Dari tahun 2005, hampir setahun sekali saya melintasi kota Cirebon. Ya, melewati doang saat roadtrip mudik bersama keluarga. Saya belum pernah ngubek-ngubek ada apa di kota udang ini. Sampai di suatu sore saya iseng ngajakin GinukDua untuk jalan-jalan berdua lagi. Setelah Solo (lagi)  kami coret dengan pertimbangan budget, saya mengusulkan Cirebon. As both of us are batik-lovers, saya yakin GinukDua akan setuju. And she did agree, so off we go to Cirebon.

Kami berangkat Jumat malam dari Jakarta, menumpang kereta Tegal Bahari pukul 18.35 dari Stasiun Gambir. Soal naik kereta, hampir di setiap trip #DuoGinuk ada aja dramanya. Trip sebelumnya, saya udah 2 kali bikin Bulan deg-degan ga karuan karena hampir ketinggalan kereta. Di trip ini giliran Bulan yang bikin saya spanneng; saya sepertinya salah ngasih tahu jam keberangkatan kereta ke dia, harusnya 18.35 saya bilang 18.55, Bulan berangkat mepet waktu dari kantor karena memang lagi ribet nyiapin kepindahannya ke KL. Udah mepet waktu, masih pake acara motor harus muter jauh kalau mau masuk Gambir. Untungnya, masih keburu tuh naik keretanya, hihi…

Penarik Becak Pemaksa dan Satpam Hotel Super Ramah

Lewat jam 10 malam kami tiba di Stasiun Cirebon. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung ‘diserbu’ serombongan penarik becak yang menawarkan jasanya. Hal yang lumrah di stasiun kereta api di seluruh Indonesia, kami meyadari itu. Dengan senyum kami menolak tawaran jasa mereka. Ada 1 Pak Becak yang persistent menunggu kami foto-foto di depan bangunan stasiun, berkali-kali kami bilang “nggak” tetap saja beliau menunggu. Hingga akhirnya kami berjalan keluar stasiun tanpa menggubrisnya lagi, ia berbalik masuk lagi ke stasiun dengan sedikit ngomel-ngomel.

Lho? Kan kami udah bilang “nggak” sedari awal?




Tidak sampai 5 menit kami berjalan, sampailah kami di hotel Amaris. Satpam hotel yang berjaga di pos satpam di gerbang masuk menyambut kami dengan ucapan “Selamat Malam, Ibu…” dengan kedua telapak tangannya menangkup di depan dada. Nada suaranya sungguh terdengar ramah dan tulus. Untuk sesaat saya kembali yakin, ketidakramahan Pak Becak di stasiun tadi hanyalah 1 banding seribu kejadian.

Kelezatan Kuliner dan Komentar Iseng

Kami berdua sepakat; kami suka nasi jamblang khas Cirebon. Ada pengalaman menarik ketika menikmati hidangan ini; pengalaman tidak menyenangkan digodain om-om di Nasi Jamblang Bu Neng – Jl Kartini, juga percakapan dengan orang asing yang menghangatkan hati di Nasi Jamblang Bu Nur – Gg Cangring II. 

Bahagia Bertemu Warung Nasi Jamblang Bu Nur

Bahagia Bertemu Warung Nasi Jamblang Bu Nur

Kesimpulan saya; dalam petualangan kuliner mencari nasi jamblang kedudukannya seimbang, antara orang baik yang mau bantuin dan om-om mesum kurang kerjaan. 😀

The Dying Palaces and The Tricky Palace-Guards

Saya termasuk ke dalam golongan orang yang suka mengunjungi keraton atau istana, meski belum banyak keraton yang sudah saya kunjungi; Jogja, Solo, Istana Kuning di Kumai – Kalimantan Selatan, Pagaruyung – Sumatra Barat, Istana Maimun – Medan, dan Cirebon yang terakhir. Dari keenam keraton/istana yang pernah saya kunjungi itu, saya terpaksa bilang kalau keadaan keraton-keraton di Cirebon lah yang paling memprihatinkan.

Keraton Kanoman - Cirebon

Keraton Kanoman – Cirebon

Keraton Kanoman: bangunan cantik dengan dominan warna putih dan hiasan keramik-keramik Tiongkok di dindingnya itu dibiarkan tidak terawat. Halaman keratonnya dibiarkan diselimuti sampah dari pasar yang ada di depannya. Sisa-sisa bambu tergantung bersliweran di sana-sini, nampaknya bekas semacam pasar malam. Saya melihat ada 2 buah mobil terparkir di sebuah bangunan semacam garasi di depan bangunan yang saya yakini sebuah rumah induk. Hmmm.. jadi ada yang sehari-hari tinggal di tempat ini. Saya ga habis pikir, bagaimana mungkin ada yang betah tinggal di rumah dengan halaman penuh sampah berserakan?

Halaman Keraton Kanoman - Cirebon

Halaman Keraton Kanoman – Cirebon

Keraton Kasepuhan: dari pintu masuk, keadaannya jauh lebih baik dari Keraton Kasepuhan. Paling tidak jauh lebih bersih lah. Untuk masuk ke Keraton Kasepuhan dikenakan tiket IDR 20.000 (dewasa). Harga yang lumayan mahal untuk ukuran tiket masuk keraton, tapi tak apalah, saya sih rela membayar jika dananya untuk kelestarian keraton itu sendiri. Harga tersebut belum termasuk guide keraton ya… Memasuki bangunan keraton, akan ada 2 bangunan yang berfungsi sebagai museum; museum kereta dan museum senjata. Di depan kedua bangunan tersebut ada 3 hingga 4 anak muda yang duduk-duduk di sekitar pintu masuknya. Di dekat mereka ada sebuah kardus bekas bertuliskan “sukarela”. Ya, jika ingin masuk ke museum-museum tersebut kita diharapkan memasukkan uang seikhlasnya di kardus itu. Untuk apa? Entahlah. Siapa anak-anak muda itu? Ga tau. Kok dibiarkan saja sama pihak keraton? Ummm…

Halaman Depan Keraton Kasepuhan - Cirebon

Halaman Depan Keraton Kasepuhan – Cirebon

Bangunan Induk Keraton Kasepuhan - Cirebon

Bangunan Induk Keraton Kasepuhan – Cirebon

Dua keraton lain di Cirebon, Keprabon dan Kacirebonan ga sempat kami datangi karena kami udah keburu il-feel dengan keadaaan Kanoman dan Kasepuhan. Too bad.

Tempat Nongkrong Asik dengan Harga Terjangkau

Gagal dengan petualangan keraton, bukan berarti Cirebon tak ada tempat asik untuk didatangi. Kalau kamu suka mencoba tempat nongkrong di kota yang kamu kunjungi, ada 3 tempat yang kami coba di Cirebon dan kami suka:

  • SALT Resto: letaknya sedikit di luar kota Cirebon, ke arah Kab. Kuningan. Restoran ini terkenal dengan kepiting saus padang-nya yang enak banget. Juga pemandangan sore ke arah kota Cirebon yang kece.
  • Station Cafe & Lounge: saya suka banget kafe ini, makanan dan minuman dengan harga yang sangat reasonable, pelayan yang ramah, dan tempatnya nyaman. Baca review GinukDua tentang kafe ini di sini.
  • Kokuo Reflexology: tempat reflexologi ini sama dengan Kokuo-Kokuo lain di Jakarta. Yang membedakan cuma 1: tarifnya jauh lebih murah di Cirebon (ya iyalaaah). Pas banget dicoba kalau pegel-pegel pas traveling di Cirebon.

 

Good Bye, Cirebon!

Good Bye, Cirebon!

Karena ketika jalan-jalan kita ga akan hanya menemukan keseruan. Jadi benci dan cinta pada satu tempat itu biasa.  Seperti halnya ketidakramahanmu tidak akan menyakiti saya, Cirebon, jangan sakit hati dengan tulisan ini yaa.. 🙂

 

 

Share: