“Kak, kita musti ke Penang Peranakan Mansion!” kata Bulan saat kami beristirahat di sebuah kedai makanan vegetarian, berlindung dari panasnya matahari pulau Penang yang tengah bersinar garang.

“Emang bagus?” tanya saya.

“Bagus! Bagus banget!”

“OK, kita ke sana.”

Sayangnya, setelah makan (dan akibat ingatan saya yang buruk saat mengingat letak pemberhentian bus di sekitar Hock Teik Cheng Sin Temple sehingga kami harus berjalan berputar-putar) kami kelelahan untuk lanjut menuju Penang Peranakan Mansion.




“Lagi pula ini udah jam hampir jam 4 sore, Kak. Sampai di sana, mungkin paling cepat 20 menit. Tempatnya tutup jam 5 sore, sayang banget kalau di sana buru-buru…” kata Bulan. Kami memutuskan untuk menunda kunjungan ke Penang Peranakan Mansion.

Malam hari sebelum kami keluar makan malam, saya mengamat-amati peta jalur CAT bus (free shuttle bus di Penang), mencari-cari halte nomor 15, halte dimana kami harus turun jika hendak mengunjungi Penang Peranakan Mansion.

“Buy, aku sekilas kebayang posisi halte no 13 dan 16, tapi kok 14 dan 15 ini kaya ga pernah lihat ya posisinya ada di mana…”

Bulan ikut mengamati peta yang saya pegang, “Hey, gimana kalau habis makan nanti kita putar-putar Georgetown naik CAT bus aja. Kita urutin semua nomor haltenya, jadi besok kita ga nyasar lagi kalau mau ke Penang Peranakan Mansion!” Bulan melontarkan ide.

Ternyata, halte nomor 15 memang tidak seperti pemberhentian CAT bus ataupun Rapid Penang pada umumnya. Halte ini hanya ditandai dengan sebuah tanda seperti rambu-rambu lalu lintas itu, dengan tulisan angka 15. Posisi rambu itu ada di trotoar di depan sebuah gedung perkantoran, dan seringkali tertutup oleh barisan mobil box yang sedang parkir. Ah, pantesan kami susah menemukan halte itu!

Penang Peranakan Mansion

Penang Peranakan Mansion

Dari halte tempat kami turun, kami perlu berjalan kaki sekitar 5 menit menyusuri sebuah jalan kecil. Lalu nampaklah sebuah bangunan berwarna hijau mint di kiri jalan, itulah Penang Peranakan Mansion.

Bangunan itu diperkirakan dibangun sekitar akhir abad ke-19, dulu bangunan ini dikenal dengan nama Hai Kee Chan, sebuah rumah dan kantor dari Kapitan Chung Keng Kwee. Bangunan Penang Peranakan Mansion mempunyai ciri-ciri yang tak jauh berbeda dengan bangunan rumah Straits Chinese lainnya di Penang; rumah luas penuh dengan ukiran kayu ala Cina, tegel bergaya Inggris, dan besi tempa terbaik dari Scotland.

Foto Pre-Wedding di Penang Peranakan Mansion

Karena keindahannya, Penang Peranakan Mansion sering dijadikan lokasi foto pre-wedding.

Saat ini, bangunan ini digunakan sebagai museum; tempat menampilkan benda-benda warisan dari keluarga para Baba dan Nyonya yang pernah tinggal di Penang. Koleksi yang ada di dalam museum ini sangat beragam, mulai dari furnitur mewah, aneka sepatu, tas, pakaian dan perhiasan, hingga berbagai macam jenis keramik dan porselen.

Koleksi keramik, guci dan giok di Penang Peranakan Mansion

Koleksi keramik, guci dan giok di Penang Peranakan Mansion

Sayangnya kami datang tidak mendekati jadwal tur free keliling museum, sehingga harus puas berkeliling sendirian tanpa panduan. Jasa pemandu keliling museum disediakan di area pintu masuk, namun saya dan Bulan sepakat untuk tidak memakai pemandu. Biar hemat.

Selop hand-made

Manik-manik di atas selop itu kesemuanya dipasang dengan tangan alias hand-made!

Tas Nyonya

Cantik banget, ya!

Purse alias dompet wanit yang tak kalah cantiknya.

Purse alias dompet wanit yang tak kalah cantiknya.

Buat kami, mengunjungi Penang Peranakan Mansion ini beneran bikin mupeng! Melihat barisan sepatu berbagai jenis, mulai dari selop, mules, sandal, flat shoes, mary-jane, kesemuanya dihias dengan manik-manik aneka warna yang membentuk gambar bunga, hewan, hingga pemandangan dengan sangat cantiknya. Belum lagi tas, dan baju bersulam benang aneka warna yang tak kalah eloknya!

Aku mau yang itu!

Aku mau yang itu!

Ah, andai kami adalah putri-putri Baba dan Nyonya di jaman itu…

Share: