Selasa, 19 Mei 2015 – Penang International Airport – Sekitar Jam 10.00 malam

“N@#$%^& a*&^ k!@#ri?”

“Sorry?” saya berjingkat dan memandang dengan seksama pada perempuan di balik konter imigrasi Bandara Internasional Penang. Ah, jadi perempuan petite itu terkadang memang menyulitkan! Masa konter imigrasi saja bisa menenggelamkan seluruh tubuh saya hingga setengah hidung.

“Nak ape kemari?” ulang si petugas imigrasi, dengan nada bicara yang lebih lambat namun tetap dengan penuh kejudesan.

Saya teringat pada suatu adegan di film English Vinglish, ketika Amitabh Bachan mengajarkan pada Sri Devi bagaimana menjawab pertanyaan petugas imigrasi di sebuah bandara di USA dengan swag.




“I am on a vacation, and planning to do a little shopping here…” jawab saya sambil tersenyum, petugas ini tak akan memeriksa dompet saya ‘kan? Sebab, hanya ada 8 lembar pecahan MYR 50, 2 lembar MYR 10, dan 5 lembar MYR 1 di sana. Bulan pernah bercerita, kalau seorang Melayu di Malaysia mengajakmu berbicara bahasa Melayu, kamu akan dianggap sedikit tidak sopan jika menjawab dalam bahasa Inggris. Justru karena itu saya sengajain, siapa suruh sengak duluan, hihi…

“Sampai kapan?”

“Saturday.”

Sunyi sesaat, lalu petugas itu membuat isyarat dengan matanya agar saya meletakkan 2 jari telunjuk di mesin pemindai yang ada di depan mata saya. Tak lama ia menyerahkan kembali paspor saya yang telah ditempeli stiker kecil di halaman visa.

“Thank youuuu…” ucap saya dengan riang sambil melambai pada petugas konter tanpa senyum itu.

Saya meninggalkan konter dan celingak-celinguk mencari Bulan di konter sebelah. Rupanya ia sedang terkekeh-kekeh dengan petugas imigrasi di depannya, seorang lelaki tinggi besar dengan wajah khas keturunan Tamil. Tentang kejudesan petugas imigrasi di Malaysia, sudah banyak dibicarakan di sebuah facebook group, Backpacker Dunia. Namun menurut saya, semuanya kembali ke pribadi masing-masing petugas imigrasi tersebut, kok.. Ga semua petugas imigrasi di Malaysia judes, buktinya saya lihat sendiri yang memeriksa paspor Bulan bisa sambil tertawa-tawa. Yang melayani saya? Ah, she might just had a bad day!

Rabu, 20 Mei 2015 – Jalan Kedah, Georgetown, Penang – Sekitar jam 10.00 malam

Selesai makan malam di Nasi Kandar Line Clear, saya dan Bulan memutuskan untuk naik CAT bus (free shuttle bus) berkeliling Georgetown, sambil mengira-ira besok harus turun di pemberhentian mana saja untuk mendatangi tempat-tempat menarik. Tak tanggung-tanggung, kami naik hingga 1.5 kali putaran rute bus. Belum puas berkeliling, saya melemparkan ide untuk mencoba jalan lain menuju Tune Hotel Downtown Penang.

Biasanya kami turun di pemberhentian Jalan Transfer, lalu berjalan kaki menuju hotel lewat Jalan Burmah. Kali ini saya mengajak Bulan untuk lewat Jalan Kedah, sebuah jalan yang lebih kecil di belakang Jalan Burmah, yang kemudian akan tembus tepat disamping kiri hotel tempat kami menginap. Bulan mengiyakan ide saya.

Jalan Kedah ini jauh lebih sepi daripada Jalan Burmah, lebih gelap juga. Setelah 100 meter dari mulut jalan, kami melihat ada sebuah cafe bir di sisi kanan jalan. Diam-diam, Bulan sudah merasakan suatu keanehan dengan jalan ini. tapi saya masih santai-santai saja. Mungkin memang alarm tanda bahaya di tubuh saya ini sudah rusak. Kira-kira 200 meter berikutnya, kami melewati sebuah tanah kosong di sebelah kiri jalan, sepertinya tanah tersebut digunakan sebagai tempat barang rongsok. Terdengar 2 orang lelaki dengan aksen Tamil bercakap-cakap. Mereka menghentikan percakapan ketika kami lewat. Di titik inilah saya mulai merasa sedikit jiper. I was this close to shout “ruuuuuunnnn”, jika saja tidak melihat ada tulisan “POLIS” dari 3 buah rompi glow in the dark di ujung jalan.

Jika saya merasa lega melihat petugas dengan rompi POLIS tadi, kebalikannya dengan Bulan, somehow she felt something was wrong that night. Benar saja, ketika kami berjalan mendekati ketiga petugas tadi, nampaklah ketiga polisi tersebut sedang mengerubungi seorang perempuan mungil. Entah sedang apa dan kenapa.

Hingga salah satu polisi tersebut menyorotkan senternya tepat di wajah kami.

“Nak kemane?”

“Tune hotel….” jawab Bulan sambil menunjuk bangunan hotel yang memang terlihat dari pengkolan tempat polisi menghentikan kami.

Sunyi. Polisi itu tetap menyorotkan senternya ke wajah kami, mungkin ia mencari tanda-tanda kebohongan di sana. Ya ga bakal ketemu lah!

Malaysian citizen kah?”

No. We’re Indonesian” jawab saya

Sunyi lagi. Krik-krik. Senter masih menyoroti wajah kami.

“Do you wanna see our passports?” akhirnya Bulan bertanya, mengakhiri kesunyian tanpa solusi ini.

“No.. go lah!” akhirnya polisi itu membuat tanda menyuruh pergi dengan lampu senternya.

Kami bergegas pergi dari pengkolan jalan itu, dan begitu sampai di pertigaan Jalan Burmah dan Jalan Kedah, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kekonyolan yang baru saja kami alami. Sampai sekarang kami tidak tahu mengapa polisi-polisi itu menghentikan kami. Apakah memang sedang ada razia perempuan yang keluar malam (padahal malam itu masih sekitar jam 10an, masih sorelah untuk ukuran Penang yang adzan Maghrib-nya baru berkumandang selepas pukul 7 malam waktu setempat), atau kami dikira perempuan tuna susila (tapi baju kami malam itu ya biasa aja, ga seksi sama sekali), atau…….

Beginilah cara Penang menyapa kami, “Welcome to Penang, #DuoGinuk!”

Share: