“Berat, Kang?” tanya saya pada Kang Naldi yang membawakan backpack milik Mickey.

Nteu.. udah biasa” …. “memang ini isinya apa?”

“Baju. Selimut. Sama makanan kayanya…”

“Rek sabaraha poe’ di Gajebo?” [mau berapa hari di Gajebo?] Saya terlalu malu untuk menjawab 1 hari saja. Menginap 2 malam saja kok masing-masing dari kami membawa berukuran lebih dari 20 liter. Tas saya yang paling kecil, 26 liter. Mbak Astrid dan Kalejid backpack-nya sekitar 32 liter. Mickey? 50 sekian liter, dan penuh sesak.

“Banyak bawa bajunya?” Kang Naldi kembali bertanya

“Mickey selalu banyak bawa baju…” Lalu sunyi kembali menyergap. Ada satu tanya yang ingin saya ungkapkan, namun saya ragu apakah ini sopan. Ah, tak apa.. kalau saya bertanya dengan nada yang ramah, Kang Naldi juga pasti ga akan marah.

“Kalau Kang Naldi pergi jauh dari kampung, misalnya ke Jakarta, bawa baju berapa?”

Nteu mawa. Yang dipakai di badan aja. Kadang bawa satu. Memang cuma punya 2 baju itu…”

***

Berapa banyak baju yang kita miliki? 20 pasang? 25 pasang? 1 lemari penuh? 1 lemari ukuran tebal 1 m lebar 3 meter tinggi 2 meter? Dan sudah punya begitu banyak pakaian, berapa kali di pagi hari kita termangu diam di depan lemari, tak tahu musti pakai baju apa, lalu mengeluh “Gw ga punya baju!”

Sementara Kang Naldi, salah seorang suku Baduy Dalam dari Cibeo, mengaku hanya memiliki 2 pasang baju, dan hidupnya baik-baik saja. Iya, saya tahu. Kita ga bisa bandingin hidup kita dengan hidup suku Baduy, apalagi Baduy Dalam. Mereka tidak punya weekly-meeting yang harus dihadiri di kantor, bertemu klien di sebuah cafe ternama, ataupun janji kencan dengan gebetan di akhir pekan.

Saya baru saja menyelesaikan membaca buku karya Desi Anwar, salah satu dari sedikit jurnalis mumpuni di Indonesia. Judul buku tersebut “A Simple Life”. Paragraf pertama dari kata pengantar buku ini sungguh menarik:

“Why a simple life? Because if there’s one thing we’re good at in this life, is making things complicated! It is as if the only way we know we’re alive, is to worry about it. We’re worry about the past, about the future, about what other people think, about what other people don’t think, about the things that happen and those that are not happening. We’re clutter our mind and our surrounding with too many thoughts and too many objects. ….”

Kembali ke cerita main ke Baduy tadi, untuk sebuah perjalanan menginap 2 malam, saya sudah merasa bawaan sedikit. Tiga stel baju ganti, sleeping bag, matras, toiletries dalam kemasan sangat mungil, beberapa snacks, dan bantal tiup. Tapi ternyata, baju ganti terpakai hanya 2 buah saja, sleeping bag tidak terlalu dibutuhkan karena ternyata di sana tidak terlalu dingin, beberapa permen cokelat masih tersisa hingga pulang. Jadi saya sampai pada kesimpulan, saya perlu belajar banyak untuk lebih sederhana lagi dalam berkemas, atau mungkin juga dalam hidup.

Sebulan lagi saya rencananya akan kembali ke Baduy. Saya berjanji untuk kunjungan kedua ini akan bawa lebih sedikit barang pribadi, menyisakan ruang di tas punggung untuk sedikit oleh-oleh untuk keluarga yang sudah berbaik hati mengijinkan kami menginap. Pack light for a simpler and happier life!

Share: