Judul postingan ini mungkin agak ga nyambung dengan isi cerita yang akan saya tulis. Ga, saya ga lagi belajar tentang ilmu astrologi ataupun astronomi, kok! Jadi, seminggu yang lalu (Sabtu, 18 April 2015) saya ikutan kelas Akademi Berbagi Depok (@akberdepok), yang menampilkan Anida Dyah, penulis buku Under the Southern Stars sebagai narasumber-nya. Awalnya sih saya ragu mau ikutan, karena saya agak ga yakin dengan materi yang akan dibagi, apakah tentang “Menulis Kisah Perjalanan” atau tentang “Working and Holiday Visa“. Kok ragu? Iya, soalnya info di akun twitter @akberdepok agak bikin bingung mana yang akan jadi highlight. Kalo yang dibawain materi yang saya sebut belakangan, bakalan bikin nyeuri hate makin gemes karena udah ga bisa daftar. But being one of her blog follower since the very beginning, akhirnya saya berangkat juga ke kelas Akber siang itu. Ah, pasti adalah ilmu yang saya dapat, pikir saya.

Sampai di tempat acara, saya masih iseng-iseng nanya ke sesama yang datang di acara tersebut. Beberapa orang yang saya tanya, sama clueless-nya, beberapa lagi justru mengharapkan @nidnod bercerita tentang WHV-nya. Dasar, anak muda! Batin saya iri, hihi… Mau nanya ke panitia, kok ya ga enak, wong mereka kayanya masih ribet siap-siap gitu. Sampai ketika slide presentasi dicoba ditayangkan, saya hampir bertepuk tangan lihat judulnya; Menulis Kisah Perjalanan. Woohoooo!

Kebetulan juga, di bulan April ini saya lagi ngerasa ga tahu mau nulis apa di blog ini. Bukan karena kehabisan bahan tulisan, karena trip yang belum ditulis ceritanya sih masih ada beberapa, tapi karena saya akhir-akhir ini sering berpikir “apa iya sih tulisan saya ada yang baca”. Pikiran itulah mungkin yang sering bikin saya mandek nulis ketika word count “Draft – New Post” menunjukkan angka 200-an kata. Alhasil, dari 12 postingan di blog ini pada bulan Maret, di bulan April ini, saya baru berhasil menerbitkan 2 tulisan saja.

Ikut kelas Akber-nya Anida kemarin, membuat saya banyak belajar tentang menulis. Dan salah satu yang paling penting bagi saya adalah; jangan pernah nulis dengan terburu-buru. Tulis, baca kembali, jangan malas meng-edit, and yes twelve posts in a month is just too much, I need to slow down a little bit, and write something better.

Nah, siapa tahu di luar sana ada juga yang lagi kaya saya, bingung mau nulis apa padahal stok cerita jalan-jalan masih banyak, atau mungkin mau mulai nulis cerita perjalanan, saya bagi ya tips-tips dari Anida.




1. What Is Your Big Idea?

Kamu mau nawarin cerita apa sih ke pembaca? Memang sih kita boleh saja menulis tentang ‘how to get there’, habis berapa biaya ke sana, dari titik A menuju C, D, E hingga Z naik apa saja, ada apa saja di destinasi itu. Hanya saja, jika cara bercerita kita membosankan, maka orang akan bosan membacanya.

Australia

What’s Your Big Idea?

Anida mencontohkan, ketika menulis buku UTSS ia mengambil ide besar adalah: roadtrip sejauh 4500 km dari Perth ke Melbourne selama 30 hari, bersama 3 orang asing. Nah, dari ide besar inilah premis cerita dikembangkan, hingga jadi sebuah cerita yang menarik.

2. Find Your Voice!

Voice di sini maksudnya adalah gaya bahasa atau cara bertutur. Carilah writing-style yang paling nyaman, sesuai dengan kepribadian kita, maka dengan begitu tulisan kita akan jauh lebih luwes dibandingkan dengan kita meniru gaya orang lain. Namun, tetaplah membuka wawasan dengan banyak membaca buku dan mempelajari gaya penulisan orang lain. Semakin kaya wawasan kita tentang gaya penulisan, biasanya kita akan semakin tahu cara bertutur yang bagaimana yang pas dengan tulisan kita.

Beberapa buku traveling favorit Anid

Beberapa buku traveling favorit Anid

Saya pribadi setuju sekali dengan tips yang kedua ini. Bagi saya, pilihan kata dan cara penulisan itu ibaratnya adalah “tandatangan” seorang penulis. Unik, dan jarang bisa ditiru. Saya selalu kembali dan kembali mengunjungi blog-blog yang dimiliki penulis-penulis dengan karakter penulisan yang kuat. Kenapa? Karena ketika saya membaca postingannya, saya seperti mendengar seorang sahabat dekat tengah bercerita tentang pengalamannya. Ada yang tulisannya bernada centil, ada yang memilih bercerita dengan lelucon-lelucon yang sedikit nyleneh, ada yang kata-kata pilihannya selalu bernada puitis, ada memilih untuk selalu menyisipkan cerita sejarah suatu tempat, ada yang kontemplatif, dan masih banyak lagi. Pilih satu gaya yang paling pas, and you’ll be fine!

3. Well-Constructed Story

Tidak ada yang lebih menyebalkan dari membaca sebuah cerita yang alurnya nggak karu-karuan dan tidak konsisten, ini menurut saya. Adegan flashback sah-sah saja disisipkan di sebuah cerita, namun harus tetap memiliki plot yang jelas, misalnya. Menurut Anida, ada beberapa poin yang harus diperhatikan agar cerita kita bisa menjadi satu bagian utuh yang enak dibaca, yaitu:

  • Tentukan setting
  • Perkenalkan karakter tokoh
  • Ciptakan momen menarik
  • Ceritakan konflik antar karakter
  • Hadirkan resolusi dari permasalahan yang timbul
  • Jaga plot
Perhatika ini agar tulisan lebih terstruktur

Perhatika ini agar tulisan lebih terstruktur

4. Insert Dialogue

Orang terkadang mengidentikkan penggunaan dialog pada cerita fiksi, padahal cerita non-fiksi pun terkadang membutuhkan dialog, lho. Misalnya, pada saat kita memang sedang menceritakan obrolan dengan teman jalan, atau dengan masyarakat sekitar. Dengan dialog yang mengalir lancar pembaca akan bisa membayangkan atau mereka ulang pengalaman kita secara nyata. Hadirkan dialog dalam porsi yang pas, niscaya cerita kita akan lebih enak dibaca.

20150418_141645

5. Gather Your Resources

Jika memang bertujuan untuk menulis sesuatu dari perjalanan kita, jangan malas untuk mengumpulkan data selama traveling. Kalau kata Anida: observe, talk to people, take pictures, circle the map, write it down (on a notebook), read a lot of related books. Namun jangan lupa untuk tetap menikmati liburan ya.. 🙂

Ready to write your story?

Ready to write your story?

Kamu, yang suka nulis kisah-kisah perjalananmu juga, punya trik-trik khusus ga sih ketika menulis cerita perjalananmu?

Share: