Matahari sungguh terik hari itu, padahal baru tiga puluh menit lepas dari pukul 10 pagi waktu Penang. Saya dan Bulan menumpang Central Area Transit (CAT) bus dan berhenti di pemberhentian nomor 7; Lebuh Muntri. Dari pemberhentian bus, sesosok bangunan cantik berwarna biru indigo sudah terlihat, namun kami tak melihat adanya pintu masuk di dekat situ. Ternyata kami harus berjalan sedikit memutar menuju Leith Street untuk mencapai pintu masuk The Blue Mansion, sebuah warisan dari Cheong Fatt Tze.

Becak khas Penang di depan The Blue Mansion

Becak khas Penang di depan The Blue Mansion

“Kita beruntung! Sebentar lagi ada tur yang jam 11 tuh, kktt…” bisik Bulan ketika saya mengulurkan uang untuk membeli tiket masuk. Ya, kebetulan datang di jam yang pas mendekati waktu tur berpemandu adalah sebuah keberuntugan, saya rasa. Sayang ‘kan, udah bayar MYR 16.95 per orang tapi ga bisa tahu secara detil sejarah dari bangunan yang mulai didirikan pada tahun 1896 tersebut.

Seorang perempuan mungil berbusana mini-dress motif kotak-kotak muncul di beranda The Blue Mansion dan memperkenalkan diri sebagai Ms. Lin, guide kami pagi itu. Pembawaannya begitu lincah dan ceria. Ah, tur ini akan jadi tur yang jauh dari membosankan, pikir saya. Dan benar saja, selama kurang lebih satu jam tur Ms. Lin berhasil menarik perhatian kami dengan cerita sejarah dibangunnya The Blue Mansion, jaman keemasan Cheong Fatt Tze hingga keadaan rumah biru itu sepeninggal anak terakhir dari Cheong Fatt Tze, hingga proses restorasi bangunan itu sampai bisa mendapat gelar, salah satunya “Most Excellent Project” dari UNESCO Heritage Conservation Awards di tahun 2000.

Ms Lin Lee Loh-Lim, pemandu kami nan ekspresif

Ms Lin Lee Loh-Lim, pemandu kami nan ekspresif




Ms. Lin memulai tur dengan cerita bagaimana Cheong Fatt Tze muda, berumur 16 tahun, datang dari daratan China, tanpa sepeser uang pun. Tujuan awal Cheong Fatt Tze mengadu nasib sebenarnya adalah Jakarta, namun nasib membawanya ke Pulau Pinang. Di Penang, Cheong Fatt Tze bekerja sebagai kuli pengangkut air dari sungai. Beberapa tahun kemudian, ia memulai bisnisnya sendiri setelah menikahi putri dari atasannya saat bekerja sebagai kuli angkut air. Dari situlah akhirnya Cheong Fatt Tze bisa menjadi konglomerat di Pulau Pinang, dan bahkan di dunia pada saat itu. Usaha yang dimilikinya begitu banyak; perbankan, industri kaca, tekstil, hingga baja, hingga perkapalan yang mengelola rute dari China hingga Amerika Serikat. Julukan seperti “Rockefeller of The East”, “JP Morgan from China” “Last Mandarin dan First Capitallist of China” melekat pada diri pria flamboyan ini.

Beranda dalam The Blue Mansion, pohon kecil itu adalah titik pusat energi chi rumah Cheong Fatt Tze

Beranda dalam The Blue Mansion, pohon kecil itu adalah titik pusat energi chi rumah Cheong Fatt Tze

The Blue Mansion adalah rumah kediaman favorit dari Cheong Fatt Tze. Dibangun untuk didiami bersama istrinya nomor 8, istri kesayangannya. Rumah ini terdiri dari 38 kamar, 5 halaman, 7 tangga dan 220 jendela. Tidak dibangun sembarangan, The Blue Mansion dibangun dengan mengikuti aturan feng-shui yang cermat dihitung dari tanggal lahir Cheong Fatt Tze. Itulah sebabnya bangunan ini tidak menghadap Jalan Sultan Ahmad Shah, namun dihadapkan pada Leith Street; agar bangunan ini mengikuti aturan dasar feng-shui untuk Cheong Fatt Tze, menghadap ke laut dan memunggungi bukit. Yang menarik, salah satu unsur feng-shui belum terpenuhi untuk rumah itu; bagian belakang rumah harus lebih tinggi dari bagian depan rumah (sitting on a dragon’s back), uniknya arsitek rumah ini bisa membangun rumah dengan memenuhi aturan tersebut. Di courtyard utama, kita bisa melihat ada perbedaan jumlah anak tangga, namun tinggi lantai yang dihubungkan oleh courtyard tetap sama!

Prinsip feng-shui lain yang diikuti oleh Cheong Fatt Tze adalah soal aliran air hujan. Cheong Fatt Tze tidak begitu saja membiarkan air hujan jatuh dari atap rumahnya ke tanah. Air hujan yang mengalir di talang rumah ‘dialirkan’sedemikian rupa sehingga air tersebut akan berjalan-jalan dahulu di seputaran rumah lewat pipa khusus, baru mengalir lewat kanal kecil ke courtyard, hingga akhirnya dialirkan ke dalam tanah di bawah rumah. Dengan cara ini, rumah akan tetap dalam keadaan sejuk meski matahari bersinar terik di luar. Filosofi ini mencerminkan cara Cheong Fatt Tze dalam mengelola uang; menampung uang sebanyak yang bisa dia peroleh, lalu memutarkannya terlebih dahulu (dalam usaha dagang), baru kemudian menyimpan dan membelanjakannya.

Salah satu courtyard di The Blue Mansion

Salah satu courtyard di The Blue Mansion

Meski tidak mengelilingi seluruh bagian rumah, banyak sekali kisah yang diceritakan oleh Ms. Lin. Termasuk bagaimana susahnya merestorasi bangunan tua ini. Ketika diambil alih oleh Lawrence Loh Architecs -sebuah perusahaan arsitektur lokal di Penang- untuk direstorasi, keadaan The Blue Mansion sungguh menyedihkan. Ketika meninggal Cheong Fatt Tze meninggalkan wasiat untuk melarang penjualan rumah tersebut hingga putra terakhirnya meninggal. Namun, uang warisan yang digunakan untuk perawatan rumah tersebut tidaklah cukup untuk merawat bangunan super luas itu, kalau tidak salah ini juga ada hubungannya dengan konversi mata uang Strait-Dollar menjadi Ringgit Malaysia. Akhirnya salah seorang menantu dari Cheong Fatt Tze yang mengelola rumah tersebut menyewakan bagian-bagian rumah tersebut agar terus dapat membiayai biaya perawatan rumah.

Keadaan The Blue Mansion Pra-restorasi

Keadaan The Blue Mansion Pra-restorasi

Namun bukannya jadi terawat, bangunan cantik tersebut malah menuju ambang kehancuran. Lantai tegel kunci nan cantik itu belepotan tetesan oli dari motor yang sembarangan parkir di dalam rumah (kalian harus lihat sendiri betapa cantiknya sebuah kotak tegel ternyata terdiri dari 4 hingga 5 jenis potongan kecil, yang masing-masing jenisnya ada 8 potong, diatur sedemikian rupa hingga menjadi motif-motif bunga). Sebuah papan kayu penyekat ruangan berukir berwarna hitam emas, sudah diselimuti debu dan jelaga dari kegiatan memasak selama berpuluh-puluh tahun. Tali jemuran bergelantungan dari satu sisi rumah ke sisi yang lain. Ayam-ayam peliharaan penyewa rumah berlarian di taman yang seharusnya adalah courtyard cantik. Cat biru indigo di luar bangunan sudah mengelupas di sana sini.

Look at those oh-so-beautiful Stoke-on-Trent floor tiles!

Look at those oh-so-beautiful Stoke-on-Trent floor tiles!

Saya bisa membayangkan kerja keras yang harus dikeluarkan untuk merestorasi bangunan ini.

Ms. Lin menceritakan ia dan teman-temannya harus membersihkan jelaga dari sekat kayu itu dengan cotton bud, dari setiap celah ukiran ke ukiran lain, pelan-pelan agar tidak merusak cat asli dari ukirannya. Mengimpor mangkok keramik setengah jadi dari China untuk merestorasi ukiran keramik di atap rumah, namun aturan impor Pulau Pinang mengharuskan mereka membayar pajak barang mewah atas aktifitas impor tersebut. Tak kehabisan akal, Lawrence Loh Architecs lalu menghancurkan mangkok-mangkok keramik tersebut sebelum mengirimkannya ke Malaysia, sehingga otoritas cukai tidak bisa mengenakan pajak atas pecahan keramik. Haha! Very smart move!

Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membersihkan ukiran ini, dengan cotton buds?

Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membersihkan ukiran ini, dengan cotton buds?

The Blue Mansion bisa jadi tidak semegah Penang Peranakan Museum, koleksi yang dipamerkan pun tidak sebanyak di sana. Namun mendengarkan Ms. Lin bercerita tentang bagaimana rumah ini bertahan dari berbagai macam zaman selama hampir 120 tahun, membuat saya menobatkannya sebagai bangunan terfavorit di Penang versi saya.

A corner of a very lovely building

A corner of a very lovely building

Share: