“So, you’re living in Jakarta? And you join this walking tour?” tanya Anneke, salah satu peserta Chinatown Walking Tour bersama @JKTgoodguide pada saya pagi tadi.

“Yes, because I want to know the other side of my city. I’ve been living in Jakarta for more than 5 years, but I’ve only visited Glodok area less than 3 times.”

“Oh, I understand. We just don’t really go out in our own city!” Steve, suami Anneke menimpali pembicaraan kami.

Sudah lama saya tertarik untuk ikutan tur jalan kaki yang rutin di adakan oleh @JKTgoodguide, tapi selalu ada saja ‘alasan’ yang menunda keinginan itu. Kadang waktunya yang nggak pas, kadang pas saya ada acara lain, kadang saya males bangun pagi. Mungkin benar kata Steve, we just don’t really go out in our own city.

Jadi, karena tidak ingin tidak mengenali kota tempat tinggal sendiri, saya menantang diri untuk ikutan Walking Tour bersama @JKTgoodguide. So here I am, 09.00 am Sunday morning, ready to roam the Jakarta’s Chinatown with Anneke, Steve, Harumi, Liz, Tobalt, and our guide Indra.




Titik awal perjalanan menyusuri pecinan Jakarta dimulai dari Hotel Novotel di Jl Gajah Mada. Beberapa kali saya pernah lewat di depan bangunan ini, tapi nggak pernah tahu, ada bangunan cantik yang nyempil di tengah-tengah bangunan hotel berbintang itu.

Candra Naya Sang Rumah Mayor

Candra Naya Sang Rumah Mayor

Candra Naya, demikian papan nama yang terpampang di atas bangunan satu lantai dengan arsitektur khas Tiongkok. Posisi rumah ini terlihat agak aneh; berada di tengah-tengah bangunan hotel Novotel dan condominium/apartemen yang yang mengelilinginya. Kok bisa?

Dibangun sekitar tahun 1800-an, Candra Naya dulunya adalah rumah kediaman Mayor Khouw Kim An, seorang yang diangkat sebagai mayor bangsa Tionghoa di Batavia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1910. Oleh sebab itu, pada jaman itu Candra Naya juga dikenal sebagai Rumah Mayor.

Bagian Samping Rumah Mayor

Bagian Samping Rumah Mayor

Rumah Mayor tidak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal Khouw Kim An saja, namun juga berfungsi sebagai ‘kantor’ tempat Khouw Kim An menjalankan pemerintahan dan usaha perdagangannya. Selain satu bangunan rumah induk dan taman belakang, di samping kanan kiri bangunan utama terdapat bangunan lain yang dulu berfungsi sebagai rumah para istri dan kantor.

Bagian Dalam Rumah Mayor

Bagian Dalam Rumah Mayor

Mayor Khouw semasa hidupnya memiliki 14 istri dan 27 anak (jika saya tidak salah dengar). Para ahli warisnya lah yang kemudian menjual tanah yang berada di bagian depan rumah kepada developer yang kemudian membangun hotel dan apartemen tersebut. Satu hal yang terlupa, Candra Naya atau Rumah Mayor adalah bangunan cagar budaya yang tak bisa dirobohkan begitu saja.

Tumpang Tindih Atap Candra Naya

Tumpang Tindih Atap Candra Naya

Tapi sudah pasti developer yang mengembangkan kawasan ini tidak mau rugi dong! Masa sudah beli tanah mahal-mahal, kok ga bisa membangun. Akhirnya didapatkanlan solusi yang cukup mengakomodir kepentingan semua pihak; Rumah Mayor tetap dipertahankan, namun developer diijinkan untuk membangun pilar dan membangun apartemen di sekeliling bagian atas Rumah Mayor.

Taman Belakang Candra Naya

Taman Belakang Candra Naya

Bukan cara sempurna untuk melindungi bangunan cagar budaya, saya rasa, namun mungkin inilah cara kompromi yang harus diambil.

Perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Glodok. Di seberang pusat perbelanjaan Lindeteves, Indra sempat menghentikan langkah kami di depan sebidang tanah yang saat ini tengah dibangun. Sebelum hubungan Indonesia – RRC terputus di tahun 1965, rupanya di tanah tersebut berdiri Kantor Kedubes China di Jakarta.

Upacara Bakar Celengan

Upacara Bakar Celengan

Tujuan kami berikutnya adalah Vihara Dharma Bhakti yang berada di Jl. Kemenangan III No 19, Petak Sembilan, Glodok. Sepanjang jalan menuju Vihara Dharma Bhakti, Indra memberikan beberapa trivia seperti; “mengapa Glodok disebut Glodok”, “asal mula nama Petak Sembilan”,  sementara Liz dan Harumi penasaran akan kolang-kaling, teripang, saren (itu lho, darah ayam atau sapi yang dibekuin), sampai ke sejenis buah labu yang dijadikan sabut pencuci piring.

Vihara Dharma Bhakti sebelum terbakar - Sept 2014

Vihara Dharma Bhakti sebelum terbakar – Sept 2014

Vihara Dharma Bhakti telah berumur lebih dari 400 tahun, harus ‘menyerah’ pada ganasnya api pada tanggal 2 Maret 2015. Banyaknya lilin, dupa, dan karena hampir seluruh bangunan terbuat dari kayu, membuat api sulit dipadamkan.

Vihara Dharma Bhakti yang habis terbakar

Vihara Dharma Bhakti yang habis terbakar

Dari Wihara Dharma Bhakti, kami melanjutkan Chinatown Walking Tour  ke Gereja Santa Maria de Fatima. Sekilas, kita tidak akan menyangka bangunan ini adalah sebuah gereja, karena dari luar bangunan ini terlihat seperti tipikal bangunan rumah Tiongkok biasa. Sayangnya, karena kami datang pada hari Minggu pagi, saat Misa sedang berlangsung, sehingga kami tak bisa mengintip bagian dalam gereja ini.

Gereja Santa Maria de Fatima Glodok

Gereja Santa Maria de Fatima Glodok

Tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima, kami menghentikan langkah di Vihara Dharma Jaya Toasebio. Dari luar, Vihara ini terlihat lebih modern dibandingkan Vihara Dharma Bhakti. Di Vihara ini, untuk pertama kalinya saya melihat dupa berbentuk spiral raksasa. Saya dan Tobalt terkekeh melihat dupa ini, karena kami pikir ini adalah cara yang sangat cerdas untuk mempertahankan nyala dupa selama mungkin. Tidak perlu membuat dupa dalam bentuk yang sangat panjang, namun akan menyala sangat lama.

Dupa Spiral di Vihara Toasebio

Dupa Spiral di Vihara Toasebio

Waktu semakin menuju tengah hari, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan terakhir; Gang Gloria. Indra mengusulkan untuk minum kopi di Es Tak Kie. Saya hampir memekik gembira, karena pada kunjungan pertama saya ke Gang Gloria, saya tidak bisa menemukan warung kopi kuno ini. Tidak bisa menemukan karena, obviously, saya enggan bertanya. Rupanya pada kunjungan kedua ini, saya pun masih kurang beruntung. Es Tak Kie penuh sesak, tak ada satu kursi pun untuk kami duduk.

Indra dari @JKTgoodguide

Indra dari @JKTgoodguide

Selepas Gang Gloria, kami berpisah. Terimakasih @JKTgoodguide dan Indra yang sudah menunjukkan sisi lain Jakarta. Kalau kamu ingin juga mengenal Jakarta lebih dekat, jangan ragu untuk ikutan walking tour mereka. Silakan hubungi @JKTgoodguide via email: jakartagoodguide@gmail.com, tak hanya tur gabungan seperti keliling Chinatown seperti ini, @JKTgoodguide juga mempunyai beberapa tur lainnya yang tempat dan waktunya bisa disesuaikan dengan waktu kamu dan ketersediaan guide.

Selamat [lebih] mengenal kota sendiri!

Share: