Tersesat

Usia saya kala itu baru akan 9 tahun. Duduk di kelas 4 SD, baru akan masuk ke kelas 5 selesai liburan nanti. Berani naik kereta api sendiri dari Jakarta ke Klaten, kota tempat tinggal 2 pasang kakek-nenek saya tinggal. Setelah beberapa hari di rumah simbah yang dari mama, saya minta diantar ke rumah simbah yang dari papa. Orangtua mama saya tinggal di Klaten kotanya, dekat stasiun kereta api, sementara orangtua papa berasal dari Wedi, sebuah kecamatan di Klaten yang berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul

Diantar oleh becak langganan, saya sendirian menuju rumah Mbah Kidul (mbah yang rumahnya di Selatan, maksud dari sebutan ini). Sesampainya di rumah simbah, saya mendapati rumah dalam keadaan kosong.

“Simbah mu do nyang nggone Mbah Sonto, Ngoro-oro.. Lik mu Wagiyo dadi manten jarene…” kata seorang tetangga simbah yang masih terhitung kerabat.

[Simbah mu pergi ke rumah Mbah Sonto, Ngoro-oro… Om Wagiyo menikah]

“Wis dolan wae kene nyang ngomah, mengko nak awan do bali” sambungnya.




[Sudah, main saja ke rumah sini. Nanti siang (mbah mu) juga pulang]

“Mboten, mbah.. aku nang kene wae..” jawab saya, tetap diam menunggu di teras rumah simbah. Duduk di tembok pinggiran teras setinggi pinggang orang dewasa. Rumah di kampung sini memang khas, hampir semuanya punya tembok semacam itu, kami menyebutnya hek.

[Nggak, mbah.. aku di sini saja]

Sepuluh menit berlalu, saya mengeluarkan game-watch dari tas. Setengah jam kemudian, saya bosan. Mau masuk rumah simbah, saya ga berani, takut ada setan. Rumah simbah itu luaaaas banget; terdiri dari 3 cungkup limasan. Pendopo yang merupakan satu-satunya ruangan berlantai semen, bisa untuk menyimpan berkarung-karung gabah saat musim panen. Waktu kecil malah saya bisa sepedaan di dalamnya. Ruang tengah yang menjadi ruang serbaguna bisa untuk 3 kamar, ruang makan, tempat mbunteli tempe. Cungkup ketiga adalah dapur, ada 6 tungku kayu tempat simbah mengolah kedelai menjadi tempe. Dipojoknya ada kandang kambing dan ayam.

Ah, di teras saya melihat sepeda jengki milik Mbak Atun, kakak sepupu saya. Saya masukkan game-watch ke tas, melemparkan tas ke kursi ruang tamu, saya tuntun sepeda turun dari teras.

“Mbah, aku nyusul simbah wae nyang Ngoro-oro yo…” pamit saya pada tetangga tadi.

[Mbah, saya nyusul simbah ke Ngoro-oro ya…]

“Lha apa kowe apal dhalane?”

[Lha apa kamu hapal jalan kesana?]

“Apal…” jawab saya, meskipun sebenarnya saya ragu. Terakhir diajak papa ke rumah sepupunya itu, mungkin saya masih kelas 2 SD.

Bersepeda terus lurus ke arah selatan, sampai ketemu perempatan pertama, belok kiri. Lurus terus lagi sampai ketemu sawah, belok kanan menyusuri jalan kecil di pinggir sawah sampai ketemu perkampungan di pinggir sungai. Belok ke kiri, rumah Mbah Sonto ada di ujung perkampungan.

Ok, percaya diri dengan ingatan, saya mulai mengayuh sepeda meninggalkan rumah simbah.

Terus mengayuh ke selatan, di atas jalan aspal yang menghubungkan Kab. Klaten dengan Kab. Gunung Kidul. Duh, kok perempatannya ga ketemu-ketemu ya? Mungkin memang belum sampai, perempatan itu terasa dekat di pikiran saya, karena biasanya ‘kan saya dibonceng motor.

Jalanan aspal mulai menanjak dan saya mulai merasa tidak yakin dengan jalanan yang saya ambil. Apalagi ketika jalan aspal mulai berubah jadi jalan berbatu, tanpa ada rumah penduduk di sekitar, hanya ada hutan pohon jati yang mulai meranggas. Matahari mulai memanas, saya kehausan, punya uang tapi ga ada yang jualan.

Kenapa ga balik lagi aja sih? Mungkin ada yang berkata seperti itu membaca cerita ini. Tolong dicatat: dari kecil gengsi saya udah segede gunung. Bagi saya memalukan balik lagi ke rumah dan mengakui saya gagal karena ternyata ga inget jalan.

Saya lanjut mengayuh. Tinggi badan saya kala itu baru 130 cm, sepeda jengki itu kalau di kampung rata-rata dipakai oleh anak usia SMP. Iya, saya naiknya ga duduk di sadel, berdiri di belakang setang sepeda sambil kegojlak-gojlak jalanan berbatu.

Beberapa meter di depan, saya melihat ada seorang mbokde turun dari hutan jati ke jalanan. Dipunggungnya ada seikat daun jati setengah kering, biasanya daun jati itu dijual pada tukang sego gudhang atau tempe seperti simbah saya. Mbokde itu mengamati saya dan bertanya…

Tindak pundhi, Cah Ayu?”

[Mau kemana, Cah Ayu?]

Saya berhenti mengayuh dan turun dari sepeda. Duh, barusan mbokde ini bertanya dalam bahasa jawa halus, lha saya cuma bisa basa ngoko. Lidah saya kelu, bingung mau menjawab apa..

“Mbokde, tahu rumahnya Mbah Sonto? Nama dukuh-nya Ngoro-oro…”

“Mbah Sonto? Ngoro-oro? Desa-ne apa?”

“Mmmm… Goprayan? Jogoprayan?”

Woalaaah, Nduukk.. kowe salah jalan! Gek jauh banget itu… Wis gini aja, kowe terus ikut dhalan ini, nanti ada prapatan belok ngalor, lurus terus nganti ketemu kali, gek menggok ngulon. Nah itu wis desa Goprayan…”

[Ya ampun, Nduukk, kamu salah jalan! Mana jauh banget itu.. Sudah gini aja, kamu terus ikut jalan ini, nanti ada perempatan belok ke Selatan, lurus terus sampai ketemu sungai, baru belok ke Barat. Nah itu sudah desa Goprayan…]

Untung sebagai cah jawa, kemampuan pertama yang diajarkan orangtua saya adalah membaca arah angin. Berapa banyak coba orang di dunia ini yang bisa tahu timur-tenggara-selatan-baratdaya-barat-baratlaut-utara-timurlaut secara otomatis?

“Jauh, mbokde?”

“Ya jauuh.. bisa sejam kamu ngepit

[naik sepeda]

Niki daerah pundi, toh?”

[Ini daerah mana?]

“Watugajah”

Saya yang berusia 9 tahun pun tahu Watugajah itu sudah masuk Kabupaten Gunung Kidul, jauh banget dari perbatasan Kab. Klaten.

Mau nangis, tapi nangis ga bikin masalah selesai dan saya tiba-tiba ada ada di rumah simbah saya.

Mau lanjut ngayuh sepeda kok ya cape banget…

Mau balik lagi, kok ya kayanya sama jauhnya..

“Ini, aku punya air. Diminum dulu…” mbokde pembawa daun jati itu mengulurkan botol bekas air mineral kusam berisi air teh.

Maturnuwun, mbokde.. di sekitar sini ada warung?”

“Ada, ning yo adoh.. sak durunge kali yang nanti mbok lewati itu ada warung”

[Ada, tapi ya jauh.. sebelum sungai yang nanti kamu lewati itu ada warung]

Saya membulatkan tekat untuk kembali terus mengayuh sepeda, mengikuti jalur yang ditunjukkan mbokde tadi. Kali ini saya benar-benar memperhatikan sisi kiri jalan, jangan sampai kebablasan lagi. Ketika bertemu warung dan mampir membeli es temulawak, saya kembali memastikan saya ada di jalur yang benar menuju desa Jogoprayan.

Dan benar, sekitar satu jam kemudian saya sampai di rumah Mbah Sonto. Beberapa sepupu papa saya yang sedang among tamu kaget mendapati saya naik sepeda, sekujur badan basah kuyup karena keringat.

“Lha iki nak Satiti, tho? Kapan teko, Nduk? Karo papa mu, ‘ra?”

[Lho ini Satiti, kan? Kapan datang, Nduk? Sama papa mu, nggak?]

Saya turun dari sepeda, diam lalu nangis sambil berkata…

“Aku bar keblasuk tekan Watugajaaaaahhh…. hwaaaa”

[Saya habis tersesat sampai di Watugajah]

Share: