Ngerasa ga sih, kita sekarang gampang banget memberikan label hipster dan mainstream untuk sesuatu hal yang dilakukan orang lain? Termasuk dengan mengatakan “ah, tempatnya udah mainstream banget!” pada satu tempat yang sedang ramai dikunjungi orang.

Pagi Hari di Tebing Keraton

Pagi Hari di Tebing Keraton

Termasuk pada tempat bernama Tebing Keraton. Oktober 2014, saya, Bulan, dan 2 orang teman kantor saya; Mba Irrna dan Mba Endah memutuskan main ke tempat yang katanya tebing mainstream; tebing sejuta umat. Saya pribadi tidak pernah mempertimbangkan ke-mainstream-an atau malah ke-hipster-an ketika memutuskan mengunjungi suatu tempat wisata. Kalau tertarik, ya sudah datangi saja. Itu prinsip saya.

Dengan sebuah mobil sewaan (yang datang sangat terlambat dari waktu yang dijanjikan), kami memulai perjalanan dari Jalan Braga. Dan ternyata, driver kami pun belum pernah sampai ke Tebing Keraton. Sempet nyasar sampai ke jalan depan Selasar Sunaryo, akhirnya kami memutuskan bertanya pada seorang kakek yang sedang jalan pagi. Tak lama kami pun tiba di parkiran Tebing Keraton.

Parkiran yang di dekat pintu masuk? Bukan, parkiran yang masih di bawah, dekat dengan pangkalan ojek. Ojek ini sepertinya memang “dikondisikan” untuk menghalangi mobil pengunjung untuk sampai ke atas sih. Padahal kalau dilihat-lihat, jalanan menuju ke Tebing Keraton masih memungkinkan untuk dilalui mobil. Tapi ya ga pa-pa, jika dengan naik ojek maka kami ikutan berkontribusi pada perekonomian masyarakat setempat, then I don’t mind 🙂




Kenapa Dinamai Tebing Keraton? Ga Terjawab Juga :D

Kenapa Dinamai Tebing Keraton? Ga Terjawab Juga 😀

Tebing Keraton ini masuk ke dalam wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir Djuanda. Entah kenapa dinamai Tebing Keraton. Sebuah banner terpasang di satu sudut Tebing Keraton, mencoba menerangkan awal ‘diketemukannya’ tempat itu, namun apa yang tertulis di banner itu tidak memberikan penjelasan yang pasti mengapa dinamai ‘Tebing Keraton’.

Saat itu tiket masuk yang harus kami bayar adalah IDR 10.000/orang (wisatawan dalam negeri). Jujur, saya sih merasa harga tiketnya agak kemahalan ya, untuk ukuran ‘cuma’ lihat hamparan luas hutan, tanpa ada satupun fasilitas ataupun sarana penunjang lainnya, misalnya; bangku taman, pagar yang aman, ataupun mungkin teropong. Tapi, ya balik lagi… jika memang harga tiket segitu diperuntukkan untuk pembangunan tempat wisata itu, ya ga keberatan sih.. Dari beberapa postingan blog temen-temen yang berkunjung ke Tebing Keraton sesudah saya, saya lihat sekarang Tebing Keraton sudah dipasangi pagar yang cukup aman. Dibeberapa jalurnya pun sudah dipasang paving-block. Mudah-mudahan harga tiket yang lumayan mahal itu, bisa bikin Tebing Keraton makin maju ya?

Kamu mau main ke Tebing Keraton? Sok atuh, main aja.. Ga usahlah dengerin orang yang ngatain “Ih, Tebing Mainstream!”

Share: