Di kota Surakarta atau Solo terdapat dua tempat yang merupakan pusat pembuatan dan perdagangan batik yang sangat terkenal; kampung batik Kauman dan kampung batik Laweyan. Jika kampung batik Kauman berada di pusat kota Solo, yakni di sekitar Jalan Slamet Riyadi, maka kita perlu berjalan sedikit agak ke sisi barat kota Solo jika ingin mengunjungi kampung batik Laweyan.

Sangat mudah untuk menemukan posisi kampung batik Laweyan. Kita hanya perlu mencari Jl. Dr. Radjiman, lalu carilah papan petunjuk yang menunjukan gang masuk ke kampung batik Laweyan. Jangan terkecoh dengan toko-toko batik besar yang ada di tepi Jl. Dr. Radjiman, karena tempat ‘perburuan’ batik-batik terbaik sesungguhnya ada di dalam gang-gang kampung.

Berbelanja (ataupun hanya sekedar jalan-jalan) di kampung batik Laweyan, kita tidak hanya akan menyaksikan deretan toko-toko batik saja. Sejarah panjang kampung Laweyan sudah dimulai sejak jaman kerajaan Pajang, berlanjut hingga ke jaman pendirian Sarekat Dagang Islam, dan terus berlanjut hingga sekarang.

Gang di kampung batik Laweyan

Mas Penunjuk Jalan

Tak heran jika setiap lekukan gang kampung batik Laweyan kita bisa dengan mudah melihat berbagai jenis rumah; dari tipe rumah pendopo juragan batik dengan halaman super luas yang digunakan untuk menjemur kain, berganti dengan rumah tinggal biasa bergaya kolonial, berganti dengan rumah minimalis khas tahun 2000-an, lalu berganti lagi dengan gang yang membelah dua buah rumah kuno dengan pagar ekstra tinggi.




Saya memasuki sebuah toko kecil yang ada gang utama kampung batik Laweyan. Mbak penjaga toko mempersilakan saya masuk dengan ramah. Saya langsung menghampiri sebuah rak kayu dan mengambil sehelai kain batik berwarna hijau putih.

“Itu kain buatan pengrajin kami sendiri, Mbak”

“Tulis ya?”

“Iya, full tulis. Panjang 3 meter, bisa untuk sarimbit…”

“Berapa ini, Mbak?”

“900ribu, Mbak. Untuk mbak, saya kasih diskon 10%, jadi 810ribu saja…”

Kain untuk batik

Lembaran kain yang sudah di cuci, siap digambari pola batik

Ah, bahkan harga setelah diskonnya pun masih diluar budget belanja saya.

Bukan, harga IDR 810.000 untuk selembar kain batik tulis ukuran panjang 3 meter bukanlah harga yang mahal. Jika saja saya diperbolehkan mengambil foto kain itu, kamu pasti setuju jika harga yang ditawarkan termasuk sangat murah.

Sudah pernah dengar ‘kan dengan cerita tentang tukang becak yang menawarkan harga sangat murah (cenderung tidak manusiawi) untuk berkeliling kota Jogja, lalu berakhir dengan mengantarkan kita dari satu toko oleh-oleh ke toko lain?

Di Solo pun saya mengalaminya. Saya naik becak dari warung timlo Sastro di dekat Pasar Gedhe Solo. Dari awal sebelum saya menawar becak, saya sadar bahwa tempat tujuan saya lumayan jauh untuk ukuran perjalanan dengan menggunakan becak. Saya pun tak tega menawar terlalu banyak. Namun di tengah jalan, Pak Becak berusaha merayu untuk memindahkan tujuan ke kampung batik Kauman saja, katanya di sana batiknya jauh lebih bagus dan lengkap.

Ia baru berhenti menawarkan ketika saya bilang saya sudah pernah ke kampung batik Kauman, dan sudah pernah juga berbelanja di semua toko yang dia sebutkan.

Kampung Batik Laweyan

Salah satu toko batik di kampung batik Laweyan

‘Jebakan’ tak berhenti sampai di Pak Becak saja.

Sesampainya di gang kampung batik Laweyan, ada beberapa laki-laki yang berdiri di tepi jalan, seolah-olah menunjukkan gang mana yang ada toko batik yang lengkap. Lalu begitu kita berbelok mengikuti arahannya, ia tiba-tiba sudah berjalan di depan kita dan siap mengarahkan langkah ke toko tertentu.

Sekali saya mencoba menghindari arahannya dan berbelok masuk ke rumah yang tidak ia arahkan. Cukup lama saya melihat-lihat di rumah penjual batik itu. Weladhalah, kok ya pas saya keluar dari rumah itu, ia masih menunggu di depan pintu!

Sungguh saya kagum dengan persistensi Mas ‘Penunjuk Jalan’.

Tips saya, untuk menghindarkan rayuan Pak Becak untuk mampir ke toko tertentu; dari awalkan jelaskan dengan pasti tujuan kita, dan yakinkan bahwa kita lebih senang membayar jerih payahnya dengan harga yang layak daripada membayar ongkos becak murah namun diantarkan ke tempat yang bukan tujuan kita. Sampaikan dengan sopan dan jelas, psati ia akan mengerti.

Untuk Mas ‘Penunjuk Jalan’; sebisa mungkin hindari saja kontak mata dari mereka, berjalanlah seolah kita memang tahu toko tujuan kita. Kalau ia memaksa dengan halus untuk masuk ke sebuah toko, ikuti saja. Jika memang ada barang bagus yang kita butuhkan, ya beli. Ndak ada? ya jalan lagi!

Batik Laweyan

Pengen bawa pulang semua!

Hampir setiap toko di kampung batik Laweyan menawarkan aneka jenis batik. Dari mulai batik tulis halus berharga jutaan rupiah, hingga yang katanya hanyalah kain bermotif batik (karena dibuat dengan mesin printing kain, buat malam, canting ataupun cap) yang harga selembarnya cuma IDR 60.000.

motif batik

Satu motif, ada tiga warna. Hayati mau semuanya, Engku!

Telusurilah Laweyan, dan lihat apakah kamu kuat menahan godaan dari lambaian kain di kampung batik Laweyan!

Share: