Perbukitan Menoreh, saya mengenal nama ini dari sedikit kisah perjuangan Pangeran Dipenogoro yang pernah diceritakan Mbah Kakung. Namun saya lebih mengakrabi nama itu tentu saja dari buku cerita dunia persilatan karangan  SH Mintardja; Api di Bukit Menoreh. Dulu saya pikir nama Perbukitan Menoreh itu hanyalah nama karangan saja, ternyata perbukitan ini memang nyata ada. Perbukitan Menoreh terbentang dari Kabupaten Kulonprogo di DI Yogyakarta hingga ke Magelang, Jawa Tengah. Dan tak hanya nyata, Perbukitan Menoreh juga menyimpan banyak keindahan di dalamnya. Salah satunya adalah tempat yang saya kunjungi sore itu; Kalibiru.

Pintu Masuk Desa Wisata KalibiruKalibiru di Perbukitan Menoreh

Kalibiru di Perbukitan Menoreh

Kalibiru terletak di Kabupaten Kulonprogo, kabupaten paling barat dari Propinsi DI Yogyakarta. Tapi lagi-lagi, tolong jangan tanyakan saya arah menuju ke tempat ini dari kota Jogja ya.. Saya menyerah kalah kalau ditanya arah. Yang pasti siang itu kami berangkat dari kawasan Kaliurang, setelah mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Saya hanya memberikan arahan singkat pada Pak Neko, driver kami, untuk menuju Kalibiru, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kab. Kulonprogo. Setelah itu saya dan Kaknyanyu tertidur pulas di mobil, dan baru terbangun ketika mobil kami berhenti. Rupanya Pak Neko harus bertanya dimana tepatnya Kalibiru setelah kami sampai di desa Hargowilis. Seorang anak yang sedang berbelanja di toko kelontong berbaik hati menunjukkan jalan pada kami.

Pun monggo, ikuti motor saya saja, Pak.. Rumah saya di dekat Kalibiru, nanti saya tunjukkan jalannya..” ujarnya sambil menyalakan sepeda motornya.

Mobil kami terus mengikuti laju sepeda motor gadis itu, berbelok ke kiri memasuki jalan desa yang di kanan kirinya dipagari dengan pepohonan. Hingga di suatu pertigaan kecil, anak perempuan itu menghentikan motornya dan berkata; “Ini bapak terus saja, ikuti jalan menanjak, sampai ketemu ada tulisan “Selamat Datang di Kalibiru”, itu pintu masuknya. Saya belok di sini…” Saya membuka kaca jendela di samping saya duduk dan membalas kebaikannya dengan ucapan “maturnuwun, dik…” dan seutas senyum paling tulus yang bisa saya ukir di bibir.




SAMSUNG CAMERA PICTURES

Setelah melewati jalanan sempit, berliku dan menanjak, benar saja sekitar 10 menit kemudian kami tiba di parkiran Desa Wisata Kalibiru. Suasana desa ini mengingatkan saya akan desa tempat tinggal simbah saya, sebelum terkena gempa tahun 2006. Rumah-rumah besar beratap limasan dengan wuwungan (bagian dalam atap rumah, di rumah modern biasanya tidak terlihat karena tertutup eternit) yang tinggi, dengan pintu kayu lebar yang bisa dilipat di bagian depan rumah. Hampir setiap rumah juga dilengkapi dengan halaman super luas dengan pepohonan rimbun sebagai pagarnya.

Kami berjalan menuju tempat penjualan tiket masuk kawasan wisata Kalibiru. Jalan menuju pintu masuk Kalibiru ini cukup bikin ngos-ngosan buat saya yang 2 bulan terakhir ini jarang banget olahraga. Untung jalannya ga begitu jauh, cuma sekitar 200 meter saja, dan setelah masuk ke ujung bukit Kalibiru, sudah tidak banyak tanjakan lagi.

Kak Nyanyu, Angkruk-angkruk di Kalibiru

Kak Nyanyu, Angkruk-angkruk di Kalibiru

Saya tidak heran jika akhir-akhir ini nama Desa Wisata Kalibiru begitu terkenal. Pemandangan yang disuguhkan di sana memang indah. Sebuah sudut bukit dengan pemandangan langsung ke Waduk Sermo di kejauhan. Belum lagi dengan hijaunya perbukitan Menoreh yang bisa dilihat selepas mata memandang. Beruntung saya memutuskan datang di hari Jumat sore, konon ketika akhir pekan, pengunjung yang datang ke tempat ini bisa mencapai 1000 orang dalam 1 hari. Ga kebayang deh gimana antrinya kalau naik ke pohon pengamatan untuk bikin foto-foto cantik di sana.

Kalibiru Kulonprogo

Untuk naik pohon ini, antri dulu sekitar 45 menit!

Sekedar informasi, untuk masuk ke Kalibiru setiap orang dikenakan tiket masuk sebesar IDR 5.000, jika ingin mencoba rangkaian olahraga ketangkasan meniti tali temali dan flying fox, dikenakan biaya sebesar IDR 35.000. Untuk naik ke pohon pengamatan (dan bikin foto cantik berlatar Waduk Sermo) dikenakan biaya IDR 10.000. Harga-harga tersebut menurut saya sih wajar ya.. Karena untuk naik ke pohon pengamatan, contohnya, kita tidak dibiarkan naik begitu saja. Harus memakai alat pengaman, dan tentunya dipandu oleh Mas-Mas Pemuda Lokal yang cukup mumpuni dengan alat panjat memanjat tersebut. Sepadanlah dengan biaya yang kita bayarkan.

Dari atas pohon pengamatan, Kalibiru

Dari atas pohon pengamatan, Kalibiru

Kawasan desa wisata Kalibiru ini sangat cocok dikunjungi ketika sore hari. Teduhnya pepohonan pinus yang tumbuh di sepanjang perbukitan, ditemani dengan semilir angin sejuk, dan pemandangan cantik yang terhampar di sepanjang mata memandang. Sangat cocok untuk melepas kepenatan. Tapi, usahakan jangan datang ketika akhir pekan ya (Sabtu-Minggu), karena alih-alih mendapat suasana sepi nan syahdu, kita justru akan mendapati tempat yang sangat ramai dengan pengunjung.

Berani nyoba ini di Kalibiru?

Berani nyoba ini di Kalibiru?

Dari Kalibiru, kami langsung menuju Gallery Prawirotaman Hotel, tempat kami menginap. Perjalanan dari Kalibiru menuju kawasan Prawirotaman membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Setelah semalaman tidur dengan duduk tegak lurus di kereta Bogowonto, disambung dengan seharian keliling 2 kabupaten di Jogjakarta, membayangkan bisa mandi air hangat dan beristirahat rasanya akan nikmat sekali. Kalau lagi liburan di Jogja, saya merekomendasikan untuk menginap di Gallery Prawirotaman Hotel, silakan reservasi melalui website mereka, atau via telp ke +62 274 4580008

Share: