P4 -Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila bukanlah akronim yang asing, apalagi bagi generasi yang masih merasakan sistem pendidikan pada masa Orde Baru. Melalui pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, anak-anak setengah didoktrin dengan sifat-sifat baik yang seharusnya dimiliki oleh orang Indonesia. Entah apakah anak-anak jaman sekarang masih mendapatkan pengajaran mengenai nilai-nilai agung Pancasila itu di sekolahnya.

Namun sesungguhnya, pembelajaran akan memiliki jiwa Indonesia yang sebenarnya, tak cukup hanya dipelajari di bangku sekolah. Guru terbaik untuk mempelajari jiwa Indonesia ada di setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia yang begitu beragam dan dinamis. Yang bahkan, kisah-kisah tentang kemuliaan jiwa Indonesia ini telah banyak diceritakan jauh sebelum nama Indonesia resmi digunakan.

Hal inilah yang saat ini diangkat oleh Dji Sam Soe – Maha Karya Indonesia dalam blogger gathering yang mengambil tema Jiwa Indonesia. Blogger gathering ini menghadirkan 3 pembicara yang handal di bidangnya masing-masing, yaitu; JJ Rizal, seorang ahli sejarah, Yayan Ruhian, seorang ahli pencak silat, dan Nanang Hape, seorang dalang wayang urban.

Membicarakan tentang pencak silat, tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Sriwijaya di abad ketujuh, yang berkat kegigihan rakyatnya dalam berdagang, bisa menjadi salah satu pusat perdagangan di Asia Tenggara pada masa itu hingga awal abad ke sebelas. Sriwijaya, bersama kerajaan Champa dan Khmer, adalah daerah tujuan pedagang-pedagang dari Tiongkok dan Bengal (India). Dari pendekar-pendekar Tiongkok lah silat kemudian lahir di tanah Sumatera, lalu berkembang hingga seluruh pelosok negeri, hingga saat ini muncul berbagai macam aliran atau karakter silat di Indonesia. Namun kesemuanya tetap mengajarkan nilai-nilai yang sama; kegigihan dan gotong royong.

Belajar tentang kesabaran, maka kita perlu menengok pada kekayaan kain Indonesia. Setiap lembar kain tradisional Indonesia, diciptakan dari jiwa-jiwa penuh dengan kesabaran. Ulos, songket, batik, tenun, semuanya terlahir dari kesabaran. Untuk menghasilkan lembaran kain indah itu, tak jarang pengrajin harus benar-benar mengolah dari nol; dari gumpalan kapas yang dipintal menjadi benang, benang diwarnai, kemudian ditenun lembar demi lembar, ataupun kain digambari dan diwarnai dengan proses yang berulang kali.




SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kesabaran Wanita Tua Baduy Memintal Benang

Hal yang sama juga bisa kita lihat pada seni dan kerajinan wayang. Untuk bisa menjadi sesosok tokoh wayang, kesemuanya diawali dari selembar kulit lembu, diolah dalam sekian tahap hingga menjadi selembar kulit inti berwarna kuning. Kulit inti tersebut kemudian dipotong, dibentuk, dan ditatah dengan sangat hati-hati hingga membentuk wayang. Kerja keras belum berhenti sampai di situ, masih ada sekian kali proses pewarnaan hingga benar-benar bisa didapatkan wayang yang sempurna. Betul-betul sebuah proses yang membutuhkan kesabaran.

Cerita pewayangan juga mengajarkan banyak nilai-nilai luhur Jiwa Indonesia. Tentang hidup itu harus selalu seimbang, ada kejahatan ada kebaikan, bahwa semua kebenaran itu bisa dilihat dari dua sisi, tentang Adipati Karna yang harus berperang dengan adiknya sendiri, Arjuna. Bukankah itu semua hal yang ajar yang bisa saja terjadi di kehidupan sehari-hari kita?

Namun, dibalik semua kehebatan yang bisa dilakukan bangsa Indonesia, tetap tersimpan jiwa rendah hati. Jiwa yang selalu menghormati kemampuan orang lain, merunduk bagai padi berbulir penuh. Dari tokoh-tokoh seperti Yayan Ruhiyan dan Nanang Hape, kita bisa belajar semua itu. Yayan sudah membawa pencak silat ke pentas dunia ketika ia membintangi sebuah film produksi Hollywood. Nanang Hape sendiri adalah orang yang gigih memperkenalkan wayang kepada anak muda jaman sekarang melalui Wayang Urban, sebuah pertujukan wayang kulit dengan bahasa Indonesia, sehingga bisa dimengerti oleh semua orang.

Betapa eloknya jiwa Indonesia yang telah ratusan tahun mengakar di negeri ini. Akankah terus bertahan atau musnah ditelan jaman, kesemuanya tergantung pada kita, orang-orang yang hidup di bumi pertiwi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Live Writing Competition – Maha Karya Indonesia – Jiwa Indonesia

Share: