Sering kali kita menganggap wajar ketika kita melupakan sebuah kata saat berbicara dengan teman, atau lupa dimana menaruh hand-phone, atau kacamata dan beberapa benda kecil lainnya. Itulah yang dialami oleh Alice Howland; seorang dosen Harvard bergelar Ph.D yang didiagnosa menderita penyakit Alzheimer tahap awal.

Kehidupan keluarga Alice sebelumnya terlihat begitu sempurna; suaminya, John, adalah teman masa kuliahnya dan kini sama-sama dosen di Harvard, putri pertamanya, Anna, seorang corporate-lawyer yang sangat berpengaruh, dan putra tengahnya, Tom, adalah mahasiswa kedokteran tahun ketiga. Kecuali fakta bahwa Alice seringkali harus melewati pertengkaran kecil dengan putri bungsunya, Lydia, yang lebih memilih untuk mengejar karier akting dibandingkan mengikuti saran Alice untuk melanjutkan kuliah.

Still Alice

Still Alice

Lisa Genova, sang pengarang Still Alice, begitu lancar menceritakan tentang tahap-tahap ‘kelumpuhan’ ingatan yang perlahan dialami Alice. Berawal dari Alice kesulitan mengingat kata ‘leksikon’ ketika ia memberi kuliah, lalu saat Alice ketinggalan ponsel di restoran tenpat ia makan malam dengan putrinya. Hingga ketika Alice makin kesulitan mengikuti percakapan dengan teman-temannya, atau ketika kandidat Ph.D yang sedang berkonsultasi memberikan tesisnya, Alice kesulitan untuk memahami isi tesis tersebut. Salah satu bagian dari novel ini yang paling menyesakkan untuk dibaca adalah ketika Alice sedemikian frustasi dengan penyakitnya, ia meremukkan sekotak telur ketika ia tak kunjung bisa mengingat resep masakan yang sudah bertahun-tahun ia biasa buat.

Empat belas bulan setelah didiagnosa terkena Alzheimer, Alice menyampaikan sebuah pidato di sebuah konferensi peduli penyakit demensia. Di konferensi tersebut Alice mengucapkan sebuah kalimat yang sangat menyentuh “Didiagnosa mengidap Alzheimer bagaikan terkena kutukan. Inilah diri saya sekarang, seorang penderita demensia. Beginilah saya, untuk beberapa saat, mendefinisikan diri saya dan demikian pula penilaian orang lain kepada saya untuk seterusnya. Tapi, saya bukanlah apa yang saya katakan atau saya lakukan atau saya ingat. Saya lebih dari itu.” (Still Alice – hal. 257)

Kesimpulan ini terasa sangat menghangatkan hati, mengingat di kehidupan nyata, banyak keluarga yang memiliki anggota keluarga menderita Alzheimer, lebih memilih untuk memasukkan penderita ke rumah sakit. Di Indonesia, dimana kesadaran akan penyakit ini Alzheimer juga masih rendah, terkadang kita dengan mudahnya mensimplifikasi semua penyakit mudah lupa dengan frasa ‘sudah pikun’.

Novel karya Lisa Genova yang edisi Bahasa Indonesia-nya diterbitkan oleh Penerbit Esensi (imprint dari Penerbit Erlangga) ini melihat dengan sangat dekat pada salah satu penyakit yang begitu menakutkan untuk dihadapi, dalam sebuah karya fiksi yang terasa begitu nyata.

Kata Titi:

Buku ini akan terasa pas dibaca saat kamu lagi santai-santai di teras villa, atau di saung-saung pinggir sawah. Sambil menikmati angin yang semilir, silakan kuras emosi membaca buku ini ya!

Sumber Foto:

HufftingtonPost.com

TheBooklyClub.com

Share: