“Te, umah plinses, Te! Umah plinses….” keponakan saya, Diana, menunjuk-nunjuk sebuah bangunan anggun berwarna kuning-hijau saat taksi yang kami tumpangi baru saja memasuki halaman Istana Maimun.

“Iya.. Mbak Nana mau ke rumah princess?”

“Mauuuuuuu…” jawabnya lekas-lekas. Rasa antusias bocah yang belum genap berusia 3 tahun ini bisa jadi dipicu oleh film-film keluaran Disney yang sering menggambarkan princess-princess tinggal di istana megah, dan Diana pastinya ingin membuktikan benar tidak di dalam istana itu ada princess-nya.

Panas menyengat matahari kota Medan pukul satu siang tidak menghalanginya untuk jalan pelan-pelan dari parkiran mobil ke pintu masuk Istana Maimun. Saya yang ingin mengambil foto penampakan Istana Maimun dari depan melipir meninggalkan Diana ke sebuah panggung bulat yang ada di halaman istana. Lagi-lagi karena penasaran dengan apa yang saya lakukan, Diana mengikuti saya. Dengan payung kecil yang tentu saja kebesaran di tangan mungilnya, ia ikut melihat-lihat salah satu landmark kota Medan itu.

Halaman Istana Maimun

Halaman Istana Maimun

“Te, ke umah plinses, Te…. ” tak lama kemudian ia mulai menagih lagi tujuan kami semula datang ke tempat ini.

Istana Maimun adalah salah satu peninggalan masa kejayaan Kerajaan Deli, sering juga disebut dengan nama Istana Puteri Hijau. Istana Maimun selesai dibangun pada tanggal 26 Agustus 1888, pada masa Kerajaan Deli dipimpin oleh Sultan Makmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Hingga saat ini, usia Istana Maimun sudah hampir 127 tahun. Tak heran jika Kementerian Pariwisata menetapkan Istana Maimun sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya. dengan kemegahannya, saya menyakini Istana Maimun adalah salah satu dari sekian banyak Mahakarya Indonesia.

Pintu Masuk Istana Maimun

Pintu Masuk Istana Maimun

Melepas alas kaki di tangga masuk dan membayar tiket masuk sebesar IDR 5.000/orang, akhirnya kami masuk ke Istana Maimun. Diana dengan riang menaiki satu persatu tangga masuk, tangganya lumayan panjang tapi ia nampak senang. Dalam benaknya, mungkin ia sedang membayangkan berkunjung ke rumah Elsa dan Anna. Memasuki ruangan pertama di Istana Maimun saya dibuat terkesan oleh keindahan bangunan ini; perpaduan warna kuning-hijau-emas-merah bata sungguh cantik, lantai tegel kunci yang selalu membuat saya jatuh hati, juga bentuk kolom dan pintu nan kokoh berdiri. Diana, si anak super aktif itu, langsung melesat lari ke bagian belakang begitu masuk Istana Maimun. Saya tidak heran, ia pasti tertarik dengan kerumunan orang di bagian belakang. Ternyata di ruangan bagian belakang itu, kita bisa menyewa baju adat khas Kerajaan Deli dan berfoto di semacam singgasana yang ada di sana, atau dengan latar belakang replika singgasana di ruang tengah Istana Maimun.

Look at those beautiful paintings at the ceiling!

Look at those beautiful paintings at the ceiling!

Diana belum tertarik untuk memakai pakaian adat, ia hanya menggeleng ketika saya tawari untuk mencoba ‘baju princess“. Ah, tentu saja Diana ga mau, anak sekecil ini pasti tahunya baju princess itu yang mirip baju Elsa, atau minimal seperti baju Rapunzel. Diana lalu bergeser ke kerumunan lain lagi. Lho? Ada yang jualan mainan di dalam Istana Maimun? Iya, buka stand gitu layaknya buka toko. Boleh ya berjualan di dalam sebuah Bangunan Cagar Budaya? Saya sendiri ga tahu persis boleh atau tidak, mungkin saja uang sewa kios mainan dan souvenir itu memang dibutuhkan oleh pengelola Istana Maimun untuk menutup biaya perawatan istana, tapi rasanya miris saja menyaksikan di dalam sebuah bangunan secantik ini harus ada ‘toko mainan’.

Diana dan mainan barunya,  beli di "Toko Istana Maimun"

Diana dan mainan barunya, beli di “Toko Istana Maimun”

Untuk ukuran anak 3 tahun, saya cukup bangga dengan Diana. Ia tidak nampak bosan bermain di Istana Maimun. Meski belum paham tempat apa yang ia kunjungi saat itu, ia dengan antusias berjalan berkeliling istana sambil mencoba mainan barunya. Ia bahkan mengajak saya dan mamanya untuk ‘buka bekal’; menikmati sekantong jelly sambil duduk gelesotan di beranda kanan Istana Maimun.

“Mbak Nana lagi di mana sih ini?” tanya saya.

“Di umah plinses….” jawabnya sambil tetap sibuk berusaha membuka sebungkus jelly.

Membawa anak ke tempat wisata Bangunan Cagar Budaya bisa jadi adalah salah satu cara menumbuhkan Jiwa Indonesia pada generasi penerus kita. Bisa jadi ini adalah perkara gampang. Nah, sekarang pertanyaannya, kebanggaan akan Indonesia bisa jadi terus tumbuh di dalam jiwa anak-anak ini, namun mampukah kita menjaga fisik bangunan yang kita banggakan? Karena menurut saya, kebanggaan akan sesuatu yang sudah rusak atau tidak ada itu kok ya sama aja bohong ya…

Sisa Kemegahan Istana Maimun, Akankah Bertahan?

Sisa Kemegahan Istana Maimun, Akankah Bertahan?

Bagaimana menurut kamu?

Share: