Cunca dalam bahasa yang dipakai oleh masyarakat Labuhan Bajo, entah bahasa apa, artinya air terjun. Kalau dalam bahasa Sunda disebut curug, dalam bahasa Jawa (tengah) disebut grojogan, dalam bahasa Jawa (timur) disebut coban. Sebegitu kayanya Indonesia, untuk menyebut ‘air terjun’ saja ada banyak sekali versi. Cunca Wulang terletak sekitar 30 kilometer di timur kota Labuhan Bajo. Namun untuk jarak yang terhitung dekat tersebut dibutuhkan waktu lebih dari 2 jam bermobil untuk mencapai desa Wersawe, desa terdekat dengan Cunca Wulang, mengingat buruk dan berlikunya jalan yang harus dilalui.

Waktu itu (Mei 2012) saya dan teman-teman pergi ke Cunca Wulang bisa dibilang setengah tidak sengaja. Malam terakhir kami di Labuhan Bajo, kami baru diskusi mau ke mana. Flight kami kembali ke Denpasar baru akan berangkat pukul 16.30 keesokan harinya, masih ada waktu setengah hari. Diskusi sebentar dengan teman yang jadi guide kami selama di Labuhan Bajo dan googling sebentar, kami putuskan untuk pergi ke suatu tempat bernama Cunca Rami. Keesokan harinya, mungkin karena miskomunikasi antara Japra -teman kami- dengan sopir angkot sewaan, kami dibawa ke Cunca Wulang. *jitak Japra*

TheJapra, "Oknum" yang membawa kami ke Cunca Wulang

TheJapra, “Oknum” yang membawa kami ke Cunca Wulang

Hampir dua jam perjalanan kami diaduk-aduk di dalam angkot sewaan, jalanan menuju desa Wersawe itu belokannya sungguh ampun-ampunan; kelokan seperti hairpin sambil nanjak hampir di sepanjang jalan. Jalanan semakin memburuk ketika kami mencapai Cekonobo. Setelah angkot berbelok ke kiri, kami bertemu dengan jalan kampung yang aspalnya sudah mengelupas di sana-sini, hanya menyisakan batu-batu besar dan genangan air. Di beberapa titik, kami semua harus turun karena ada jalan yang terputus dan mobil harus melewati dua batang pohon penyambung jalanan. Horor abiiss!!

Sampai di desa Wersawe, setelah kami harus membayar ‘tiket masuk’ IDR 10.000/orang pada kas desa dan IDR 50.000 untuk guide, kami masih harus trekking selama 1.5 jam melewati tengah hutan pinus dan karet. Trekking-nya ringan? Nope. It was one of the hardest trekking I’ve ever did. Hutan yang kami lalui sepertinya hanya pernah diinjak oleh para peladang saja, tidak ada jalan setapak yang bisa kami jadikan patokan. Jangan tanyakan berapa kali kami harus naik turun bukit. Dan mungkin semuanya makin terasa berat karena kami sudah kehabisan tenaga, setelah 3 hari sebelumnya naik turun bukit di Pulau Rinca dan Pulau Komodo.




Bagian yang makin bikin deg-degan adalah saat kami hampir mencapai si air terjun. Kami harus melompati batu-batu besar dengan jeram sungai yang mengalir deras di bawah kaki kami. Seperti ini:

Lompat Jeram Cunca Wulang? I did it!

Lompat Jeram Cunca Wulang? I did it!

Namun apa yang harus kami lalui terbayar dengan pemandangan yang kami dapat. Air terjun yang diapit dua tebing batu super besar. Ray of light dari langit jatuh membentuk tirai cahaya di depan kedua tebing batu tersebut. cantik banget!

Ray of Light - Cunca Wulang

Ray of Light – Cunca Wulang

Beberapa teman saya yang masih kuat melanjutkan mendaki sampai puncak tebing batu. Di atas sana kata mereka pemandangannya jauh lebih bagus. Saya sih sudah cukup puas cuma sampai di tebing batu bagian bawah, dengkul udah ga bisa bohong, euy!

The Magnificent Cunca Wulang

The Magnificent Cunca Wulang

Dengkul jugalah yang akhirnya membawa petaka pada saya dan seorang teman, Ucok. Ketika harus kembali melompati batu besar untuk pulang, entah kaki saya yang memang terlalu pendek, entah karena memang sudah gemeteran karena capek, saya jatuh ke jeram sungai, membawa Ucok yang bertugas menangkap tangan saya diujung batu yang satu lagi, ikutan jatuh ke sungai.

Untuk pertama kali dalam hidup, saya belum pernah sepanik saat itu. Sekuat apapun saya water-trappen, rasanya saya ga bisa ngambang ataupun mencapai batu di tepi jeram. Dan saya tahu, teman-teman yang di atas batu tidak punya sesuatu pun yang bisa digunakan untuk meraih saya. So this is my end, the self-proclaimed independent girl, pikir saya.

“Kak Titi, ayo usaha ke sini” saya mendengar Ucok berteriak dan melihatnya mengulurkan tangan.

Sekuat tenaga saya berusaha meraih tangan Ucok.

“Lo harus percaya kita bisa selamat!” kata Ucok lagi. Mungkin dia melihat saya, si perempuan yang cuma percaya sama dirinya sendiri dan sekarang lagi percaya dirinya bakalan mati kebawa arus jeram, ragu dia bisa bawa saya selamat sampai ke pinggir jeram. Pelan-pelan kami berenang ke arah batu terdekat, lalu memanjat ke tepi batu yang lain.

Badan kami basah kuyup, kacamata saya hilang terbawa arus, kamera Ucok ikut berenang bersama kami.

Namun mau tak mau saya tergelak geli ketika Max, seorang bule Jerman yang ikut dalam rombongan kami, bertanya dengan penuh kekhawatiran,

“Semua beres?” ketika mungkin maksudnya adalah “Is everything OK?”

Tidak, Max, semua tidak beres! Semua berantakan! 😀

*meres-meres baju basah dan kibas-kibas rambut lepek*

Berangkat Bisa, Pulangnya? be;um Tentuuu...

Berangkat Bisa, Pulangnya? Belum Tentuuu….

Share: