“Duit lo banyak banget ya? Jalan-jalan melulu!” beberapa kali saya mendapat pertanyaan (dan judgment) seperti itu. Herannya, yang nanya dengan tingkat kekepoan hampir mencapai level tidak sopan itu, justru temen yang ga akrab-akrab amat sih.

Biasanya saya hanya menjawab pakai senyuman, atau kalau pertanyaannya diajukan lewat chat, saya jawab pakai emoticon *nyengir* aja.

Mumpung lagi ngomongin duit, nih ya saya keluarin unek-unek di balik cengiran itu:

I saved every single rupiah I use for my holiday! Sisihkan penghasilan untuk liburan. Ga ada cara mudah untuk dapat biaya liburan. Memang, sesekali mungkin ada yang ngasih voucher menginap di hotel, sesekali ada yang ngasih tiket gratis kemana saja asalkan saya nulis dulu 1 postingan blog minimal 700 kata, sesekali ada yang ngasih pinjem mobilnya untuk keliling-keliling… But most of the time, I pay for all the traveling expense!”

An Investor without investment objectives, is like a traveler without a destination.

An Investor without investment objectives, is like a traveler without a destination.

Percayalah, saya bukan mbak-mbak kantoran dengan pendapatan yang fantastis besarnya. Dari gaji yang terbatas itu, saya juga harus menyisihkan sejumlah yang tidak sedikit untuk bayar uang kost, makan sehari-hari, kosmetik, pulsa, dana pensiun, dan uang gaul (beli buku, nonton, makan di mall, ngopi cantik). Nah, budget uang jalan-jalan, biasanya saya bisa menyisihkan lebih banyak dari penghematan di sektor “uang gaul” itu.

Semakin saya ga kebanyakan bergaul (nongkrong yang ga penting) maka semakin jauh (dan banyak) saya akan jalan-jalan. Itu prinsip yang saya pegang.

Tapi ternyata oh ternyata, semakin lama menabung saja untuk biaya liburan itu ga cukup, sodara-sodara! Kenapa? Karena setiap tahun nilai uang kita tanpa sadar termakan oleh yang namanya inflasi. Udah cape-cape nabung 10 tahun demi bisa ke Eropa, eh pas waktunya tiba, uang tabungannya mepet banget buat ke sana. Kan sebel! Ga percaya kalau nabung aja buat liburan ga cukup? Nih saya buktiin ya! Misalnya nih, untuk keliling Eropa sekarang dibutuhkan budget IDR 40 juta, dengan inflasi per tahun rata-rata 10%, maka 10 tahun dari sekarang budget keliling Eropa akan jadi sekitar IDR 103 jutaan.

Trus gimana, dong? Kan pengen banget ke Eropa-nya!

Nabung aja ga cukup untuk ngalahin inflasi. Prinsip ini saya pelajari di kelas #InvestasiCerdas yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Kelas #InvestasiCerdas adalah training gratis mempelajari dasar-dasar investasi di pasar modal yang diselenggarakan oleh Mandiri Sekuritas. Ga cuma gratis lho, peserta yang ikut (yang kebetulan adalah para blogger) dibukakan Rekening Efek dan Rekening Tabungan Settlement Investor di Bank Mandiri.

Lalu gimana caranya ngalahin inflasi? Investasi. Apa sih investasi itu? Saya secara bebas menyimpulkan investasi adalah meminjamkan sejumlah modal (uang) yang kita punya ke pihak lain, dengan mengharapkan pembagian hasil (return) di masa depan. Banyak macamnya investasi ini, mulai dari menyimpan logam mulia, membeli tanah, membeli reksadana, sampai yang saya ikuti kelasnya kemarin; investasi di pasar modal.

Investasi Cerdas

Mas Fath dari Mandiri Sekuritas lagi ngajarin prinsip-prinsip dasar investasi di Pasar Modal

Kalau kita investasi di pasar modal itu, uang kita kemana sih? Contoh mudahnya begini; misalnya kita punya uang IDR 10.000.000, lalu ada sebuah perusahaan produsen mie instant paling ternama seantero dunia itu sahamnya dihargai IDR 10.000/lembar alias IDR 1.000.000/lot (1 lot = 100 lembar saham). Maka dengan IDR 10.000.000 kita bisa membeli 10 lot saham perusahaan mie instant tersebut. Uang yang kita belikan saham tersebut, akan masuk ke perusahaan mie instant sebagai tambahan modal. Seiring berjalannya waktu, mie instant makin digemari diseluruh dunia, produksinya meningkat, penjualan meroket, laba perusahaan naik pesat, harga saham perusahaan mie instant itu ikut naik di bursa, saat ini jadi IDR 12.000/lembar. Maka nilai total saham yang kita punya menjadi IDR 12.000.000 jika kita jual.

Bagaimana jika terjadi kondisi mie instant tidak laku lagi karena masyarakat mulai sadar untuk bergaya hidup sehat, ga mau lagi makan mie instant yang banyak MSG-nya? Penjualan perusahaan merosot, pendapatan menurun, harga saham perusahaan mie instant saham di bursa anjlok jadi IDR 9.000/lembar, misalnya. Nah, jika saat harga segini kita jual saham kita, otomatis kita rugi IDR 1.000/lot.

MOST Mandiri Sekuritas

Jangan pusing lihat tampilan aplikasi MOST ini ya, Investasi Cerdas ga serumit yang kamu bayangin kok!

Tapi catat, selama kita belum benar-benar menjual saham yang kita miliki, kerugian/keuntungan kita belum nyata lho. Jadi, setiap transaksi investasi saham, memang sebaiknya kita pikirkan masak-masak. Pelajari dulu tentang emiten yang akan kita beli sahamnya, pelajari kemungkinan performance emiten tersebut di masa yang akan datang. Jika bisa, usahakan membaca laporan keuangan perusahaan tersebut selama beberapa tahun terakhir. Jangan pernah menganggap investasi saham sebagai main saham; karena kalau main-main, nanti kita bisa salah investasi, trus rugi.

bullish market

Banteng, lambang market yang sedang untung (bullish)

Beberapa minggu terakhir ini, selain nilai tukar mata uang kita terhadap USD terus melemah, indeks saham kita juga terus rontok. Masih yakin investasi saham aman?

Saya pribadi beranggapan aman. Justru indeks saham yang menurun, buat saya ini kesempatan untuk membeli saham-saham yang selama ini tidak terbeli karena terlalu mahal, jadi lebih lebih terjangkau harganya. Ibarat department store, bursa kita saat ini sedang ada midnight sale, gitu. Saya yakin, jika keadaan ekonomi membaik (dan saya yakin, tidak dalam jangka waktu yang lama, ekonomi kita akan membaik), indeks bursa saham kita akan kembali melejit. Saat itu tiba, kita akan nyesel banget kalau saat ini ga banyak belanja.

Bursa Efek Indonesia dari masa ke masa

Bursa Efek Indonesia dari masa ke masa

Jangan takut untuk berinvestasi cerdas di bursa saham, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, baru sekitar 1% yang berinvestasi di bursa saham. Menurut Bursa Efek Indonesia, dari total keseluruhan investor, di tahun 2014 investor dalam negeri baru mencapai angka sekitar 41%. Artinya, jika 59% investor asing yang ada di bursa Indonesia menarik investasinya, bursa kita akan kehilangan sebagian besar investasinya. Kebayang ga, kalau baru 1% rakyat Indonesia saja yang berinvestasi di bursa, itu sudah memberi kekuatan 41%, gimana kalau 50% rakyat kita melek investasi di pasar modal, akan sekuat apa modal yang kita himpun di sana?

Share: