jarak 14 kilometers dari tempat saya berdiri hingga ke tempat tujuan. Saya angsurkan ponsel ke Kenot sambil berbisik “jaraknya bener segitu sih, kalau mereka mau ditawar jadi enam puluh ribu, I don’t mind…”

Dua orang tukang ojek masih bersikeras dengan harga IDR 75.000 untuk pulang pergi. Seorang bapak bertampang seperti polisi di film-film India menghampiri kerumunan kami. Aduh, siapa lagi ini.

“Ada apa ini?” tanyanya.

“Ini, Pak.. lagi nawarin ojek” seorang tukang ojek menjawab dengan segan. Saya perhatikan di kaos hitam yang dipakai bapak itu ada bordiran “BABINSA”.

Mumpung ada orang yang sepertinya disegani para tukang ojek, saya ikut nimbrung dipercakapan tawar-menawar yang tak kunjung selesai itu.

“Jadi enam puluh ribu mau ga, Pak?”

“Iya, kalau nggak mau ya sudah…” Kenot menimpali sambil pura-pura berlalu meninggalkan arena tawar-menawar. Sepertinya sahabat saya ini terlalu banyak menawar di Tanah Abang. Di sini strategi seperti itu harusnya tidak berhasil; tak ada pangkalan ojek lain paling tidak 2 hingga 3 kilometer ke depan.

Anehnya, strategi Kenot manjur.

“Ya udahlah, Neng. Tapi nggak lama kan di atas?”

“Paling 1 jam, Pak” jawab kami mantap.

Belum setengah perjalanan menuju Talaga Bodas, diam-diam kami semua menyesali telah begitu tega dan alot menawar harga ojek ini. Kenapa? Pertama, jarak 15 kilometer itu ternyata jauh sekali, hampir setara jarak dari Stasiun Gambir ke Kebun Binatang Ragunan di Jakarta. Kedua, jarak yang jauh itu ditambah dengan kondisi jalanan menanjak, menurun, menikung, rusak parah, dan harus melewati satu titik longsoran tebing.

Wahai bapak di angkot yang mengatakan ongkos ojek ke Talaga Bodas hanya sekitar IDR 15.000, entah angka itu benar atau salah, sungguh jika kami tahu medannya seperti ini, kami tak akan tega menawar dengan kejam.

***

But, it’s all worth it.

Air di Talaga Bodas yang Berwarna Tosca

Air di Talaga Bodas yang Berwarna Tosca

Perjuangan berpegangan erat-erat pada jok motor, lalu beralih ke pundak Bapak Ojek, dan di saat motor kami musti didorong (dengan saya dan Pak Ojek tetap nangkring di atas motor) kala melewati jalan yang longsor saya mau tak mau memeluk pinggang Pak Ojek untuk menjaga keseimbangan, semua terbayarkan saat kami tiba di Talaga Bodas.

Jam belum menunjukkan pukul 10.00 pagi, wisatawan lainnya belum ada yang sampai di kawasan wisata ini. Baru ada sepasang kekasih yang masih pakai seragam SMA berjalan di depan kami. Talaga Bodas seutuhnya jadi milik kami (untuk membuat 7 album foto narsis).

Talaga Bodas terletak di ketinggian lebih dari 1500 mdpl, secara penampilan ia begitu mirip dengan Kawah Putih yang ada di daerha Ciwidey, Kabupaten Bandung, hanya saja ukurannya lebih kecil. Eits, lebih kecil bukan berarti lebih tidak berbahaya. Justru air belarang di Talaga Bodas bisa mencapai suhu 85 hingga 95 derajat Celcius, itulah sebabnya sekeliling Talaga Bodas diberi pagar kayu, dan pengunjung dilarang untuk mendekat pada jarak tertentu.

Perpaduan gradasi warna air beleran dari putih hingga hijau tosca dengan hijaunya pepohonan hutan yang mengelilingi Talaga Bodas ini bikin kami betah untuk berlama-lama di sana. Andai kami punya banyak waktu, Kenot ingin mencoba berendam di kolam air panas yang disediakan pengelola. Saya sendiri malas untuk mencoba, karena ga pengen repot dan tak nyaman dengan baju basah selama di perjalanan menuju hotel kami di kawasan Darajat (God knows betapa jauhnya kedua tempat ini berjarak).

Tak ingin menjadi egois, saya persilakan ketiga sahabat saya untuk mencoba kolam air panas jika mau. Kenot sepertinya ingin, asal ada temannya. Saya males. Deta dan Santi pun tak bergerak. Maaf ya, Not.. kali ini kamu harus menahan keinginanmu.

***

4 Sahabat dari SMA, saya dibalik kamera

4 Sahabat dari SMA, saya dibalik kamera

Bersahabat sejak SMA, bertahan hingga saat kini kami merantau di ibukota. Sesekali kami pergi refreshing ke suatu kota. Tahun lalu kami ke Sukabumi, tahun ini kami menyambangi Garut. Berempat kami deg-degan ketika ojek kami harus menaklukkan jalan berbatu menuju Talaga Bodas, lalu semua deg-degan itu luruh saat pulang dari sana, Pak Ojek hanya 2 kali menyalakan mesin motornya untuk menuruni bukit; di jalan yang longsor tadi, dan disebuah kelokan yang tertutup lumpur.

Sisanya? woooohooo, biarkan jalanan menurun yang bekerja!

Share: