“Ojo turut kali, gudiken mengko sikil mu!” bentak Kakek pada saya kecil, ketika saya main air di sungai irigasi depan rumah saat liburan di kampung halaman.

[Jangan main di sungai, kaki mu nanti gatal kena kutu air!]

Ojo pit-pitan lewat tanggul lor nek arep maghrib, diweruhi onggo-inggi1 lho kowe…” di lain waktu Mbokdhe memberikan petuah.

[Jangan main sepeda di tanggul utara kalau menjelang Maghrib, nanti kamu ditampaki onggo-inggi!]

Jadi inilah saya, anak perempuan asli Klaten yang desa kakek-neneknya diapit dua buah sungai besar namun tumbuh tidak pernah akrab dengan aliran air. Dari kecil, saya tumbuh dengan mitos bahwa sungai adalah sebuah tempat yang penuh kuman, bahkan berbahaya karena sungai adalah tempat tinggal makhluk-makhluk mistis. Di sisi positif saya meyakini sungai tak lebih hanyalah cara alam untuk mengalirkan air dari gunung ke laut. Diperjalanan, aliran air tersebut memang membawa manfaat bagi orang sekitarnya; sumber air minum, mengairi sawah, memandikan ternak, mencuci baju, menggerakkan turbin. Itu saja.




Salah satu anak sungai Cigunung

Salah satu anak sungai Cigunung

Baru setelah lepas SMA, saya tahu kalau sungai bisa jadi tempat bermain yang mengasyikkan. Mitos bahwa sungai adalah tempat penuh kuman, berbahaya bagi keselamatan nyawa, perlahan-lahan mulai tergeser oleh akal sehat. Memang, sungai bisa jadi sarang ribuan kuman, dari kutu air hingga berbagai jenis bakteri, tapi kan kita bisa segera mandi bersih setelah main di sungai. Sungai bisa jadi berbahaya; terpeleset dan terantuk batu besar, hanyut terbawa arus, digigit ular dan lain sebagainya. Namun kita bisa meminimalisir kejadian tersebut dengan memakai alat pengaman diri ketika beraktifitas di sungai, juga dengan selalu waspada dan berhati-hati.

Jeram ini bisa jadi berbahaya, namun bisa juga jadi tempat petualangan

Jeram ini bisa jadi berbahaya, namun bisa juga jadi tempat petualangan

Rafting di beberapa sungai di pulau Jawa, body-rafting di Pangandaran, cave-tubing di aliran sungai dalam gua di Gunung Kidul, saya yakin jika Mbah Kakung saya tahu apa yang saya lakukan ia tetap akan berkomentar “Sikil mu mengko nak gudiken!”

Tidak, kaki saya sama sekali tidak pernah kena kutu air ataupun korengan. Maaf, Mbah! Sekali ini terpaksa saya mengatakan pendapatmu salah. Tidak main air di sungai pun kaki kita bisa penuh koreng, jika tidak pandai merawat. Tidak main air pun kaki kita bisa kena kutu air jika tidak memperhatikan kebersihan alas kaki. Jadi untuk apa membatasi pilihan petualangan karena kita takut akan kemungkinan risiko yang belum tentu terjadi. Ayo CROSS|OVER, berani melakukan suatu hal yang selama ini hanya kamu impi-impikan menjadi sesutau yang nyata!

Rivertubing Situgunung

Wohoo!

Rivertubing di sungai Cigunung, Situgunung, Sukabumi adalah salah satu petualangan di sungai yang tidak akan pernah saya lupakan. Awalnya saya pikir rivertubing di sungai ini akan sama dengan rivertubing yang pernah saya lakukan di sungai Oyo, Gunung Kidul, namun anggapan saya berubah ketika tim dari Tanakita meminta kami untuk mengenakan alat pengaman diri yang sangat serius sebelum melakukan kegiatan rivertubing di sungai yang mengalir dari hulu Curug Sawer tersebut. Pelindung kepala, knee & elbow protector, sarung tangan, pelampung telah disediakan oleh tim pemandu. Kami pun diwajibkan untuk memakai sepatu yang menutup jari kaki, juga melepaskan semua perhiasan dan aksesoris yang kami pakai. Derasnya aliran sungai Cigunung bisa melepaskan perhiasan yang kami pakai, kata salah seorang pemandu. Dalam briefing kami diberi penjelasan tentang kegiatan rivertubing ini, apa yang harus kami lakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang harus kami lakukan jika terlempar keluar dari ban yang kami duduki, dan tentunya untuk selalu mendengar dan menuruti perintah tim pemandu.

River tubing Tanakita

Nyangkut di Batu?

Selesai briefing, kami menuju titik start pengarungan sungai. Selama kurang lebih 20 menit kami menyusuri bantaran sungai, berawal dari halaman belakang warung-warung di pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango bagian Situgunung, berakhir di pada sebuah cerukan di tepi sungai. Sekitar 3 meter dari titik mulai itu sudah menanti jeram pertama; sebuah jeram deras di antara dua buah batu besar.

“Once you jump into the water, there’s no way of turning back, Ti…” suara di otak saya berbisik pada diri sendiri.

“I ain’t gonna turning back!” kata saya mantap dan meletakkan pantat saya pada ban besar yang sudah saya pegang, menyusul beberapa teman saya yang sudah lebih dulu meluncur, lalu berteriak kencang ketika air mengguyur seluruh badan saat saya berhasil melewati jeram pertama tanpa terguling keluar dari ban. Air sedingin es batu itu membekukan sebagian ketakutan saya sebelum memulai rivertubing ini.

 

River tubing Tanakita

Dari Satu Jeram ke Jeram Lain

Ini benar-benar petualangan yang tak akan pernah terlupakan!

Terbentur batu besar di kanan, terbanting hingga menghantam batu besar lain di sisi kiri, melaju kencang melewati jeram, lalu terbalik hingga harus ditolong pemandu, tertawa terbahak-bahak ketika melihat teman nyangkut di sebuah batu dengan posisi yang luar biasa konyol, menggigil kedinginan ketika kami harus berhenti sebentar menunggu teman-teman lain yang masih tertinggal di belakang, lalu tanpa sadar berbincang tentang ‘kegilaan’ yang kami lakukan ini pada rombongan lain yang belum saling kenal sebelumnya. Tanpa terasa setelah 40 menit mengarungi sungai Cigunung dengan rivertubing, saya merasakan lagi petualangan sungai yang luar biasa. Petualangan yang tidak akan pernah terjadi jika saya masih tetap percaya sungai adalah satu tempat penuh marabahaya.

River tubing Tanakita

Hampir Terbalik di Jeram?

Kita sekali-kali harus mencoba kegiatan yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, niscaya kita akan menemukan keberanian yang tidak pernah kita sadari, ternyata selama ini ada di dalam diri kita. Ayo, coba lakukan kegiatan yang selama ini jadi impian kamu, berani untuk menyeberang dari zona angan-angan menjadi kenyataan. How far will you go? You decide!

Kalau kamu mau dapat hadiah petualangan ke California, Alaska dan Canada, ayo ikutan tantangan CROSS|OVER di sini, syarat utamanya cuma 2: kamu berusia lebih dari 18 tahun dan tinggal di wilayah Indonesia. Selanjutnya tinggal selesaikan tantangan-tantangan yang muncul di profil kamu. Kalau beruntung, perjalanan penuh petualangan di tiga wilayah tadi bisa jadi milik kamu!

Catatan:

  1. Onggo-inggi: hewan mitos yang dipercaya penduduk kampung halaman saya (Kadilanggon, Wedi, Klaten) sebagai penunggu sungai di desa kami. Konon berbentuk seperti putri duyung, seringkali disebut “sedang meminta tumbal” jika ada orang tenggelam di sungai itu.

Share: