Kalau saya boleh sarankan, plis… jangan! Mendingan pilih waktu lain aja. Kenapa? Karena kalau kamu tetap memaksakan pergi ke Bromo pas long week end, kamu bakal berhadapan dengan ‘antrian’ mobil jip di jalanan menuju Bromo, dan kalau mobil jip kamu telat masuk kawasan Bromo bakal kebagian tempat parkir yang jauh dari Pos Penanjakan 1, berdesak-desakan di Pos Penanjakan 1 untuk melihat matahari terbit. Belum lagi kalau long week end-nya ada di musim kemarau, siap-siap deh makin tersiksa dengan pasir yang beterbangan di Lautan Pasir menuju puncak Bromo, banyaknya orang dan kuda-kuda hilir mudik bikin pasir mabul-mabul ora karuan. Naik ke puncak Bromo-nya gimana? siap-siap antri dengan sabar di tangga yang cuma seuprit itu ya…

Sunrise Bromo

Gemeteran nahan dingin + desek desekan = blur maksimal

Itu lah yang saya alami waktu main ke Bromo pas long week end, sekitar akhir Mei 2014 lalu. Sebelum berangkat saya sudah membuang jauh-jauh ekspektasi bisa ke Bromo dalam keadaan sepi, namanya juga lagi musim liburan. Dan Bromo ini ‘kan tempat wisata yang turistik banget, jadi ya pasti bakalan ramai. Tapi saya ga nyangka bakalan se rame itu, hihi..

Sunrise di Pos Penanjakan 1

Sunrise-nya mulai kelihatan!

Karena pergi sendirian, saya ke Bromo ikutan midnight tour dari kota Malang, waktu itu biayanya sekitar IDR 200.000an, meals not included. Berangkat lepas tengah malam dari kota Malang, sekitar pukul 02.30 sampai di dekat Pos Penanjakan 1, menghangatkan diri sebentar di sebuah warung kopi, lalu mencari spot kosong di Pos Penanjakan 1 untuk lihat sunrise. Selesai lihat sunrise, kami menuju Lautan Pasir dan bersiap mendaki ke puncak Bromo. Foto-foto sebentar di sana, lalu menuju Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik. Pas sampai di Pasir Berbisik, rombongan saya males-malesan untuk turun karena banyaknya rombongan lain yang lagi foto-foto di sana. Saya juga ikutan males, haha..




Kawah Bromo

Kawah Bromo

Di perjalanan pulang, guide saya nawarin untuk mampir ke air terjun apa gitu, yang belum terlalu terkenal, jadi dijamin ga banyak yang dateng. Saya yang harus kembali ke Jakarta naik kereta api jam 14.00 siang mulai khawatir ga bakal bisa ngejar kalau mampir ke air terjun itu dulu, tapi kalau yang lain mau, ya saya ga enak untuk keberatan.

“Dari parkiran mobil, butuh berapa lama sampai ke air terjunnya, Mas?” tanya saya

“Yaaah, sekitar 45 menit, Mba…”

“Sekali jalan?”

“Iya…”

“Waduh, saya ga ikut deh.. kayanya saya ga sanggup kalau mesti jalan sejauh itu. Monggo, silakan yang lain kalau mau, saya nunggu di mobil saja…”

“Waaah, kalau mbak-nya aja ga kuat, apalagi kita!” sahut salah seorang bapak peserta tur. Ia dan ke-empat temannya adalah guru-guru dari Kalimantan Barat yang sedang ikut training di Malang.

“Iya, udah, Mas.. balik aja ke Malang langsung..” sahut yang lain

YES! batin saya, hahaha! Ga jadi ketinggalan kereta ke Jakarta.

Turis Bromo

Salah satu turis hari itu.

Bromo, si cantik ini memang sebaiknya dikunjungi ketika kita punya banyak waktu untuk mengulik keindahannya. Terlalu sayang jika kita hanya punya waktu yang singkat, diburu-buru waktu, atau datang ketika ia dibanjiri pengunjung.

Share: