Bukittinggi; Sebuah Cerita Mudik ke Kampung Orang

Apa yang kamu lakukan kalau mudik? Ngobrol ngalur ngidul dengan teman masa kecil? Catch-up dengan sepupu yang udah lama banget ga ketemu? Main ke rumah om-tante dan menikmati masakan khas rumah mereka? Atau piknik ke tempat wisata yang ada di sekitar kampung halaman? Jika hal terakhir yang saya sebut itu kamu lakuin juga, yuk toss dulu sama saya… Kita temenan! Mudik, buat saya adalah kesempatan untuk memaksa orang tua dan adik saya untuk piknik bareng-bareng.

“We’re not driving all the way from Cikarang to Klaten just to stay at grandma’s house!” Begitu argumen saya ke orangtua untuk memaksa mereka mau diajak jalan-jalan. Tentu saja saya ga pakai kalimat berbahasa enggres begitu, aslinya sih kalimatnya: Ngopo, Pah… nyetir adoh-adoh seko Cikarang tekan Klaten kok mung klekaran ning omahe simbah!

Gunung Singgalang yang Menaungi Kota Bukittingi
Gunung Singgalang yang Menaungi Kota Bukittingi

Tahun lalu, ketika saya berkesempatan mengunjungi kota Padang dan sekitarnya seusai Hari Raya Idul Fitri, saya melihat kebiasaan keluarga saya berpiknik ketika mudik juga banyak dilakukan warga Sumatera Barat. Mulai dari Pantai Air Manis di Padang, Istana Pagaruyung di Kab. Tanah Datar,  Danau Maninjau, Danau Singkarak hingga berbagai macam tempat wisata di kota Bukittinggi, hampir semuanya penuh dengan warga lokal dan pemudik yang piknik.

Istana Bung Hatta - Bukittinggi
Istana Bung Hatta – Bukittinggi

Rombongan kecil kami tiba di Bukittinggi sekitar pukul 11.00 pagi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari kota Padang, sedikit lebih lama dari waktu normal sekitar 2 jam saja. Kami terkena macet di pasar sayur Padang Panjang karena kebetulan hari itu hari Senin, hari pasar di Padang Panjang. Malam sebelumnya sudah banyak yang menyarankan kami agar berangkat pagi-pagi buta, sebelum jam 05.00 pagi, agar terhindar dari macet. Namun, akumulasi dari kurang tidur karena gangguan suara-suara aneh di hotel kami sebelumnya dan dasarnya kami memang bukan morning person, kami baru berangkat dari hotel pukul 08.00 pagi.

Keramaian di Sekitar Kawasan Jam Gadang
Keramaian di Sekitar Kawasan Jam Gadang

Orang tentu bisa menebak mengapa kota ini diberi nama Bukittinggi, tentu saja karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Bisa dibilang kota ini seperti Malang di Jawa Timur, atau Bandung di Jawa Barat. Kota cantik berhawa sejuk, tak heran jika banyak orang menyebutya sebagai Parijs Van Sumatra, alias Kota Paris-nya Pulau Sumatra. Kota terbesar kedua di Sumatera Barat ini pernah memegang peranan yang sangat penting pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia; sebagai Ibukota Negara.

Lobang Jepang
Lobang Jepang; Salah Satu Saksi Bisu Peran Penting Bukittingi di Masa Perang

Siang itu Bukittinggi sangat ramai, dibeberapa titik jalan sekitar kawasan Jam Gadang, Pasar Atas Pasar Bawah,  dan Ngarai Sianok. Di depan Museum Bung Hatta, pos polisi terus menyiarkan pengumuman larangan parkir di depan museum dan kawasan Jam Gadang. Namun kemacetan tetap saja tak terhindarkan. Orang-orang berlalu lalang, penjaja makanan, tukang balon, badut, tukang foto keliling, hingga penjual anak ayam warna-warni memenuhi pelataran sekitar Jam Gadang.

Saya tersenyum. Di bawah terik matahari kota Bukittinggi, saya mencoba mengabadikan keelokkan landmark kota yang dibangun tahun 1926 itu; Jam Gadang. Banyaknya pengunjung membuat hampir mustahil saya mendapatkan foto Jam Gadang yang utuh tanpa ada gambar orang melintas di depannya.

Ya, ternyata memang seperti inilah wajah unik Indonesia ketika musim libur tiba. Kampung sendiri maupun kampung orang, ternyata sama serunya. Kalau kamu, punya cerita seru apa pas mudik?

10 Responses
  1. Kok nggak foto di depan jam gadang 😀 kan itu ikon bukittinggi 😀 kalau aku mudik itu berarti banyakin makan di warung yang cuma ada di deket rumah kayak nasi jagung, bakso kikil, pecel punten :9 duh jadi laper sendiri 😀

    1. Parahita Satiti

      Foto di depan Jam Gadang ada di kamera temen, Kak.. ah, tuh kan jadi inget belum sempet ngopi foto dari temen trip.
      Kamu aslinya mana sih, Mi? Nasi jagung itu kan udah susah banget dicari jaman sekarang… Dulu mbah ku suka bikin, trus aku makannya sampe kekenyangan 😀

  2. Meidi

    Waduh kak, kalo aku malah ga pernah mudik :((
    Jadi setiap musim mudik mendekat dan orang-orang siap2in duit maupun mental buat mudik, saya cuma dadah dadah dan berdoa mereka samapai plus kembali dengan selamat.

    btw asik banget dapet foto jam gadangnya pas langitnya lagi crystal clear, waktu aku ke sana lagi mendung hehehehe, eh pas puasa deh kayaknya 2 tahun lalu ke sana, jadinya ga sempet masuk goa jepang takut pengsann kak :))

    aku masih penasaraan kenapa angka 4nya jam gadang ditulis IIII instead of IV

    sempet nyobain kue Bika khas bukit tinggi ga kak?

    1. Parahita Satiti

      Meidi asli Jakarta ya? Asik lo mudik tuh, hehehe..

      Iya, pas di Bukittinggi pas matahari-nya croong bener. Aku juga ga masuk ke goa Jepang, I’m not a big fan of caves, or small space 😀

      Setahuku, penulisan angka 4 romawi dengan IIII instead of IV, emang udah biasa ya di penulisan di jam? cmiiw…

      Sempet beli kue bika pas kena macet di Padang Panjang sih, tapi ga tau itu kue bika yang sama dengan yang di Bukittinggi atau bukan. Kalau di Bukittinggi cuma sempet makan itiak lado mudo, sama teh talua aja 😀

  3. kampung ortu dua-duanya di Sumbar, dan gue udah beberapa kali ke sana sejak kecil. tapi tetap belum puas. terlalu banyak yang menarik di sana dan jauh2 jarak antar tempat wisatanya. karena suami juga kampungnya di Sumbar (hahaha, kebetulan banget!), jadi pengen suatu hari nanti raun-raun Sumbar minimal seminggu! hihi.. tapi justru pengennya bukan pas lebaran, biar gak terlalu ramai 😛

    1. Parahita Satiti

      Kak, kampung mu sungguh rancak bana! Aku pun pengen kesana lagi, dan ya.. ga pas lebaran pastinya.. masih banyak nih PR yang belum dilihat di Sumbar.

      Sssstt.. milih suami satu kampung itu, konon katanya menghemat biaya mudik lho, pleus.. meminimalisir ‘debat’ tahun ini musti mudik kemana, hihi..

  4. Bukittinggi, tempat sejuk dengan makanan yang menggoda lidah dan menghangatkan perut (red– pedes-pedes)
    jalan dari kota ke Danau Maninjau ada scene-scene yang mirip dengan Ubud.
    Selalu ingin kembali ke kota ini.

  5. onde mandeee rancak banaa…
    kebetulan awak sadang di padang.
    mampir ke blog ini, dan memang ada rencana main ke bukik tinggi 😀
    makasih infonya mbak 😀

    tos dulu #plakkk

    btw foto paling atas di ambiak dari mano?

    1. Parahita Satiti

      Halo, fathur… terimakasih sudah mampir di blog saya 🙂

      Foto yang paling atas itu diambil dari sisi Jam Gadang yang menghadap ke Istana Bung Hatta. Kebetulan hari itu langit lagi cerah banget, jadi cantik ya fotonya…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: