Traveler pasti akrab lah dengan benda yang satu ini; Sunblock alias Tabir Surya. Yang anak pantai, sudah pasti sering pakai sunblock. Naik gunung, meski bertemu dengan udara dingin tetap butuh sunblock. Yang suka wisata keliling kota, sudah pasti juga butuh sunblock.

Rangkaian Sunblock NATASHA

Rangkaian Sunblock NATASHA

Foto diambil dari sini

Memangnya kenapa sih kita butuh sunblock? Jawaban setengah ngasal tapi ada benarnya: ya secara negara kita ini mataharinya selalu obral kan ya….

Nah, kalau jawaban yang agak berteorinya kaya gini: paparan sinar ultraviolet (UV) berkontribusi hingga 90% terhadap gejala penuaan dini kulit. Ada 3 macam sinar ultraviolet, yaitu UV A, UV B, dan UV C. Yang paling berbahaya adalah sinar UV C, namun untungnya sinar ini mampu ditahan oleh lapisan ozon. Ultraviolet A mampu menembus lapisan kulit secara lebih dalam dibandingkan sinar ultraviolet B, namun sinar UV B akan merusak lapisan kulit paling luar dengan lebih ganas. Jadi, kalau ga mau kulit kita terbakar, cepat keriput atau bahkan kena kanker kulit, rajin-rajin ya pakai tabir surya. Karena kulit yang sehat dan bersih itu adalah awal dari kekecean kita ‘kan?




Masih ragu untuk selalu pakai sunblocks karena banyak mitos tentang benda satu ini. Yuk, kita coba bedah satu-satu mitosnya!

1. Kita hanya butuh sunblock ketika beraktifitas di bawah terik matahari.

Salah. Saat di dalam ruangan pun kulit tetap membutuhkan sunblock, hanya saja dalam intensitas yang lebih kecil, cukup dengan SPF 15 saja. Ketika di bawah sinar matahari langsung, gunakan minimal SPF 50. Ulangi pemakaian setiap 6 jam sekali agar kulit tetap terlindungi.

2. Sunblock bikin jerawatan.

Benar dan Tidak. Benar, jika dikenakan terus menerus tanpa istirahat dan tidak dibersihkan dengan sempurna. Tidak, jika kita tidak malas membersihkan. Pada intinya, cara kerja tabir surya adalah melapisi kulit dengan lapisan tipis agar terhindar dari sengatan sinar UV secara langsung. Jika bercampur dengan keringat, debu dan make-up, ya pasti sunblock akan menyumbat pori-pori, sumbatan ini lah yang pada akhirnya akan menyebabkan jerawat. Makanya, jangan malas membersihkan muka setelah beraktifitas dibawah matahari. Kalau perlu pembersih mukanya yang 2 langkah ya; milk cleanser dan toner.

3. Udah pakai sunblock, tapi kulit tetap menghitam.

Benar. Kulit menghitam atau menjadi lebih gelap adalah reaksi yang wajar setelah kita berada di bawah sinar matahari. Namun dengan pemakaian sunblock yang benar, sudah pasti kulit kita terhindar dari sunburn atau kemerahan karena terbakar sinar matahari. Lagipula, kulit gelap khas Indonesia itu kan sexy! Jadi jangan takut jadi hitam ya…

4. Semakin tinggi SPF maka akan semakin bagus melindungi kulit.

Salah. Bukan semakin bagus, tapi semakin lama. SPF atau Sun Protection Factor adalah satuan waktu suatu sunblock bisa melindungi kulit kita. 1 SPF setara dengan 10 menit, jadi jika suatu produk sunblock menyatakan ia ber-SPF 20, maka ia bisa melindungi kulit kita selama 20 x 10 menit. Semakin tinggi angka SPF-nya, maka akan semakin kental dan lengket produk sunblock tersebut. Pilihlah angka SPF yang sesuai dengan kebutuhan aktifitas kita, untuk sekedar bermain air di pantai misalnya, SPF 50 sudah cukup.

5. Semua jenis sunblock yang ada di pasaran cocok dengan semua jenis kulit.

Salah. Ada banyak jenis sunblock; krim, lotion, gel, hingga foam. Untuk kulit kering, pilihlah sunblock yang sekaligus bisa melembabkan kulit, biasanya berjenis krim. Sedangkan untuk kulit berminyak, pilihlah jenis yang lebih ringan seperti lotion, gel, atau foam. Jenis ini umumnya juga lebih ramah bagi kulit berminyak yang sering berjerawat.

Jika jenis-jenis sunblock yang ada di pasaran tetap kamu rasa tidak cocok dengan jenis kulit mu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kulit atau klinik kecantikan terdekat. Jangan abaikan kesehatan kulit saat ini, biar ga nyesel pas udah tua nanti. Oh ya, pilihlah klinik kecantikan yang bisa memberikan produk sunblock yang aman dan kosmetiknya dibuat berdasarkan Cara Pembuatan Obat yang Baik.

 

Share: