Kembar?

Cerita #1

Setelah mengalami malam dan pagi yang kurang menyenangkan, kami membutuhkan asupan energi untuk mengembalikan semangat. Sedari pagi kami sudah sepakat untuk makan siang di Nasi Jamblang Ibu Nur. Oleh dua orang ibu yang sedang duduk sebuah warung rokok, kami ditunjukkan angkot dengan kode D5 untuk menuju Gg Cangkring II.

“Tapi ga lewat depannya persis, Neng” jawab Pak Sopir ketika saya bertanya memastikan kami tidak salah naik angkot.

“Ga pa-pa, Pak.. Nanti dikasih tahu saja kami harus turun di mana..”

Beberapa ratus meter setelah angkot berjalan, Pak Sopir menawarkan jasa untuk mengantarkan kami sampai ke warung tujuan kami, dengan tambahan ongkos 10ribu dari tarif normal. Tentu saja kami iyakan dengan senang hati. Dengan 10ribu rupiah,  mau sambung ganti naik angkot juga cuma sisa sedikit, mau naik becak belum tentu tukang becak mau dibayar segitu, batin saya.




Dan ketika mulut gang yang kami tuju sudah terlihat, Pak Sopir memaksa untuk tetap membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang, padahal kami tak keberatan harus sedikit berjalan kaki. Sungguh 10 ribu rupiah yang sangat ikhlas kami bayarkan.

Jam makan siang di warung paling hits se Cirebon, kami duduk di bangku panjang. Berhadap-hadapan dengan sebuah keluarga yang baru saja menyelesaikan santap siangnya. Seorang ibu berjilbab berusia setengah baya duduk di depan saya, sambil tersenyum ia bertanya,

“Kembar ya?”

Saya dan Bulan otomatis tergelak “Enggak, Bu…”

“Saudaraan?” Ia masih penasaran

“Hihihi, enggak juga… Temenan aja. Tapi memang banyak yang bilang kami mirip…” Bulan menjelaskan

Saudaraan?

Saudaraan?

Lalu obrolan ringan seputar jalan-jalan di Cirebon pun mengalir. Tak lama keluarga ini berpamitan, dan datang tiga orang menggantikan tempat duduk mereka. Kami tersenyum menyapa. Salah satu dari ketiga orang tersebut membalas senyum kami dan bertanya “dari Jakarta?”

“Iya, Bu..”

Perempuan berwajah oriental tersebut lalu bercerita, ia adalah putri asli Cirebon yang sudah pergi merantau ke Jakarta sejak tahun 1974. Kembali ke Cirebon untuk bernostalgia, menikmati kuliner masa kecil yang sudah lama tidak dikecap. Ia lalu menyarankan beberapa tempat makan yang enak untuk dicoba, dan toko roti mana yang menjual oleh-oleh lezat.

Ah, saya percaya.. siang itu Tuhan mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk menghangatkan hati kami.

***

Cerita #2

Menghabiskan lebih dari 4 jam berkeliling Museum Angkut, menyisakan sensasi aduhai di betis saya. Belum lagi cenat-cenut di dengkul kanan sisa jatuh beberapa hari sebelumnya. Saya terduduk di pinggir trotoar Jalan Sultan Agung, Kota Batu. Tante saya sudah wanti-wanti berpesan “jangan pulang terlalu sore, angkot di sana tak seperti di Jakarta”.

Pukul 16.20, saya melirik jam tangan. Jalanan lengang, hanya beberapa kali mobil pribadi melenggang. Tak sebuahpun angkutan umum tampak melintas. Jujur, saya merasa gugup. Duh, bagaimana kalau sudah tak ada angkot lagi? Otak mulai memikirkan alternatif cara kembali ke Malang.

Naik ojek! kata sel otak di sisi kanan. Tapi ga ada ojek yang kelihatan mangkal.

Hitchiking mobil yang keluar dari Museum Angkut! tawar otak di sisi kiri. Yakin ada yang mau? Saya skeptis.

Nelpon ke tante dan minta tolong ke ade sepupu untuk jemput di Batu! Ih, katanya tukang jalan, kok ngerepotin. Gengsi saya keberatan.

Ok, tunggu sampai pukul 17.00, kalau masih belum dapat angkot juga, coba semua alternatif. Si realistis memutuskan.

16.35, saya mulai ngurek-ngurek tanah di dekat kaki dengan sepotong ranting. Terlihat menyedihkan, memang. Perempuan yang setiap hari dimanja oleh Kopaja 19 dan S602, kini harus menyerah pada ketidakadaan angkutan umum di jam pulang kantor. Tapi ini kan bukan ibukota.

Sebuah minibus mirip metromini muncul dari belokan pertigaan, berhias stiker Jombang – Malang di kaca depannya. Saya tak berani menghentikan. Waktu berangkat saya ga naik mobil rute itu… Siapa tahu itu mobil carteran… tapi siapa tahu ini jalan saya untuk pulang?

Minibus itu berhenti di depan saya duduk. Benar-benar berhenti, tidak hanya memelankan lajunya. Kepala si kernet muncul dari pintu belakang.

“Malang?” tanya saya, masih sambil duduk di trotoar dan memegang ranting kering tak berguna itu.

“Iya”

Langsung saya melompat masuk lewat pintu depan dan mengambil tempat duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda.

“Dek, bis ini Malang-nya di terminal apa ya?

“Landung Sari, Mbak…”

Otak saya mengkalkulasi ongkos yang harus saya bayar. Tadi pagi saya naik angkot dari Landung Sari ke Terminal Batu IDR 3500, sambung dari Terminal Batu ke Museum Angkut IDR 2500, total IDR 6000. Saya mencari uang 10.000an dari kantong tas, hmmm.. ga ada. Tapi okelah,7000 pasti cukup.

Saya sodorkan lembaran 5000 dan 2000-an ketika kernet menagih ongkos.

“Tadi dari Batu, ‘kan?” tanya si kernet

“Iya…” waduh kurang nih saya ngasih uangnya, batin saya.

“Kok banyak sekali ngasih ongkosnya….”

“Lha memangnya berapa ongkosnya, Mas?”

“Empat ribu saja” jawabnya sambil mengembalikan 2.000-an saya dan selembar 1.000 rupiah. Juga tiket resmi dari perusahaan angkutannya.

Kalau di Jakarta, kelebihannya di balikin ga ya?

Kalau di Jakarta, kelebihannya di balikin ga ya?

Rasa hangat mengalir di hati ini, ternyata masih ada orang baik dan tulus. Padahal -membaca dari gerak-gerik saya yang jelas terlihat bukan orang asli sana- ia bisa saja meminta ongkos lebih. Dan saya yang sudah setengah putus asa menanti angkutan umum, akan rela membayar katakanlah 10x lipat dari ongkos resmi demi sampai ke rumah.

Kernet Bus; malaikat berkaos garis-garis?

Kernet Bus; malaikat berkaos garis-garis?

Iya, Tuhan bersama orang-orang yang berjalan. DikirimkanNya malaikat-malaikat pelindung dalam bentuk orang asing.

Share: