Lima belas hari sudah berlalu dari tahun baru Imlek. Puncak perayaannya yang biasa disebut dengan Cap Go Meh pun kemarin (22 Februari 2016) baru saja diperingati. Di beberapa social-media, gambar dan berita tentang peringatan Cap Go Meh silih berganti muncul. Yang paling menarik tentu saja foto-foto para tatung di Singkawang.

Butuh keberanian tersendiri bagi saya untuk melihat gambar seseorang dengan anggota tubuh (umumnya bagian wajah) ditusuk-tusuk berbagai benda tajam. Tanpa darah, dan tanpa raut wajah kesakitan, namun tetap bikin ngilu.

Vihara Dhanagun, Bogor

Vihara Dhanagun, Bogor

Tahun baru Imlek adalah perayaan menandai berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi. Dipercaya peringatan tahun baru Imlek bermula dari kemunculan “nian” atau raksasa yang melahap habis seluruh isi pedesaan di Tiongkok di setiap akhir musim dingin. Orang-orang lalu menaruh makanan di depan pintu rumah agar “nian’ tidak memangsa apa yang ada di dalam rumah.

Hingga suatu kali, orang melihat “nian” lari ketakutan setelah melihat anak kecil berbaju merah lari membawa obor melintasi desa. Sejak itu masyarakat percaya, agar “nian” tak lagi menyerang desa, mereka memperingati berakhirnya musim dingin dengan festival kembang api dan mengenakan baju merah.

Tampak Muka Vihara Dhanagun

Tampak Muka Vihara Dhanagun

Seiring dengan penyebaran orang Tionghoa ke berbagai belahan dunia, perayaan Imlek pun tak hanya diperingati di Tiongkok. Hampir di setiap negara yang terdapat Pecinan atau Little China, pasti merayakan Imlek. Tak terkecuali di negara kita. Di Indonesia, perayaan Imlek sempat dilarang pada masa Orde Baru.

Tahun baru Imlek (dan semua budaya Tionghoa) baru kembali bisa dirayakan setelah Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres 14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina pada tahun 2000. Tahun 2002, Presiden Megawati meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional, dan mulai dijalankan tahun 2003.

Saya pribadi, sangat suka jalan-jalan di Pecinan, keluar masuk pasar tradisional di sana, juga main ke kelenteng. Rasanya selalu ada yang unik dan meriah di Pecinan.

Entah itu bertoples-toples bahan obat tradisional yang berjejer rapi di etalase toko obat di Glodok. Entah itu tumpukan teripang di Pasar Petak 9. Entah itu barisan lilin raksasa berwarna merah di kelenteng dan vihara. Selalu ada yang memesona saya di sana.

Altar di Vihara Dhanagun

Altar di Vihara Dhanagun

Termasuk ketika saya ikut acara Telisik Jalur Naga yang diadakan @JakartaCorners 6 Februari 2016 lalu. Hanya dua hari sebelum masyarakat Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Jujur, saya penasaran sekali, apa yang dipersiapkan oleh orang-orang Tionghoa sebelum perayaan Imlek.

Pagi itu kami tiba sebelum pukul sepuluh pagi di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Bogor. Suasana vihara masih terlihat lengang. Sebuah tenda terpal besar sedang dipasang di halaman vihara. Tentu saja ini bagian dari persiapan perayaan Imlek. Halaman vihara terlihat tersapu bersih. Beberapa alat tukang yang sedang mengerjakan renovasi di sisi kiri vihara juga tersusun rapi.

Kami yang belum diberi aba-aba diperbolehkan masuk ke dalam vihara oleh ‘pemimpin tour’, duduk-duduk saja di halaman sambil sesekali memotret bagian luar vihara.

Sebuah relief yang cukup terkenal di Indonesia tergambar di sisi kiri (jika kita menghadap ke pintu masuk vihara); relief bergambar seekor siluman kera, siluman babi dan seorang biksu. Tanpa perlu diberi penjelasan, saya yakin pasti relief tersebut diangkat dari kisah perjalanan ke Barat biksu Tong dalam mencari kitab suci.

Di depan vihara, dua buah patung singa dari batu berdiri kokoh seolah menjaga vihara.

Seorang bapak -yang belakangan saya tahu bermana Pak Ayung- mempersilakan kami masuk. Dan hampir seperti kebanyakan pengurus vihara atau kelenteng yang saya temui di tempat lain, beliau dengan sangat ramah menerangkan tentang sejarah Vihara Dhanagun, pun menjawab berbagai macam pertanyaan dari teman-teman lainnya.

Bersembahyang Menghadap Altar

Bersembahyang Menghadap Altar

Tidak ada yang tahu persis kapan Vihara Dhanagun atau Hok Tek Bio didirikan. Tak ada satupun bukti otentik yang bisa menjelaskan kapan berdirinya rumah ibadah ini. Hanya ada sebuah foto yang diyakini diambil pada tahun 1860, yang menunjukkan Vihara Dhanagun telah beerdiri kokoh pada tahun itu. Foto itu menunjukkan, halaman muka Vihara Hok Tek Bio masih menjadi satu dengan Kebun Raya Bogor.

Vihara Dhanagun di Tahun 1860

Vihara Dhanagun di Tahun 1860

Pak Ayung mempersilakan kami untuk bebas memotret sekeliling vihara. Ia hanya meminta kami untuk tidak berdiri di depan umat yang sedang bersembahyang. Sebuah permintaan universal yang saya yakin semua umat beragama pasti memahami.

Ia pun tak segan untuk menjelaskan tata cara ritual bersembahyang di vihara. Dari titik pertama persembahyangan menghadap ke pintu masuk vihara, lalu bergeser ke altar utama, lalu ke altar yang ada di samping kanan kiri altar utama.

Menyiapkan Lembaran "Uang" untuk Sembahyang

Menyiapkan Lembaran “Uang” untuk Sembahyang

Tentang aneka rupa persembahan yang dibawa oleh umat. Tentang filosofi deretan lampu minyak bertuliskan berbagai nama yang dinyalakan di sisi kanan dan kiri ruangan altar. Tentang dewa pelindung yang membangun dunia ini dengan kapak dan palu di kedua tangannya.

Lampu Minyak Penerang Hidup

Lampu Minyak Penerang Hidup

Seperti saya bilang, selalu menyenangkan berkunjung ke Pecinan. Tak terkecuali pada kesempatan mengenal Pecinan di Bogor kali ini. Sedikit terlambat, ijinkan saya mengucapkan “Xin Nian Kuai Le! Ji Xing Gao Zhao!” (Selamat Tahun Baru, semoga bintang keberuntungan Anda selalu bersinar terang!)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Telisik Imlek Blog Competition JakartaCorners yang di sponsori oleh Batiqa Hotels” 

Share: