Hotel AXANA

“Kita selfie yuk, terus kita pamerin di grup” ajak Mickey

Kami sedang menunggu teman kami yang sudah check-in duluan di hotel AX. Sudah lewat pukul 11 malam, meskipun saat itu sedang musim liburan Lebaran, tapi lobi hotel terbilang cukup sepi. Ah, mungkin para penghuni hotel sudah cukup lelah berkeliling silaturahmi dari satu rumah ke rumah lain sepanjang hari. Kami duduk di sofa yang cukup jauh dari area resepsionis, dekat kafe yang sedang memainkan musik oldies.

“Jangan di sini deh, gelap…”

Sambil menyeret si ransel biru muda saya mengikuti Mickey pindah ke sekumpulan sofa yang ada di sebrang lobi, dekat kaca depan, cahaya dari teras dan area resepsionis menyinari sofa-sofa coklat tua itu.

Baru saja saya hendak berpose nyengir di belakang Mickey, ia kembali berujar “Eh, berdiri di sana aja, yuk…” menunjuk ke meja bulat besar persis di depan meja resepsionis.




Hih. Okedeh. Mau selfie aja repotnya setengah mati, rutuk saya dalam hati. Pas kami berpose selfie yang kedua, Emil, teman kami yang sudah check in terlebih dahulu sampai di lobi.

“Titi ga pa-pa tidur sendirian?” tanya Mickey

“Tiap malam gw juga tidur sendirian kaliiii…” jawab saya dengan tenang, meskipun beda kamar tapi kan masih satu lantai, batin saya.

Karena malam sudah larut dan besok siang ada acara pernikahan yang harus kami hadiri, saya memutuskan untuk tidur agak cepat malam ini. Memastikan pintu terkunci, mematikan lampu, menaikkan temperatur AC, meraih handphone, lalu melompat ke tempat tidur. Sekilas ketika menerima key-card hotel dari Emil, saya membaca hotel AX ini satu grup dengan hotel AM, hotel kuno di kota Padang yang roboh ketika gempa tahun 2009.

Besok pagi seru juga kalau jalan-jalan dulu lihat hotel AM kali ya… googling dulu deh!

Baru saya mengetik dua kata di google “hotel AX….” langsung keluar prediction text di kolom search google “hotel AX horor….”

Oh, crap! Curiosity does kill the cat.

Saya ini manusia paling cemen kalau harus berurusan dengan hantu. Cepat-cepat saya matikan handphone, berdoa dan mencoba memejamkan mata. Sekian lama saya belum bisa tidur namun tak berani juga membuka mata, hingga akhirnya entah jam berapa saya jatuh tertidur. Rasanya sih saya belum lama ketiduran, ketika saya terbangun oleh suara berisik di koridor depan kamar. Suara samar anak-anak berlarian dan koper-koper ditarik terburu-buru.

Mungkin sudah pagi, ada tamu yang harus check out dini hari mengejar first flight. Atau mungkin ada tamu yang baru check-in. Saya melanjutkan tidur.

 ****

Mickey menghampiri saya di meja tempat sarapan dengan muka kusut. Emil mengikuti di belakangnya.

“Gw ga bisa tidur semalaman… Baru bisa tidur setelah adzan Subuh! Banyak banget motor dengan suara brisik lewat di jalanan depan kamar gw…”

Really? Gw ga denger suara knalpot apapun..”

“Kamar lo di pojokan yang ga ngadep ke jalanan ‘kan?”

“I…iya”

Di pojokan? Satu kata itu mengingatkan saya akan kejadian suara anak kecil lari-larian dan koper yang ditarik terburu-buru semalam. Kalau kamar saya di pojokan, kenapa semalam suara-suara itu seperti datang dari lorong yang ada di sisi kiri kamar menuju sisi kanan, yang adalah pojokan hotel ya?

“Mick… i googled about this hotel last night. Dan prediction text yang keluar begitu gw masukin nama hotel ini di google adalah “hotel AX horor…”. Do you see ‘something’ here?

“Nope

“Ini bukan hotel AM yang dibangun ulang ‘kan?”

“Bukan, hotel AM kayanya yang di seberang deh.. yang lagi di renovasi tuh…”

Sarapan kami lalu diisi dengan percakapan mengenai hotel AM yang roboh ketika gempa besar melanda Padang, dengan begitu banyak korban terjebak di dalamnya. Tentang cerita-cerita horor yang beredar di dunia maya mengenai hotel itu. Juga dengan pisuhan Mickey mengenai berisiknya knalpot motor-motor semalam.

Selesai sarapan, kami kembali ke kamar. Di dekat lift, seorang petugas cleaning service sedang mengelap kaca jendela.

“Mas, yang di seberang itu hotel AM ya?”

“Bukan, Pak.. Ya ini hotel AM, sudah berganti nama 2 kali setelah renovasi. Terakhir memakai nama hotel AX”

Kami bertiga terdiam melangkah ke dalam lift yang terbuka.

“If we can find another hotel, we check out this afternoon” kata Emil.

Di depan pintu kamar, saya menengok ke kiri lorong, tempat suara gedebukan semalam berasal. Lalu ke sisi kanan, kurang dari 1.5 meter dari tempat saya berdiri ada jendela kaca besar. Saya sibak tirai tipis yang menutupi jendela itu. Nampak bangunan sebuah bank berlambang kapal layar di bagian samping bawah hotel. Hmmm… nampaknya ga mungkin kalau semalam ada orang berlarian ke arah sini. Menuju apa? Di depan kamar saya juga tidak ada pintu kamar lain. Hanya ada ada dinding berlapis wallpaper, pintu kamar di depan kamar saya menghadap lorong yang satunya lagi.

Sialnya, kami tidak bisa menemukan satu hotel pun yang masih punya 2 kamar kosong untuk malam itu.

 ****

Malam itu saya dan Mickey baru sampai lagi di hotel mendekati pukul 12 malam. Terlalu lelah setelah menghadiri upacara pernikahan adat Minang, saya sudah tidak terlalu memikirkan lagi kejadian aneh di malam pertama kami menginap di sini. Mandi, ganti, baju, lalu pergi tidur, itu saja yang saya inginkan. Namun malam ini saya tidak berani mematikan lampu, handphone juga tidak saya matikan. Saya tidur di sisi kiri kasur, miring ke kanan memandang ke arah jendela besar yang tertutup tirai.

Pukul 02.30, saya terbangun. Ada suara seperti garukan kuku, asalnya dari dekat nakas di sisi kanan tempat tidur. Saya diam tercekat, lalu meraih handphone dari samping bantal.

Okay, saya akan memberanikan diri melongok ke tempat suara garukan tadi berasal. Kalau ada apa-apa, saya akan menjerit keras-keras dan menekan ‘call’ ke nomor Mickey yang sudah siap di layar.

Tidak ada apa-apa di dekat nakas itu.

Saya kembali tidur, kali dengan selimut menutupi seluruh badan, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan bibir terus menderaskan segala macam doa yang saya bisa. Ah, mungkin hanya di saat ketakutan seperti ini, saya bisa berubah jadi perawan yang paling relijius.

Masih dalam posisi di bawah selimut, mata hampir terpejam kembali ketika saya mendengar suara lagi. Kali ini suaranya jauh lebih keras, suara wallpaper yang ditarik dari atas ke bawah hingga sobek. Asalnya sepertinya dari kamar sebelah. Sekali, dua kali, tiga kali.

Tak sedikitpun saya berani membuka selimut. Pun tangan ini tak kuasa membuka kunci handphone. Apalagi mencari nama Mickey dan menekan tombol call.

“Tuhan, aku ingin tidur. Mereka yang mengganggu tidur ku, apapun itu, juga makhluk-Mu. Aku yakin kuasa-Mu lebih besar dari kekuatan mereka. Aku tidak ingin mengusik mereka, maka aku mohon jangan biarkan mereka menggangguku….”

Tidak berapa lama adzan Subuh berkumandang, dan saya kembali tidur dengan tenang.

 ****

“Kita pindah ya dari hotel ini? Gw ga mau tiga malam lagi di sini dan balik ke Jakarta jadi zombie yang kurang tidur….” rengek saya ketika kami duduk di meja sarapan pagi.

“Makanya ya, jangan suka sok penasaran kalau udah ngerasa ada yang aneh dengan suatu tempat! Lo ga ngerasa dari malam pas kita sampai, gw ngajak selfie tapi pindah-pindahan mulu? Itu gw ngasih kode ke lo “ada yang mau ngikut kita foto”! Di lift lo gw tanya berani ga tidur sendirian, menurut lo kenapa? Itu lift penuh sama segala macam penampakan manusia yang anggota badannya ga utuh. Trus gw ga bisa tidur gara-gara knalpot rombeng? Yeah rite! Kalo bener ada suara knalpot rombeng di depan hotel, udah gw samperin resepsionis, gw suruh telpon polisi malam itu juga!”

Share: