Dua minggu belakangan ini muncul berita tentang rencana pemindahan observatorium Bosscha dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat ke Kabupaten Kupang, akibat parahnya polusi udara di Lembang. Membaca berita-berita tentang itu di situs online, saya jadi teringat akan trip gagal #DuoGinuk ke observatorium ini. Kenapa bisa gagal? Jadi gini, kami berdua tahu bahwa untuk bisa berkunjung dan mengamati bintang di Bosscha memang tidak bisa main datang saja, harus reservasi dulu, ngurus surat ini itu dulu, de al al, de el el. Seminggu sebelum berangkat ke Bandung, saya sudah berusaha menghubungi pengelola Bosscha. Email ga dijawab. Telp, ga diangkat.

Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha

Yo wis lah, akhirnya saya dan Bulan memutuskan: dapat konfirmasi atau ga dari Bosscha, pokoknya kami akan tetap jalan ke sana. Urusan nanti boleh masuk atau ga, ya itu urusan nanti. #DuoGinuk kan anaknya ga gampang nyerah, tapi kami gampang dipuaskan, kok… Kasih aja Bulan sekantong Momogi, dan saya 2 lembar mendoan. Klaar urusan.

Nekat sampai ke Bosscha tanpa surat ijin, akhirnya boleh masuk lihat bintang pake teropong ga?

Kasihan deh ga boleh masuk ke observatorium Bosscha!

Kasihan deh ga boleh masuk ke observatorium Bosscha!




Nggak. Hahahaha… *tertawa miris*

Kami hanya bisa jalan-jalan diseputaran bangunan observatorium-nya saja. Ternyata untuk bisa masuk dan melihat bintang pakai teropong di observatorium Bosscha memang ada jadwal khususnya. Ga bisa main dateng begitu saja. Hal ini selain terkait dengan aturan menjaga alat-alat observatorium dari kerusakan, juga karena bintang kan ga bisa dilihat setiap saat. Tanggal dan waktu pengamatan sangat menentukan posisi suatu bintang.

Observatorium Kebanggaan Indonesia

Observatorium Kebanggaan Indonesia

Nah, kalau bener observatorium Bosscha jadi pindah, pengen dong nyoba ngamatin bintang dari Lembang sebelum teleskopnya di pindah ke Kupang? Nih, Bosscha udah ngeluarin jadwal kunjungan dan pengamatan bisa dibaca di sini. Dari yang saya baca di website itu, kunjungan untuk bulan April, Mei, Juni SUDAH PENUH!. Jadi kalau mau ke sana, sebaiknya cepetan reservasi.

Mau ke observatorium Bosscha naik angkot? Gampang banget rute-nya! Kamu tinggal cari angkot rute Stasiun Hall – Lembang , angkot warna cokelat muda, (kamu bisa nyegat angkot ini di sepanjang rute: Stasiun Hall – Jl Pasir Kaliki Bawah / Istana Plaza – Perempatan Pasteur – RS Hasan Sadikin – Jl Sukajadi – PVJ – Jl Setiabudi) atau angkot Pasar Ciroyom – Lembang (rutenya: Pasar Ciroyom – Jl Pajajaran – Jl Astina – Jl Pasir Kaliki – Selanjutnya rute sama dengan angkot Stasiun Hall – Lembang). Bilang ke Pak Sopir untuk turun di pertigaan Bosscha. Dari pertigaan tersebut, kamu tinggal jalan kaki kurang lebih sejauh 1.5 kilometer (jalanan aspal halus, menanjak), atau naik ojek. Ongkos naik ojeknya cukup murah sih untuk ukuran saya, IDR 5000 (Oktober 2014).

Atau jika start awal kamu naik angkot jauh dari daerah Stasiun Hall ataupun Pasar Ciroyom, kamu bisa naik angkot apa saja yang menuju terminal Ledeng. Setelah sampai di terminal Ledeng, baru ganti dengan angkot ke arah Lembang.

Didirikan tahun 1923, observatorium Bosscha adalah observatorium tertua dan juga terbesar yang dimiliki Indonesia. Saat ini bangunannya pun sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Maka dari itu, berkunjung ke sana kok kesannya ribet banget. Ya namanya mau melindungi aset bangsa, ya harus banyak aturannya.

Siapa mau ke Bosscha?

Share: