E-paspor Saya, Logo Persegi panjang dengan Lingkaran Kecil di Pojok Kanan Bawah Itu Micro-chip-nya

Update [09 Feb 2015]: Per tanggal 01 Februari 2015 Ditjen Imigrasi TIDAK melayani pembuatan e-paspor melalui jalur online, hanya lewat pendaftaran langsung di beberapa Kantor Imigrasi tertentu.

Mei 2015 nanti rencananya saya dan pasangan saya di #DuoGinuk, Bulan (bukan, kami bukan duo musisi semacam Duo Maia) mau jalan-jalan ke Penang. Tiket sudah dibeli, tapi saya belum punya paspor. Kalau tiket sudah dibeli begitu, ya mau ga mau kan musti ngurus paspor kalau mau tetap jadi pergi. Awalnya saya cuma pengen bikin paspor biasa 24 halaman, toh dari beberapa orang yang sering liburan ke luar negeri pun pas saya tanya apa 48 halaman itu akan habis selama 5 tahun? Rata-rata jawabannya ga habis. Jadi saya pikir sayang aja ngeluarin uang untuk buat paspor 48 halaman.

E-paspor Saya, Logo Persegi panjang dengan Lingkaran Kecil di Pojok Kanan Bawah Itu Micro-chip-nya

E-paspor Saya, Logo Persegi Panjang dengan Lingkaran Kecil di Pojok Kanan Bawah Itu Micro-chip-nya

Lalu muncullah heboh berita bebas visa untuk masuk ke Jepang bagi pemegang e-paspor Indonesia. Apa lagi itu e-paspor? Browsing sana-sini, dapatlah saya kesimpulan e-paspor adalah paspor yang sudah dilengkapi dengan chip mikrotik di bagian cover depan, sehingga paspor bisa tinggal ditempelkan di auto-gate saat melewati imigrasi suatu negara, tidak lagi perlu mengantri untuk di stempel di loket imigrasi. Sounds cool, nah? Tapping something and the gate opens for you, it gives you a VIP-ish feeling, doesnt it?




Beneran kaya gitu? Ya belum tahu, wong saya belum pernah nyoba. *failed*

Tahun 2011, pernah muncul berita dari dari Menteri Hukum dan HAM kala itu, Patrialis Akbar, bahwa tahun 2015 akan diwajibkan penggunaan e-paspor. Lha ini 2015 tinggal menghitung hari, waktu saya bikin e-paspor, pembuatan paspor biasa masih dilayani tuh.. You can draw a conclusion by yourself, then.

Mengapa pada akhirnya saya putuskan untuk bikin e-paspor daripada paspor biasa? Toh saya juga ga punya rencana pergi ke Jepang demi mengejar bebas visa, dan paspor biasa pun juga masih bisa dipakai, dan negara-negara bebas visa bagi pemegang paspor hijau WNI juga belum habis dikunjungi? Saya cuma punya 1 alasan: saya males mengulang suatu kerjaan; kalau benar sebelum 2019 (tahun paspor saya akan kadaluarsa) e-paspor wajib diberlakukan, saya harus ngantri lagi bikin e-paspor kan? Males banget. Udah ngantri aja sekali, sekarang.

Nah, untuk membuat e-paspor online begini langkah-langkahnya:

1. Persiapkan semua dokumen persyaratan pembuatan paspor. Daftarnya ada di sini. Pastikan semua data antara dokumen satu dengan yang lain adalah sama. Yang paling utama, alamat antara di Kartu Keluarga (KK) dan KTP harus sama persis.

Pengalaman saya: nama kampung di KK dan KTP saya ternyata beda (only God knows why), jadi sebelum membuat pengajuan e-paspor online, saya harus membuat KK baru yang alamatnya sama persis dengan e-KTP.

Ejaan nama saya di e-KTP dan KK berbeda dengan di Akta Kelahiran. Cuma beda 1 huruf. Di Akta kelahiran nama saya tertulis PARAHITA, di KK dan e-KTP tertulis PHARAHITA. Untuk kasus ini, saya sotoy memakai nama sesuai Akta Kelahiran, semata-mata dengan alasan “nama saya yang benar ya yang di Akta Kelahiran” Untungnya ke-sok tahu-an saya benar. Nama yang dipakai di paspor mengikuti Akta Kelahiran.

2. Daftar online e-paspor di sini. Pilih “Pra Permohonan Personal”. Baca setiap pilihan kolom dengan teliti ya, jangan sampai salah klik atau salah isi, terutama bagian nama dan tanggal lahir, 2 bagian ini sama sekali tidak bisa diubah kalau salah isi. Setelah data diisi lengkap, klik “lanjut” sampai selesai. Anda akan menerima email konfirmasi dari spri@imigrasi.go.id dengan lampiran dokumen untuk pembayaran ke Bank BNI. Cetaklah lampiran tersebut.

3. Lakukan pembayaran biaya pembuatan e-paspor di teller Bank BNI dengan membawa lampiran yang sudah kamu print sebelumnya, biaya sebesar IDR 660.000 (sudah termasuk biaya bank IDR 5.000). Simpan baik-baik bukti pembayaran tersebut.

4. Buka kembali email yang dikirim spri@imigrasi.go.id, di body email terdapat link yang harus kamu klik untuk konfirmasi. Klik link tersebut, masukkan Nomor Jurnal Bank yang terdapat di bukti pembayaran bank. Lalu pilih tanggal yang dikehendaki untuk menyerahkan fotokopi dokumen, wawancara dan pengambilan foto.

5. Kembali kamu akan menerima email dari spri@imigrasi.go.id berisi lampiran Tanda Terima Laporan” dan Formulir Surat Perjalanan Republik Indonesia (SPRI) yang harus dicetak dan isi dengan lengkap, menggunakan huruf balok dan tinta hitam.

6. Pada hari yang telah kamu pilih, datanglah ke Kantor Imigrasi pilihan Anda dengan membawa: semua dokumen persyaratan (asli dan fotokopi), formulir Tanda Terima Laporan dan formulir SPRI yang sudah diisi lengkap, bukti pembayaran dari bank, dengan memakai pakaian rapi (atasan berkerah) dan tidak berwarna dasar putih.

Pengalaman saya: Waktu mendaftar saya memilih kantor imigrasi Jakarta Selatan sebagai tempat pembuatan paspor. Ternyata kantor imigrasi Jaksel adalah salah satu kantor imigrasi “favorit” untuk pembuatan e-paspor. Saya sampai di sana pukul 08.35 pagi, dapat nomor antrian 154. Baru dipanggil untuk wawancara dan foto pukul 14.05. Sebaiknya datanglah sebelum pukul 08.00 agar mendapat nomor antrian awal, dan bila perlu “persenjatai” diri ada dengan teman menunggu, misalnya; majalah, novel, pemutar musik, dll.

7. Selesai foto dan wawancara, slip bukti bayar akan distempel untuk pengambilan e-paspor. Paspor biasanya bisa diambil 3 (tiga) hari kerja setelah foto dan wawancara. Untuk pengecekan status e-paspor bisa dilakukan di sini.

8. Setelah e-paspor kamu terima, tidak bisa langsung dibawa pulang. Fotokopi-lah terlebih dahulu halaman yang berisi detail identitas (halaman 2, 3, dan 48) dan serahkan kembali di loket pengambilan paspor.

Nah, gampang kan ngurus e-paspor sendiri? Kalau saya aja bisa ngurus sendiri, pasti kamu juga bisa.. Ga usahlah pakai jasa agen / perantara untuk bikin paspor. Toh pada akhirnya kita juga musti meluangkan waktu untuk diambil foto dan wawancara di Kantor Imigrasi. Dari hasil ngobrol saat menunggu giliran foto, saya dapat info harga pembuatan paspor biasa 48 halaman lewat agen rata-rata sekitar IDR 700.000 (paspor jadi dalam 10 hari kerja), sedangkan untuk e-paspor 48 halaman sekitar IDR 1.100.000. Mau lebih cepat? Ya pasti harus siap keluar biaya lebih besar lagi. Lumayan kan selisihnya? Bisa banget untuk tambah-tambah jajan Es Chendol di Penang nanti, hihi..

Kalau kamu punya pengalaman terkait pembuatan paspor, boleh lho sharing di kolom komentar. Saya penasaran, kalau di kantor imigrasi di luar DKI Jakarta, apakah pelayanan juga bisa secepat dan seefisien di ibukota?

 

 

 

Share: