Kami Harus Melewati Puluhan Kali Seperti Ini

Setelah menempuh perjalanan berangkat dengan waktu yang cukup membanggakan, 3.5 jam dari perkiraan 5 jam, saya cukup optimis bisa menempuh perjalanan pulang dengan baik-baik saja. Malam hari sebelum keberangkatan kami (saya, Simbok Miki, KaLejid, Mba Astrid, dan Kang Naldi) mendiskusikan tentang jalur pulang. Jadi, di Kampung Cibeo ini kami bergabung dengan rombongan teman-teman Mba Astrid dari TRIF Adventure. Mereka rencananya mengambil jalur pulang lewat Jembatan Akar – Cakuem – Naik Elf ke Stasiun Maja – Tanah Abang. Ok, sounds good!

“Dibanding lewat Ciboleger, jalur pulang bagaimana, Kang?” tanya kami ke Kang Naldi

“Tanjakannya lebih sedikit kalo lewat sana. Cuma sekali, selebihnya datar” jawab Kang Naldi.

OK, aman dong! Batin saya.

Keesokan harinya, kami bersiap meninggalkan Kampung Cibeo pukul 08.30. Simbok Miki berpesan, kami harus berusaha jalan di bagian depan dari rombongan, karena ternyata rombongan TRIF Adventure total berjumlah 25 orang, 29 orang dengan kami berempat. Mengingat semalam turun hujan, kalau kami jalan di bagian belakang, otomatis jalur akan jadi lebih licin oleh bekas tapak kaki rombongan yang di depan. Kami memulai perjalanan dari bagian belakang perkampungan, menyebrangi sungai, lalu naik keatas bukit di belakang kampung. Tanjakannya tidak separah Tanjakan Allahu Akbar, tapi cukup panjang untuk memaksa kami beberapa kali berhenti mengambil nafas. Umur memang ga bisa bohong. Peserta lain yang lebih muda tanpa ampun melibas kami.




Kami Harus Melewati Puluhan Kali Seperti Ini, Pics by @mikestragram

Kami Harus Melewati Puluhan Kali Seperti Ini

Sekitar 1 jam berjalan kaki melintasi hutan, saya menyadari satu hal, tidak… jalur pulang ini sama sekali TIDAK lebih mudah dari jalur berangkat. Jauh lebih sulit bahkan. Hampir sepanjang jalur Baduy Dalam hingga Baduy Luar adalah lewat hutan, dengan jalur setapak berbatu yang sepertinya jarang dilewati orang, batu-batu tersebut sudah ditumbuhi lumut, semalam hujan deras, dan ada sekitar 10 orang yang sudah melintas di depan kami. Licin maksimal! Lalu bagaimana dengan tanjakan yang kata Kang Naldi hanya 1 kali? Iya, benar.. tanjakan yang benar-benar tinggi memang hanya 1 kali, namun tanjakan berbatu yang kira-kira tingginya kurang dari 10 meter? Puluhan mungkin jumlah yang harus kami lalui.

Satu-satunya hal yang membuat saya terus melangkah adalah iming-iming akan bertemu dengan Jembatan Akar, salah satu ikon dari wilayah Baduy. Konon jembatan akar ini sudah berusia lebih dari 60 tahun. Awalnya adalah jenbatan bambu yang digunakan oleh warga Baduy Luar untuk pergi ke ladang. Lama kelamaan akar pohon yang ada di kedua sisi sungai melilit jembatan bambu tersebut dari ujung ke ujung, hingga terbentuklah Jembatan Akar.

Lilitan Akar yang Membentuk Jembatan

Lilitan Akar yang Membentuk Jembatan

Dari Kampung Cibeo untuk mencapai Jembatan Akar, treknya susah banget. Untuk turun, kita harus melewati jalan setapak yang lebarnya kurang dari 30cm, dan di sisi kanan ada lereng bukit curam, yang dalamnya kurang lebih 5 meter. Kepleset? Sampai jumpa di rumah sakit pastinya. Ditengah konsentrasi menuruni lereng bukit menuju Jembatan Akar itu, saya melihat rombongan yang di depan saya naik lagi lewat jalur yang berbeda, bukan menyebrangi jembatan.

“Kok naik lagi?” saya berteriak.

“Iya, jalurnya ga nyebrang jembatan”

Yasalaaam, saya salah sangka! Saya pikir kami menuju ke Jembatan Akar karena MEMANG ini jalur pulang, kita akan menyebrangi jembatan, dan melanjutkan perjalanan. Ternyata setelah mempertaruhkan nyawa di pinggir jurang tadi, saya harus kembali naik ke jalur semula untuk melanjutkan perjalanan.

Ti, it is a long and difficult journey. You knew about it, right from the beginning. No complaining, please…

Saya terus mengucapkan kalimat itu pelan-pelan, dan melangkah perlahan ke atas bukit. Di depan saya ada Ahmad, putera Kang Yadi yang kira-kira berumur 6-7 tahun. Ahmad saya ajak ngomong pakai Bahasa Indonesia saja ga pernah jawab, dan sepertinya dia heran saya ngomong sendiri dengan bahasa yang aneh. KaLejid ada beberapa meter di belakang saya, Mba Astrid beberapa kali harus ngesot karena jalanan terlalu licin, dibantu oleh Kang Yadi. Simbok Miki masih foto-foto di jembatan. Dengan fisik yang semakin lemah, kami melanjutkan perjalanan. Kata Kang Yadi, biasanya dari Jembatan Akar sampai ke Cakuem akan membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 1.5 jam lagi. Saya melirik jam, sudah jam 12 lewat sedikit. Tiga setengah jam sudah kami berjalan, dan masih ada 1.5 jam yang harus kami lalui. Rasa penyesalan kenapa kemarin kami memutuskan ikut lewat jalur ini mulai muncul.

“Nanti di jalan aspal biasanya ada ojek” kata Kang Yadi.

Huwaaaa, Ojek! Belum pernah saya sebahagia itu mendengar kata ojek.

Kami terus jalan melewati pinggiran sungai, menyeberangi saluran irigasi, meniti pematang sawah, lalu masuk kampung, keluar kampung lagi, melintasi ladang, lalu sawah lagi, dan…. Haleluyaaaaa!! Akhirnya ketemu jalan aspal dan OJEK!!! Dengan IDR 20.000/ojek, kami mempersingkat waktu tempuh 45 menit lagi jalan kaki dengan 7 menit naik ojek, naik turun jalan aspal sampai ke Cakuem. Karena tidak dibolehkan naik kendaraan bermotor, Kang Yadi dan Ahmad tetap melanjutkan berjalan kaki sampai ke Cakuem, tentunya tas KaLejid yang beliau bawakan sudah kami pindahkan ke ojek. Dan tebak berapa lama Kang yadi dan Ahmad sampai ke Cakuem? Kurang dari 15 menit saja! Luar Biasa!

Tepat pukul 13.00 kami sampai di Cakuem, empat setengah jam berjalan kaki. Kalau tidak disambung ojek mungkin catatan waktu kami akan lebih dari 5 jam. Tepat seperti perkiraan awal ketika mulai perjalanan berangkat dari Kampung Gajebo. Total jalan kaki berangkat dan pulang Ciboleger – Gajebo – Cibeo – Cakuem adalah 8 Jam 45 menit dalam 3 hari.

Pelajaran berharga buat saya: bahkan ketika saya sudah bisa menetapkan suatu rekor jalan kaki, bukan jaminan perjalanan berikutnya akan lebih enteng, lalu saya boleh meremehkan.

Share: