Trek Dari Ciboleger ke Baduy Dalam
Sebelum Melangkah

Sebelum Melangkah

Saya suka sekali jalan kaki. Bagi saya, jalan kaki itu terkadang seperti terapi. Berjalan teratur di trotoar yang rapi, sambil mengamati tingkah polah orang di jalan, kadang ada yang membuat geli, tak jarang juga menemui yang bikin emosi. Itu tentang jalan kaki di kota, di atas trotoar yang tidak menguras tenaga. Lalu bagaimana ceritanya kalau jalan kaki naik turun bukit, keluar masuk ladang dan hutan selama (total) lebih dari 8 jam?

Trekking bukanlah hal yang baru bagi saya, meski tak begitu ahli soal naik gunung, paling tidak saya pernah jalan kaki di alam terbuka, dari mulai Cunca Wulang di Flores, hutan hujan tropis di Taman Nasional Tanjung Puting, Curug Sawer di Situgunung – Sukabumi, hingga yang trekking sejuta umat seperti di Bromo. Tetap saja, demi mendengar harus jalan kaki hingga 5 jam sekali jalan untuk menuju Baduy Dalam, saya jiper juga. Belum lagi saya tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan fisik secara khusus untuk perjalanan kali ini.

Beruntung saya pergi dengan orang yang memang tahu tips n trick menjelajahi alam, Simbok Miki. Bersamanya, meski ga bisa sepenuhnya manja-manjaan, saya tahu saya aman. Dua teman jalan lainnya, KaLejid dan Mba Astrid, juga teman jalan yang menyenangkan. Kondisi fisik kami 11-12 lah. Jadi ketika salah satu dari kami nge-drop, tidak ada seorangpun yang merasa keberatan harus menunggu.

Tiba di Ciboleger dalam keadaan mual dan hampir masuk angin karena kekurangan oksigen di elf yang penuh sesak, kami memutuskan istirahat sejenak di warung makan Bu Haji untuk memulihkan tenaga. Gang di depan warung Bu Haji basah oleh sisa-sisa gerimis tadi siang. Sebelum berangkat, saya batal memakai sandal gunung karena merasa setelah sedikit lebih kurus, sandal gunung yang memang kebesaran itu makin terasa longgar. Dan sungguh, saya membayangkan memakai sepatu converse ataupun sandal jepit yang saya bawa bukanlah alas kaki yang cocok untuk menjelajah Baduy. Membeli sandal gunung ukuran anak-anak (35) adalah keputusan terbaik saya sore itu.




Trek Dari Ciboleger ke Baduy Dalam

Trek Dari Ciboleger ke Baduy Dalam

Hampir pukul 16.30 kami meninggalkan Ciboleger. Iring-iringan rombongan kami bertambah dengan porter-porter Baduy Dalam: Kang Naldi, Anak Laki-laki Kang Naldi, Kang Yadi, dan Ahmad bocah kecil putra Kang Yadi. Tentang bagaimana “ajaibnya” kami berjumpa dengan mereka, nanti akan saya ceritakan di tulisan terpisah. Simbok Miki bilang, biasanya ia hanya butuh waktu sekitar 20 hingga 30 menit untuk menuju Kampung Gajebo dari Ciboleger. Sore itu, kami menghabiskan waktu hampir 1 jam. Maklum, jalan setapak yang kami lalui sangat licin, dan tentunya karena kami narsis foto di sana-sini. Sebelum maghrib datang, kami sudah sampai di Kampung Gajebo. Selesai mandi dan makan malam, kami tidur awal, mempersiapkan fisik untuk jalan kaki menuju Baduy Dalam keesokan hari.

Pukul 10.18, rombongan kami meninggalkan Kampung Gajebo. Saya mempersiapkan mental, ini akan jadi perjalanan panjang. “5 jam, bukan waktu yang sebentar, Ti.. embrace yourself!” saya berkata pada diri sendiri. Di awal perjalanan, kami menelusuri pinggiran sungai, lalu masuk ke hutan. Tak berapa lama, kami harus menaiki tangga batu untuk masuk ke perkampungan Baduy Luar lainnya. Panas mulai terasa menyengat. Sepertinya kami terlalu siang memulai perjalanan. Lepas dari kampung itu, keadaan tidak semakin membaik. Panas matahari makin menggigit di atas ubun-ubun, jalur yang kami lalui berupa ladang padi, tanpa ada pepohonan sama sekali di sepanjang jalur pendakian. 2 porter kami, Kang Yadi dan Putra Kang Naldi (yang saya lupa namanya siapa, duh!) sudah jalan duluan, saya berjalan perlahan dibelakang Kang Naldi. Dibelakang saya berurutan Kalejid, Mba Astrid dan Simbok Miki. Akhirnya, hampir diujung bukit, ada sebatang pohon duren yang cukup rimbun untuk berteduh. Kang Naldi menunggu saya di sana, saya ikut bergabung beristirahat sambil menunggu rombongan sampai. Lima menit kemudian, Mbak Astrid datang dengan kalimat:

“Boleh istirahat agak lama ga? Darah gw ga naik ke kepala nih…” mukanya pucat pasi. Heat-stroke.

Menyusuri Ladang

Menyusuri Ladang

Kami membiarkannya berbaring di rerumputan. Trus kami ngapain sambil nunggu Mbak Astrid pulih? Mungutin bunga durian. Buat dimasak nanti malam. Yaaah, beginilah nasib 2 anak tiri dibawah tirani Ibu Tiri Simbok Miki.Sekitar 20 menit kemudian, badan Mbak Astrid udah segar lagi, kami melanjutkan perjalanan. Kembali melewati ladang, hutan, perkampungan, hutan, ladang.. begitu terus berulang, hingga sampailah kami di sebuah sungai. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00, dua setengah jam sudah kami berjalan. Perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk membuka bekal makan siang. Karena sudah sedikit mendung, Kang Naldi meminta ijin untuk jalan duluan, takut tas ransel Simbok Miki yang dia bawa kehujanan. Di sebuah batu besar di tepi sungai, kami makan nasi goreng ikan asin dengan lauk telur dadar. Sungguh nikmat!

Bahagia Menyantap Bekal di Tepi Sungai

Bahagia Menyantap Bekal di Tepi Sungai

Siapa sangka, setelah kenikmatan menyantap nasi goreng berlalu, kami harus menghadapi apa yang disebut-sebut sebagai Tanjakan Allahu Akbar. Sebuah tanjakan di lereng bukit dengan kemiringan lebih dari 60 derajat, sepertinya. Tanjakan yang hanya memberikan “bonus” untuk sekedar mengambil nafas sejauh 3 meter, selebihnya kembali menanjak. Tanjakan ini sudah termasuk di dalam kawasan Baduy Dalam, artinya kami sudah tidak diijinkan mengambil foto. Dan berita baik setelah melewati tanjakan Allahu Akbar, trek yang harus kami lalui relatif bersahabat. Jalan setapak landai kira-kira sejauh 15 menit jalan kaki, lalu kami mulai masuk ladang penduduk Baduy Dalam, hutan lindung sebentar, kemudian lumbung desa, meyebrangi sungai kecil, lalu sampailah kami di Kampung Cibeo, salah satu kampung yang di huni oleh Suku Baduy Dalam.

KaLejid yang bertugas sebagai time-keeper mengumumkan waktu “Jam 13:50!”

Wow, kami menempuh perjalanan Kampung Gajebo – Kampung Cibeo dalam 3 jam 30 menit! Satu setengah jam lebih cepat dari waktu yang kami perkirakan. Itu sudah termasuk dengan istirahat 2 kali yang terhitung lama (nunggu Mbak Astrid pulih dan belanja kain di Kampung Cibungur), serta 1 kali istirahat makan siang. We called it achievement!

Sisa perjalanan pulang, nanti saya ceritakan di Part 2 ya….

Share: