Aneka Oleh-oleh Khas Solo; Bisa Dikemas Lebih Baik Lagi

Salam Hormat, Pak Arief Yahya…

Sebelum saya panjang lebar berbagi tulisan kepada Bapak, ijinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Parahita Satiti, salah satu dari sekian banyak orang yang mengaku sebagai travel-blogger di Indonesia. Profesi yang Bapak juluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam memajukan pariwisata Indonesia.

Pak Arief, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Travel Blogger Indonesia, sepakat untuk menutup tahun 2014 dengan bersama-sama menulis surat kepada Bapak, tentang apa yang kami rasakan selama menjadi salah satu pelaku industri pariwisata di Indonesia. Tentang susah, senang, apa yang kami rasa bagus, apa yang kami rasa perlu kita pelajari sehingga jadi lebih bagus lagi. Jangan karena merasa Indonesia punya segala potensi wisata, lalu kita menjadi pongah.

Saya ingin mengawali surat ini dengan sebuah cerita kecil. Suatu hari seorang sahabat saya baru pulang dari jalan-jalan ke Bangkok. Saya diberi buah tangan, aneka makanan ringan khas Thailand. Ketika ibu saya membuka kantong oleh-oleh tersebut, reaksinya membuat saya tergelak sekaligus miris. Ibu saya sambil setengah tak percaya berkata;

“Yaaah, ini sih rangginang! Cuma dicipratin madu di atasnya, terus dikasih taburan wijen. Dibungkus pakai plastik bagus berlapis-lapis, dijual mahal. Mama juga bisa bikin yang beginian…”




Mama juga bisa bikin yang beginian.

Ah, mungkin mama saya terlalu percaya diri ya, Pak? Ide hingga bisa menjual rangginang berlumur madu dan bertabur wijen hingga laku terjual pada wisatawan, termasuk wisatawan dari Indonesia yang saya yakin pasti sudah pernah makan rangginang di negaranya, itu ‘kan sangat brilian, kreatif. Mengemas sesuatu yang sederhana, menjadi menarik dan laku di pasarkan. Mungkin kita perlu belajar mengenai hal ini pada Thailand.

Kita juga perlu belajar banyak pada Malaysia, Pak. Negara yang pernah Bapak bilang tidak ada apa-apanya dibanding negara kita. Jika maksud Bapak kalimat tersebut mengacu pada kekayaan potensi wisata, keberagaman adat dan budaya, dan luas wilayah, saya setuju dengan Bapak. Namun, jika tentang bagaimana Malaysia begitu kreatif mempromosikan potensi wisatanya, mari sama-sama legowo mengakui, kita begitu jauh tertinggal. Malaysia begitu gencar mempromosikan tagline iklan pariwisatanya “Malaysia Truly Asia”. Di saluran TV berbayar, iklan tersebut berkejar-kejaran slot-nya dengan “There’s nothing like Australia” milik Negara Kangguru. Sementara “Wonderful Indonesia” ataupun “Pesona Indonesia” yang baru saja diuncurkan oleh kementerian yang Bapak pimpin?

Iya, itu barusan pertanyaan restoris, Pak, hehe…

Sampah di Tepi Danau Maninjau

Sampah di Tepi Danau Maninjau

Kita belum membicarakan mengenai infrastruktur; jalan menuju tempat wisata anda andalan kita, Pak. Rusak, berbatu, becek kala hujan, atau malah tidak beraspal, menjadi pilihan pasti. Belum lagi berbicara ketersediaan pilihan penginapan, kebersihan tempat wisata, ketersediaan toilet umum, hingga ketepatan jadwal angkutan umum menuju tempat wisata -yang biasanya semakin bagus tempat wisata itu, akan semakin terpencil, dan semakin terpencil, angkutan umum akan semakin sulit ditemui, atau bahkan sering tidak ada. Untuk anak yang lahir dan besar di kota kecil seperti saya, bukan masalah besar menyesuaikan diri harus menunggu minibus ngetem hingga terisi penuh sesak dulu baru mau berangkat. Namun bagi wisatawan mancanegara? Sebagian mungkin akan menganggap itu petualangan, namun saya yakin, sebagian besar akan lebih memilih mengunjungi negara lain yang sistem transportasi umumnya lebih pasti.

Jalan Menuju Pantai Pok Tunggal, Agustus 2013

Jalan Menuju Pantai Pok Tunggal, Agustus 2013

Jadi saya juga yang harus mengurusi sistem transportasi di Indonesia ini? Mungkin Bapak akan balik bertanya dengan tersinggung kepada saya.

Tidak harus Bapak, namun Bapak bisa bersinergi dengan kementrian lain, toh? Demi kemajuan pariwisata Indonesia, Pak.

Pak Arief, beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi 2 kampung suku Baduy, Gajebo di Baduy Luar dan Cibeo di Baduy Dalam. Pengalaman harus berjalan kaki pergi pulang lebih dari 8 jam, tinggal di rumah kayu sederhana tanpa ada listrik, mandi di sungai, makan malam dan bersenda gurau dengan dengan warga asli Baduy, menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya. Hingga saya menyaksikan satu hal, dan saya sadar ini masalah klasik dampak pariwisata di Indonesia.

Di Cibeo, salah satu kampung suku Baduy Dalam, kita bisa menemukan orang berjualan air mineral dalam kemasan dan makanan ringan lainnya. Ada juga seorang penjual kaos bersablon macam-macam tulisan “I Love Baduy” yang gigih menawarkan kaosnya pada pengunjung yang baru sampai jam 11 malam, ditengah hujan deras. Dan bukan, bukan suku Baduy Dalam yang berjualan, tetapi warga dari luar wilayah Baduy. Lho, apa salahnya berjualan? Tidak ada yang salah memang, hanya saja saya jadi merasa trenyuh dalam hati ketika salah satu pemuda di sana bercerita; dulu sempat beberapa warga setempat yang berjualan, namun lalu kalah bersaing ketika muncul pedagang dari luar dengan modal lebih besar dan kepandaian berdagang yang lebih mumpuni. Akhirnya beberapa warga Cibeo hanya bisa merasakan manfaat dari wisata budaya di kampungnya dengan menjadi porter dan penjual cincin dan gelang dari kulit rotan, yang harganya seribu dan limaribu rupiah.

Apa yang dialami oleh warga Baduy, di skala yang lebih besar hampir dialami oleh penduduk Indonesia yang bertempat tinggal di sekitar tempat wisata ya, Pak? Entah berapa banyak orang yang terpaksa menyaksikan tebing-tebing di sekitar pantai di desanya berubah menjadi hotel dan cafe eksklusif, pulau-pulau kecil menjadi resort mahal yang dikelola orang asing, dan pantai tempat nelayan setempat mendaratkan hasil tangkapan ikan akan diuruk dengan memakai istilah yang rumit bagi telinga mereka, reklamasi?

Pak Arief, pekerjaan rumah untuk memajukan pariwisata Indonesia masih sangat panjang. Dan saya, sebagai travel-blogger, tidak punya kuasa selain hanya untuk terus dengan sekuat tenaga saya mengabarkan apa yang sudah saya lihat di sebagian kecil dari negara kita. Jika Bapak berkenan membaca surat ini, kiranya bisa menjadi masukan bagi Kementerian Pariwisata. Terakhir, jika Bapak belum capek membaca curhatan saya ini, surat kawan-kawan saya lainnya dari Travel Blogger Indonesia ini seru-seru deh, Pak… di klik tautannya ya, Pak…

Salam Hormat,

Parahita Satiti

Share: