Di Kerajaan Paranggubarja, sang raja yang bernama Prabu Jungkungmadeya bermimpi sedang memadu kasih dengan Dewi Srikandi dari Kerajaan Pancala. Setelah terbangun dari mimpi, ia memanggil ketiga patih kerajaan untuk meminta nasehat mengenai keinginannya untuk meminang Dewi Srikandi. Dari ketiga patih, ada satu orang yang keberatan dengan keinginan Prabu Jungkungmadeya, sebab ia mendengar kabar bahwa Dewi Srikandi telah diperistri oleh Janaka (Arjuna). Namun Prabu Jungkungmadeya tidak meggubris rasa keberatan dari salah satu patihnya tersebut dan tetap berkeinginan kuat melamar Dewi Srikandi.

Dewi Srikandi dan Prabu Jungkungmardeya

Dewi Srikandi dan Prabu Jungkungmadeya

Dewi Srikandi Mulai Bertingkah Aneh

Dewi Srikandi Mulai Bertingkah Aneh

Sementara itu, Prabu Drupada dan Dewi Gandawati dari Kerajaan Pancala tengah dirundung kesedihan. Dewi Srikandi, putri bungsu mereka semakin hari semakin menunjukkan tingkah aneh. Dewi Srikandi yang biasanya berdandan cantik dengan busur dan anak panah, kini berdandan seperti orang gila. Berkeliaran kesana-kemari. Prabu Drupada meminta adik laki-laki Dewi Srikandi, Drestajumna, untuk mencari sebuah pusaka yang mampu mengobati kegilaan Dewi Srikandi.

Dewi Srikandi bisa disembuhkan!

Dewi Srikandi bisa disembuhkan!




Srikandi Ngedan

Tapi, Dewi Srikandi hanya sembuh sebentar saja

Pusaka tersebut memang bisa mengobati Dewi Srikandi, namun hanya sebentar saja. Dewi Srikandi makin menggila dan kabur dari istana Kerajaan Pancala! Drestajumna mengejar Dewi Srikandi, namun malah bertemu Prabu Jungkungmadeya di tengah hutan. Keduanya terlibat perkelahian setelah Drestajumna melarang Prabu Jungkungmadeya melamar Dewi Srikandi, karena Dewi Srikandi sudah bersuami. Melihat adiknya hampir kalah berkelahi dengan Prabu Jungkungmadeya, Dewi Srikandi turun tangan membantu. Prabu Jungkungmadeya yang tidak percaya bahwa orang gila yang dihadapinya adalah Dewi Srikandi meladeni tantangan perempuan itu dan akhirnya kalah.

Perang antara pasukan Prabu Jungkungmardeya dan pasukan Drestajumna

Perang antara pasukan Prabu Jungkungmadeya dan pasukan Drestajumna

Prabu Jungkungmardeya melawan Drestajumna

Prabu Jungkungmadeya melawan Drestajumna

Seusai berkelahi, Dewi Srikandi mengaku kepada Drestajumna bahwa sesungguhnya ia tidak gila, namun pura-pura gila. Ia pura-pura gila agar diijinkan keluar dari istana, untuk mencari suaminya; Arjuna yang pergi dengan istrinya yang lain, Dewi Sumbadra, yang tidak lain juga kakak perempuan Dewi Srikandi. Dalam kisah lain, kepergian Arjuna ini sesungguhnya untuk memata-matai pihak Kurawa sebelum pecah perang Bharatayudha.

Dewi Srikandi VS Prabu Jungkungmardeya

Dewi Srikandi VS Prabu Jungkungmadeya

Adegan berganti dengan kemunculan Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dan Bambang Pamularsih berdiskusi tentang Kembang Turangga Jati. Lalu muncul pula Resi Padmanaba yang ingin menjadikan Bambang Pamularsih sebagai menantunya.

Punakawan dan Bambang Pamularsih membahas Kembang Turangga Jati

Punakawan dan Bambang Pamularsih membahas Kembang Turangga Jati

Lalu saya, Bulan, dan Bu Jendral sudah ga bisa lagi menahan kantuk.

Udah jam 11.30 malam dan -sepertinya- cerita Srikandi Ngedan ini masih jauh dari tamat! Kami menyerah, dan pulang. Hehehehe, maaf ya.. jadinya saya ga tahu deh akhir cerita kegilaan Dewi Srikandi ini gimana.

Ini adalah kali pertama saya nonton wayang orang di Jakarta, dan seneng banget lho masih bisa nonton kesenian daerah ini di ibukota. Pertunjukannya pun ga sembarang pertunjukan; dipentaskan di gedung kesenian yang bersih dan ber-AC, dengan pemain-pemain yang berkualitas, tata rias dan tata busana yang ga asal-asalan, namun tetap dengan harga yang merakyat.

Kalau kamu penasaran pengen lihat pertunjukan Wayang Orang Bharata ini, silakan datang ke Jl Kalilio 15, Senen, Jakarta Pusat. Patokannya gini; karena saya ke sana naik Kopaja P20 dari Trakindo jadi gampangnya saya jelasin pakai arah dari Kopaja ini ya, pas Kopaja P20 keluar dari Lapangan Banteng mau ke Terminal Senen, Kopaja P20 akan nyebrang jalan dan belok ke kanan, kan? Nah, Gedung Wayang Orang Bharata ada pas di pertigaan itu, disamping bangunan Panin Bank.

Harga tiket pertunjukan wayang orang Bharata ada 3 jenis, VIP (IDR 60.000), Kelas I (IDR 50.000) dan Balkon (IDR 40.000). Terjangkau banget dong! Untuk dapetin tiketnya, bisa go-show langsung pas pertunjukan, atau pesan via telp dengan Pak Yunus (0856-1211-842). Harga tiket VIP-nya aja lebih murah dari harga nonton di bioskop pas week end. Kalau nonton wayang orang ini, saya saranin kamu bawa snack dan minuman sendiri, karena pertunjukannya bakal lama banget. Tapi kalau kamu butuh makan berat, jangan khawatir, di depan gedung ada banyak penjual makanan yang bisa kamu pesan dan makan makanannya di dalam gedung pertunjukan! Yes, you read it right. Kamu bisa nonton wayang orang sambil makan sepiring nasi goreng atau seporsi sate ayam. Cakep lah!

Pertunjukan Wayang Orang Bharata ini hanya ada setiap hari Sabtu, jam 20.00 WIB. Setiap minggu akan dipentaskan cerita yang berbeda. Untuk update cerita apa yang akan dipentaskan, silakan like Facebook dan follow Twitter Wayang Orang Bharata.

Panggung Pemantasan Wayang Orang Bharata

Panggung Pemantasan Wayang Orang Bharata

Tidak perlu merasa khawatir kamu akan ga ngerti jalan cerita pementasannya. Disetiap awal babak, akan ada running text di atas panggung yang menceritakan garis besar cerita babak itu. Atau, kalau kamu tidak masalah dengan spoiler, sebelum berangkat nonton, kamu bisa googling dulu untuk tahu garis besar ceritanya seperti apa.

Seandainya saya sebagai penonton -yang baru satu kali nonton- ditanya apa masih mau nonton pertunjukan Wayang Orang Bharata lagi, akan saya jawab; MAU! Dan akan lebih bahagia kalau bisa mulai on-time jam 20.00. Syukur-syukur kalau pementasannya bisa siang hari sampai sore hari gitu, jadi ga ngantuk nontonnya.

Ada yang mau nemenin saya nonton Wayang Orang Bharata?

Share: