Jujur, saya tidak pernah membayangkan bisa menginap di rumah suku Baduy, apalagi sampai 2 malam. Keinginan untuk bisa main ke Baduy sebenarnya sudah sangat lama ada di hati saya, namun selalu saya kubur dalam-dalam setiap kali melihat tawaran jalan bareng ke Baduy, kok ya itinerary-nya kejam bener; berangkat Sabtu pagi dari Jakarta, langsung hajar bleh ke Baduy Dalam sore harinya, dan balik ke Jakarta lagi Minggu siang. Saya sadar banget dengan kemampuan tubuh saya, ga akan kuat nurutin itinerary seperti itu. Sampai akhirnya salah satu sahabat saya; Simbok Miki, menawarkan rencana ke Baduy yang jauh lebih masuk akal. Kami berangkat hari Jumat pagi dari Jakarta, malam Sabtu menginap di Gajebo, Baduy Luar, dan malam Minggu-nya baru kami menginap di Baduy Dalam.

Kami tiba di Ciboleger -kecamatan terakhir dimana kita masih bisa naik kendaraan bermotor- sudah lepas waktu Ashar. Karena hampir sepanjang perjalanan dari terminal Aweh di Rangkasbitung hingga ke Ciboleger kami harus berdesakan di sebuah elf yang normalnya diisi 15 orang namun dimuati hingga 29 orang, hingga kami sedikit mabuk darat. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir makan dulu di sebuah warung. Di warung tersebut, ada seorang laki-laki yang menawarkan jasa porter. Dari pakaian yang dikenakan, saya tahu ia bukan orang Baduy. Kebetulan porter tersebut mengenali Miki yang memang sering wara-wiri ‘pulang kampung’ ke Baduy. Miki menggelengkan kepala pada tawaran si lelaki itu.

Lah kok ditolak?! Batin saya, sambil celingak-celinguk mencari porter lain yang mungkin sudah dipesan oleh Miki. tak ada seorang pun selain rombongan kami dan porter itu tadi di warung makan itu. Saya melemparkan pandangan bertanya ke Miki, tentu saja dengan sedikit kilatan ancaman “I will never ever go to Gajebo, carrying my own backpack! Let alone Cibeo, ya!” dalam tatapan itu.

“I used him once as a porter, and he cheated on me. I paid him for a return trip, but he left me when we arrived to Cibeo. I have to carry my backpack myself on our trip back. So, no, we won’t use him…” Miki berbisik menjelaskan alasan ia menolak tawaran jasa porter yang tadi.

“Tapi kalau kita ga dapet porter gimana?” saya masih bersikeras.




“Udah makan aja dulu! Ntar juga dateng porter kita….”

Perjumpaan dengan 3 porter nan misterius

Perjumpaan dengan 3 porter nan misterius

Sepuluh menit kemudian, ada seorang bapak-bapak suku Baduy Luar menghampiri jendela warung yang dibelakangi Miki, saya kaget waktu bapak itu berkata,

Miki, rek ka jero?”

[Miki, Mau ke dalam?]

Dibelakang bapak itu ada seorang bapak lagi dengan satu anak kecil yang membuntuti di belakangnya, juga seorang anak muda yang saya rasa adalah anak dari bapak yang menyapa Miki.

So that’s it. Kami dapat porter, tanpa perlu mencari, tanpa perlu booking sebelumnya, tanpa perlu menelpon siapa pun. Jawaban Miki ketika saya tanya kok bisa seolah-olah semuanya serba kebetulan; kebetulan kami butuh porter, kebetulan ada rombongan Kang Naldi sedang melintas di Ciboleger adalah… “Baby, there’s no coincidence in this life. Kalau pergi ke Baduy, lo cuma perlu punya niat baik, dan terus berniat baik. Ga usah khawatir ini itu, pasti ada yang nolongin…”

***

Sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Kampung Gajebo, kampung suku Baduy Luar yang akan kami inapi malam itu. Kami menginap di rumah Kang Arsip, yang sayangnya justru sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, jadi kami hanya bertemu dengan istri Kang Arsip; Ibu Rugayah dan anaknya Rubana. Bu Rugayah dengan sangat ramah mempersilakan rombongan kami untuk tinggal di rumahnya, memasak di dapurnya, menggunakan kamar mandinya. Kamar mandi? Ya, beberapa rumah di kampung Baduy Luar sudah ada yang memiliki kamar mandi sendiri, termasuk rumah Kang Arsip ini.

Kami dipersilakan untuk menata posisi tidur di ruang tamu, dan rombongan porter menumpang tidur di rumah sebelah. Salah seorang dari porter kami, putra Kang Naldi, pulang duluan ke Cibeo untuk mengabarkan ayahnya menginap di Gajebo bersama kami malam itu.

Simbok Miki Beraksi

Simbok Miki Beraksi

Tas ransel kami buka, bekal kami keluarkan. Malam ini kami akan memasak makan malam untuk semua. Kami? Ups, salah.. harus saya ralat, Simbok Miki yang akan memasak semuanya. Ia sudah membawa sawi putih mentah, tumis cumi dan tempe mentah yang siap diolah jadi makan malam. Dalam keremangan dapur Ibu Rugayah yang tertata sangat rapi, Simbok Miki beraksi. Satu hal yang saya baru tahu, ternyata orang Baduy (terutama Baduy Dalam) jarang memasak menggunakan bumbu masak. Hampir seluruh masakannya hanyalah dibumbui garam saja. Jadi malam itu bukan hanya kami (saya, Kalejid dan Mba Astrid) yang dibuat terkesima oleh masakan Simbok Miki, Kang Naldi, Kang Yadi dan si kecil Ahmad pun ikut penasaran dengan apa yang dimasak Simbok Miki.

Ada yang bisa pakai 'kompor' begini?

Ada yang bisa pakai ‘kompor’ begini?

Selesai makan malam kami ngobrol-ngobrol di teras rumah, merasakan sunyi dan damainya Kampung Gajebo. Tanpa hingar bingar suara knalpot kendaraan yang berlomba membelah jalanan, tanpa suara musik dari kafe yang sahut menyahut memutarkan nada-nada terkini, tanpa suara orang-orang yang saling sahut ingin paling dulu diperhatikan. Hanya gemericik aliran sungai yang terdengar, sesekali gonggongan anjing dan deritan serangga yang tiada pernah berhenti. Belum ada pukul 20.00 dan suasana sudah seperti lewat tengah malam. Kami beranjak tidur tak lama setelah segelas teh hangat kami habiskan.

Pagi harinya kami berkeliling Kampung Gajebo, melihat-lihat kehidupan masyarakat di sana, juga main-main sebentar di sungai yang menjadi pusat aktifitas warga di pagi itu. Ibu-ibu mencuci baju, anak perempuan memandikan adik-adik kecilnya sambil mengambil air, perempuan-perempuan tua yang mencuci sayur mayur. Semuanya memandang dengan tatapan asing ke arah kami, namun tetap ramah.

Sabtu Pagi di Baduy

Sabtu Pagi di Baduy

***

Jika perkampungan Baduy Luar masih telah diwarnai dengan beberapa ‘kemodernan’ seperti halnya kamar mandi dan dapur dengan peralatan masaknya yang sudah [cukup] modern dan tertata rapi, maka Kampung Cibeo yang adalah salah satu pemukiman suku Baduy Dalam adalah sebuah keaslian kesederhanaan. Di sana kami tidak diperbolehkan mengambil foto sama sekali, tidak boleh menggunakan HP (dan alat komunikasi lainnya), tidak boleh menggunakan alat pemutar musik, tidak boleh mandi menggunakan sabun atau deterjen apapun.

Kami tiba di Kampung Cibeo sekitar jam 2 siang, dengan badan bersimbah keringat setelah menghabiskan waktu sekitar 3.5 jam berjalan di bawah terik matahari. Setelah mengeringkan keringat, kami memutuskan untuk mandi di sungai yang mengalir di belakang kampung. Sungainya tidak terlalu besar, tapi begitu jernih. Ada beberapa bagian sungai yang memiliki peruntukan khusus, yang paling hulu adalah bagian untuk digunakan Pu’un (ketua adat), dibagian setelah itu adalah yang digunakan para ibu untuk mencuci beras dan mengambil air minum, bagian setelah itu digunakan untuk mandi, baru bagian paling hilir sungai untuk pipis dan BAB. Dengan sistem pengaturan seperti itu maka air sungai akan terjaga kebersihannya. Dan beneran lho, meski mandi di air sungai, daki-daki dari keringat yang seharian menempel di badan saya rontok semua! Setelah mandi saya bahkan bikin eksperimen kecil dengan nggak pake deodoran! Saya pengen tahu, besok pagi saya bakal bau badan atau ga. Kalau di Jakarta, saya mandi ga pakai sabun trus ga pake deodoran setelahnya, bisa dijamin keesokan harinya pasti orang di sebelah saya akan mengernyitkan hidung.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di sebuah kampung Baduy Dalam, selain ngobrol dengan para lelaki sambil minum kopi (yang kami bawa) sambil duduk di depan rumah. Saya mencoba berkeliling kampung untuk menyapa perempuan-perempuan yang sedang beraktifitas, namun berakhir dengan sapaan saya hanya dijawab dengan senyuman malu-malu saja. Sepertinya memang perempuan Baduy tidak terbiasa banyak bicara. Akhirnya saya hanya memperhatikan saja mereka menumbuk padi agar jadi beras, melihat-lihat anak-anak perempuan menggotong 2 hingga 4 buah batang bambu besar berisi air dari sungai, yang ternyata mereka gunakan sebagai persediaan air cuci kaki sebelum masuk ke dalam rumah.

Lalu saya menyadari satu hal; tidak ada satupun perempuan di desa ini yang overweight chubby-chubby lucu seperti saya.

Yaiyalaaaah, sehari-hari mereka ga kebanyakan makan makanan yang digoreng dan berlemak, dari kecil udah terbiasa ngangkutin air dari sungai ke rumah (pakai tabung bambu yang dalam keadaan kosong aja pasti udah berat), belum numbuk padi, gendong adik/anak kesana kemari, menggarap ladang, masak! Pantesan semua perempuan di Kampung Cibeo badannya 11-12 sama AgnezMo!

Menghabiskan 2 malam di perkampungan suku Baduy memberikan buanyaaak banget pengalaman baru buat saya. Kamu tertarik juga untuk nyobain?

PS: keesokan hari setelah saya ga pake deodoran itu, ketiperi saya beneran ga bau, lho! Entah ada apa kandungan di air sungai itu, kok bisa bikin ga bau badan.

Share: