Saya bukan anak yang dekat dengan mama. Dari kecil saya ga biasa becanda, ataupun curhat-curhat a la – a la abege dengan beliau. Berbeda dengan adik-adik saya yang bisa berjam-jam duduk di dapur nungguin mama masak sambil cerita ini itu. Mungkin karena faktor kami sudah hidup berpisah semenjak akhir SD. Atau mungkin faktor mama seorang Aries yang mengagungkan kepraktisan, harus berhadapan dengan anak Leo-nya yang semua-mua serba drama ini.

Banyak hal yang tidak saya warisi dari gen Mama. Selain ketidakmiripan fisik, salah satu yang tidak saya warisi adalah spontanitas.

mama

Mama saya ketika umur 21 tahun.

Jaman sekolah dulu, Mama termasuk anak yang bandel. Ketika saudara-saudara kandungnya yang lain bisa keterima di sekolah Katolik elit di Yogyakarta, dan tinggal di asrama, Mama ‘hanya’ keterima di sekolah negeri di Klaten. Tak cukup hanya keterima di sekolah negeri saja, Mama juga sering bolos sekolah, naik motor dengan teman-temannya, pergi ke Deles (salah satu kaki Gunung Merapi di Klaten).

Saya? Mana berani saya bolos sekolah. Jangankan untuk kabur sejauh itu ke Deles, kabur ke kantin sekolah aja baru berani setelah kelas 3 SMA.

Iya, saya cemen.

Termasuk ketika memilih pekerjaan. Sebelum bertemu papa saya, mama bekerja sebagai tenaga sales (kalau jaman sekarang SPG, kali yaa…) sebuah perusahaan FMCG terkemuka. Tugasnya memperkenalkan dan menjual produk detergen dari satu pasar ke pasar lain di kota Bandung. Sebelumnya ia pernah bekerja di pabrik benang, tugasnya; mengamati mesin pemintal, kalau-kalau ada yang kusut. Gaji pokok kedua pekerjaan itu sama saja, hanya kalau jadi SPG, ada bonus jika melampaui target penjualan.

Nah, Mama lebih memilih pekerjaan yang keluar masuk pasar, jualan dari satu warung kelontong ke warung kelontong lain, agar bisa dapat bonus diakhir bulan. Plus bisa kabur jalan-jalan ke Lembang kalau target sudah terpenuhi.

Saya? lebih memilih pekerjaan yang memaksa duduk di depan komputer dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, dan harus puas dengan jatah cuti 12 hari setahun.

Begitu menikah, mama berhenti bekerja, dan jadi ibu rumah tangga sejati. Meskipun semasa single ia doyan kelayapan, begitu menikah ia jadi perempuan rumahan yang ngurus suami dan anak-anaknya. Karena emang dari SMP sudah bisa jahit dan suka bikin kerajinan, di waktu senggang mama bikin tuh segala macam taplak meja, sarung bantal, bunga-bungaan dari pita jepang warna warni, sampai hiasan dinding kristik ukuran 1 x 1.5 meter bergambar Perjamuan Terakhir pun dia bikin sendiri.

Sampai saya usia TK, saya dan kakak saya tiap kali jalan-jalan masih pakai baju kembaran hasil jahitan mama. Kaya anak panti asuhan gitu, diseragamin.

Karena belum menikah, saya belum bisa bandingin gimana nanti saya ngurus rumah tangga. Tapi kayanya sih saya mendingan nyerah duluan deh kalau musti bikin baju kembaran dua anak perempuan yang beda usia 3 tahun. *melambai ke kamera*

Kita belanja di ITC  aja gimana, Mz?

Banyak yang bilang, setelah menikah, nyali seorang perempuan akan turun drastis karena pertimbangan ada anak. Yang dulunya berani kesana kemari sendirian, jadi harus dianterin. Saya melihat itu di mama saya. Kadang-kadang gemes juga sih, mau beli baju ke mall deket rumah aja, nunggu dulu anaknya yang lagi di asrama pulang. Ga semua perempuan ya, ada juga yang tetep pemberani.

Ada satu kejadian yang bikin saya gemes banget sama Mama. Waktu papa saya operasi beberapa bulan lalu, mama saya 24 jam nungguin di rumah sakit. Nah, untuk penunggu pasien itu dikasih semacam kartu name-tag. Karena papa saya masuk RSCM pas week-end, kartu name-tag baru bisa diurus hari Senin-nya. Ga punya name-tag, siap-siap aja dicegat satpam Gedung A RSCM yang memang terkenal strict dengan para pembesuk pasien.

Hari Sabtu, situasi masih aman karena ada ade saya yang jagain dan siap sedia beli makanan (plus menghadapi pertanyaan satpam di pintu masuk). Hari Minggu pagi, ade saya pulang, dan saya baru bisa gantian jaga hari Minggu sore.

Pas saya datang hari Minggu sore, Mama saya belum makan dari pagi dengan alasan: tadi pagi lupa nggak nyuruh Nduk beli makanan dulu. Trus kenapa ga keluar sendiri beli makan, tanya saya. Jawabannya: males ah keluar-keluar, nanti ribet sama satpam!

*tepok jidat, udah ga ngerti lagi sama level ‘kecemenan’ Mama*

Mama dan alm. Mbah Kakung

Mama dan alm. Mbah Kakung

Saya mencoba mengerti, tidak fair memang membandingkan mama yang sekarang dengan masa mudanya, karena memang situasinya yang sudah jauh berbeda. Ibaratnya, dulu mungkin mama adalah seekor kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Sekarang kupu-kupu itu sudah melupakan kemampuan terbangnya, bahkan melepaskan sayapnya, membesarkan anak-anaknya agar bisa terbang lebih tinggi.

Di awal, saya bilang saya ga begitu dekat dengan Mama. tapi hampir 750 kata bisa saya tulis tentangnya dalam waktu kurang dari 30 menit.

Selamat Hari Ibu, Mama!

Share: