Di Perjalanan Menuju Puncak Gunung Gede

Mulai minggu ini saya membuat satu kategori baru di blog ini: Travel-mates. Sebuah perjalanan tidaklah melulu tentang suatu destinasi, tetapi juga tentang dengan siapa kita menghabiskan perjalanan. Di beberapa travel blog lain, sudah ada yang membuat semacam ulusan profil traveler of the month, nah saya ingin membuat seksi khusus seperti itu, tapi yang ini lebih personal. Bisa saja tulisan saya mengenai orang yang sudah berkali-kali jalan bareng, lalu jadi sahabat, atau bisa juga tentang seseorang yang baru sekali saya temui di jalan, namun terlalu menarik ceritanya untuk saya simpan sendiri di hati.

Untuk minggu pertama, saya memilih satu keluarga kecil yang saya kenal pertama kali di trip Pulau Panggang, Kep. Seribu sekitar 2 ½ tahun yang lalu; Rio Sagita (Ayah), Dini Wiradinata (Bunda), Ziva Athena (Isya), Cairo (Key, atau Kekek).

Di Perjalanan Menuju Puncak Gunung Gede

Di Perjalanan Menuju Puncak Gunung Gede

“Apa yang gue bisa makan, pasti anak-anak gue juga bisa makan” itu kalimat yang diucapkan Mbak Dini ketika kami mengkhawatirkan Cairo akan makan apa di atas kapal yang membawa kami snorkeling di Kepulauan Seribu, sementara bekal kami hanyalah nasi kotak. Seketika saya langsung suka dengan keluarga ini; mereka bukan tipe keluarga yang minta diistimewakan, hanya karena mereka membawa batita dan anak kecil di dalam rombongan. Saya makin kagum ketika melihat Mas Rio, Mbak Dini begitu santai membiarkan Isya yang saat itu baru berusia sekitar 6 tahun, snorkeling di laut. Tentunya dengan pengawasan penuh kedua orangtuanya. Sang adik, Cairo tentu tak mau kalah. Dan hanya orangtua keren yang mengizinkan batita 1.5 tahun snorkeling.

Have Fun in the Sea

Have Fun in the Sea

Setelah trip Pulau Panggang, kesan saya akan ketenangan keluarga ini makin kuat. Ada 2 insiden yang membuat saya berpikir “wow, this family has a very good crisis management!”. Yang pertama masih di trip Pulau Panggang itu. Kapal yang akan membawa kami kembali ke Muara Angke seharusnya meninggalkan Pulau Panggang pukul 12.00 tepat. Namun kelompok kami (yang berjumlah hampir 20an orang) masih terjebak hujan di penangkaran penyu Pulau Pramuka. Hujan tak kunjung berhenti, guide kami pun memaksa kembali ke Pulau Panggang di tengah hujan. Benar saja, begitu menginjakkan kaki kembali di Pulau Panggang, kapal sudah menunggu cukup lama sepertinya. Dengan berlari kami mengambil tas di penginapan dan kembali lagi ke pelabuhan. Menaikkan 20 penumpang dalam cuaca hujan bukanlah perkara mudah, dan entah bagaimana keluarga Mbak Dini ada di urutan paling belakang dari antrian. Isya yang digendong Bunda sudah dioper ke dalam kapal. Kapten kapal sepertinya sudah bad mood dengan keterlambatan kami. Tepat ketika Isya masuk kapal, kapal jalan ngebut meninggalkan Ayah, Bunda, dan Cairo di dermaga. Waduuh!

Cepat-cepat Mimin Picnicholic menghubungi guide dan meminta mengejar kapal kami yang akan berhenti di Pulau Pramuka. Untungnya kapal masih kekejar dan Isya bisa kembali ke pelukan orangtuanya. Pulau Panggang ke Pulau Pramuka itu paling hanya berjarak sekitar 10 menit naik kapal. Namun untuk anak umur 6 tahun, 10 menit berpisah dengan kedua orangtuanya tentulah menjadi pengalaman traumatis. Dan lagi-lagi, tanpa heboh-heboh dramatis, apalagi saling menyalahkan, Mbak Dini dan Mas Rio bisa mengatasinya.

Insiden kedua terjadi saat kami kemping manja di Curug 7 Cilember. Disaat anak-anak kemping yang lain memutuskan leyeh-leyeh saja di warung deket tenda, sambil ngemil indomi goreng dan gosap-gosip ini itu tentang si anu, sebagai keluarga petualang ini memutuskan untuk menjelajahi kawasan curug, dong! Sore menjelang, kami kembali ke tenda dan saya melihat ada bercak darah di baju bagian dekat ketiak Isya.

“Isya, what happen with your armpit?” tanya saya khawatir.

“Ummmm… something bit my armpit”

“Does your mom know about it?”

“Yeaah.. she put some wet tissues to stop the blood…”

Belakangan saya tahu, Isya terkena gigitan lintah ketika trekking di air terjun nomor 5, dan Bundanya lupa bawa tensoplas di kotak P3K, jadi luka gigitan lintah cuma dikompres pakai tisu basah aja. *pentung Bunda yang lupa bawa tensoplas* Andai Isya adalah anak saya, saya pasti udah deramaaah mendapati ia digigit lintah, dan darahnya ngucur ga berhenti!

Aren't This Lovebirds Cute?

Aren’t This Lovebirds Cute?

Tahun ini, Mas Rio dan Mbak Dini merayakan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-10. Tak seperti keluarga muda pada umumnya yang merayakan anniversary dengan candle-light dinner, misalnya, mereka merayakannya dengan muncak ke Gunung Gede. Isya, yang kini sudah berumur 8 tahun, jalan kaki sendiri sampai puncak, dan Kekek, kadang jalan kadang digendong ayahnya. Keren kan?

Jalan-jalan dengan keluarga ini, kita tidak akan mendapati 2 anak yang lari-larian berisik macam anak-anak di foodcourt mall. Tapi bersiaplah untuk selalu bisa menjawab pertanyaan “mengapa begini, mengapa begitu…” Dan dari trip kemping terakhir saya bersama mereka di Taman Mandalawangi, saya masih hutang 1 jawaban atas pertanyaan Kekek “Tante, what that greeny thing eat?” Apa yang dimakan oleh hijau-hijau (lumut) itu?, maksudnya… Nah loh! Ada yang tahu apa makanannya lumut coba?

Kalau mau mengikuti petualangan keluarga seru ini, silakan dibaca di: keluargabackpacker.wordpress.com

Keluarga Backpacker

Keluarga Backpacker

Share: